
Oleh: Timy (Kontributor)
Di langit yang selalu kuning tanpa matahari, mereka menebak siapa selanjutnya yang akan menyusul kematian. Dada mereka sesak, entah karena asap atau menahan tangis meratapi nasib baik yang tak kunjung datang. Langit biru.
Sore kemarin, seorang teman meminta doa untuk saudaranya. “Ia di Pontianak,” jelasnya. Kami menelan ludah, seakan ajal yang mengirim pesan. Kami percaya, Tuhan akan mendengarkan doa kami. “Tolong selamatkan dia, Tuhan,” ucap kami berdoa tulus.
Waktu berjalan begitu cepat. Sebuah pesan baru kembali muncul. Tak sampai beberapa jam, saudaranya telah menemui Tuhan, semoga meninggal dalam keadaan baik, katanya. Dada kami menjadi sesak, bukan karena asap melainkan kezaliman yang kami saksikan tak cukup dihentikan dengan doa. Tuhan yang Maha Mendengar, apakah kau hitung caci-maki kami tentang bertambahnya umur pria itu sebagai dosa? Sepertinya tugas-Mu lebih penting untuk datang ke Karhutla.
Foto dan video kobaran api di hutan-Mu tak berhenti lewat di beranda layar kami. Kami saling mengirim postingan seakan-akan api akan padam jika kami berbuat demikian. Untuk pertama kalinya, kami menurunkan tangan yang mengadah. Kami hentikan doa. Kami mulai bertanya.
Di mana Tuhan saat api di hutan tak kunjung padam?
Di mana Tuhan saat anak-anak yang disebut belum memiliki dosa justru tersiksa hanya untuk bernapas?
Pergi ke mana Tuhan saat manusia datang ke hutan dan menciptakan kerusakan?
Pergi ke mana doa-doa yang dikirimkan oleh jutaan umat beragama agar api di hutan segera padam?
Apakah jeritan derita makhluk-Mu sampai padamu, Tuhan?
Kami saling bertanya tanpa satupun dapat memberikan jawab. Tuhan kami begitu misterius, kata satu di antara kami.
Barangkali manusia selalu mencari Tuhan ketika berhadapan dengan penderitaan. Kami mencari-Nya dalam doa, tempat ibadah, bahkan dalam keindahan alam. Namun, di tengah pencarian itu, kami bertanya bagaimana manusia memperlakukan apa yang diyakininya sebagai ciptaan Tuhan?
Kami sering membicarakan keindahan alam dan hutan merupakan bukti Tuhan ada. Kini, kami bertanya apakah bertambahnya umur si perusak hutan juga merupakan bukti Tuhan membiarkan ciptaannya dirusak?
Kami, manusia, disebut sebagai Khalifah alias penguasa di muka bumi. Namun, sepertinya kata ini menjadi pembenar rasa superior kepada alam. Alam telah hidup lebih lama dari manusia, tak sulit baginya untuk meluluhlantakkan kami menjadi butiran tak bersisa. Namun, lagi-lagi, kami, manusia akan menyalahkan alam. Mengapa manusia sering menyalahkan alam atas reaksi yang ditimbulkan yang justru disebabkan oleh tangan-tangan dingin kita?
Tuhan, kata mereka Kau Maha Kuasa. Lebih berkuasa dari apapun yang ada di seluruh alam semesta. Menyelamatkan hutan yang tak seluas rahmat-Mu harusnya menjadi hal yang mudah. Menyelamatkan anak-anak yang menangis kesakitan akibat asap bukanlah tandinganmu. Lalu, kapan tanggal main kau akan bergerak,Tuhan?
Mana yang lebih banyak bekerja antara jempol manusia yang menekan fitur sebarkan ulang peduli karhutla dengan tangan Tuhan yang tidak pernah terlihat saat menyelamatkan umat manusia? Apakah Tuhan lebih suka datang ke tempat ibadah di mana namanya banyak dipuja dibanding menyelamatkan ribuan hamba-Nya yang hampir mati karena asap milik-Nya?
Siapakah pemilik asap ini? Kaukah Tuhan? Atau mereka yang berlagak seperti Tuhan?
Apakah Kau tidak marah saat seseorang mengambil posisi-Mu Tuhan?
Penguasa kami berlagak seperti Tuhan. Mereka mengendalikan api dan menciptakan neraka di hutan Kalimantan dan Papua. Mereka memiliki kekuasaan untuk menyiksa. Sesuatu yang selalu kau peringatkan di ayat-ayat-Mu jika kami berbuat dosa. Akan tetapi, siapa yang berdosa di sini Tuhan? Kami yang hanya ingin hidup tenang atau mereka yang menghancurkan alam demi keuntungan?
Mereka merasa berhak atas hutan-Mu. Mereka merasa berkuasa atas tanah-Mu. Hukum yang mereka buat lebih kuat digunakan di negara ini, dibandingkan hukum-Mu.
Tuhan, jika kau memang ada di Karhutla, padamkanlah apinya.
Tuhan, jika kau memang ada untuk hamba-Mu, lindungilah mereka.
Tuhan, jika kau memang ada di negara ini, tunjukan kuasa besar Mu.
Hukumlah mereka yang terkutuk. Hukum mereka yang berada di istana putih mewah dan sedang merayakan penderitaan manusia. Hukum mereka yang mengambil uang bencana. Hukum mereka yang tidak segera menetapkan status bencana nasional. Hukum mereka semua yang sesuai sabda-Mu disebut sebagai perusak.
Salah seorang dari kami, membacakan kalimat yang ia dapatkan dari buku untuk Tuhan.
“Menunggu surga terlalu lama untuk kami. Jika ketidakadilan adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan surga, maka kami lebih memilih untuk tidak mendapatkan surga. Surga pada siapa, kami tak tau akan diberikan. Tetapi keadilan, sudah seharusnya diwujudkan,” gugatnya.
