Kampus yang Fatherless 

Oleh: Timy (Kontributor)


Hari itu, aku bertanya kepada seorang saudara, “Bagaimana pendapatmu tentang ayah kita?” Ia terdiam beberapa saat. Dahinya berkerut. “Ayah? Ayah yang mana?” 

Aku menyebut namanya. Namun wajahnya tetap kosong, seolah aku baru saja menyebut nama seseorang yang tak pernah hidup di rumah ini. Mungkin dia pikun, husnuzanku. 

Aku beralih ke saudara yang lain dan mengajukan pertanyaan yang sama. Ia menggeleng. Saudara di sebelahnya ikut menggeleng. Ada satu saudara yang mengetahui namanya, tapi saat aku bertanya, bagaimana pendapatnya tentang ayah, ia justru terdiam. Melihat ke atas plafon yang terdapat bintik-bintik hitam akibat air hujan yang merembes. Ia menyerah, ia tidak tahu apapun. 

Hampir genap dua tahun aku dan saudara-saudaraku di rumah ini. Tentu bukan waktu yang singkat. Cukup lama untuk mengenal seseorang dan mengenal karakternya. Bukankah aneh rasanya ketika sebuah keluarga tidak mengenal nama kepala keluarganya sendiri? 

Aku juga baru mengenalnya akhir-akhir ini. Tapi bukan secara langsung. Aku mengetahuinya dari layar kaca dan papan-papan iklan besar di jalanan. Namanya tiga kata dengan banyak gelar. Tetangga mungkin akan berpikir ia hebat dan berkharisma. 

Suatu hari, saudaraku mengeluh, uangnya kurang untuk bisa tetap berada di rumah kami. “Coba minta pada ayah,” ucapku. Setelah mengucap itu, kami terdiam. Saudaraku benar, ayah yang mana? 

Setahuku, ayah adalah tempat kami meminta pertolongan, petunjuk untuk kebingungan, pemberi solusi setiap ada masalah. Aku dan saudaraku tidak mendapatkannya sejak kecil. Sekarang kami mencoba membayar untuk mendapat sosok itu. Tidak murah, tapi tidak mahal juga katanya, jika dibandingkan keluarga tetangga. 

Akan tetapi, sepertinya bayaran kami kurang. Kami tetap fatherless. Saudaraku bahkan menyerah dan merelakan untuk tidak memiliki keluarga lagi. Kami yang tersisa mengumpulkan uang receh bersama-sama. Entah sejak kapan kami berhenti berpikir untuk mencari ayah. Tapi, ayah, mana tau ada saudara kami yang akhirnya pergi? Ia hanya sibuk membangun taman bunganya, sedangkan kami layu di sini. 

Tapi, kemarin beberapa saudaraku sepertinya sudah muak. Mereka marah. Mendatangi singgasana ayah. Mereka berseru memanggil. “Ayah, keluarlah. Kami ingin melihatmu,” ucap seorang lelaki berbaju biru. Mata mereka berbinar, berharap wajah itu akhirnya muncul dari balik pintu. 

Seseorang di antara kami berbisik. “Jangan terlalu berharap agar tidak kecewa.” Tidak ada yang menanggapi. Pintu itu tetap tertutup, yang keluar justru beberapa paman berbaju hitam. Saudara-saudaraku marah. Mereka kecewa, ayah mereka tidak mau bertemu.  

Mereka—saudara-saudaraku—berseteru dengan paman-paman itu. Mereka memperlakukan kami seakan perampok yang ingin menghancurkan rumah kami sendiri. Rumah yang kami bayar. Walaupun pada akhirnya, kami saling meminta maaf. Kami dan paman adalah orang yang sangat butuh hadirnya ayah. 

Tidak lama, saudara-saudaraku dikumpulkan di suatu ruang oleh wali ayah. Berharap mendapat petunjuk, tapi nihil. Kami tidak pernah benar-benar ingin membencinya. 

Kami hanya ingin sekali saja, ia mendengar kami tanpa harus diterjemahkan oleh orang lain. 

Kami hanya ingin sekali saja, ia pulang dan berbicara kepada kami. 

Kami mendambakan ayah yang dapat melindungi kami. Menjamin bahwa tidak ada yang perlu kami takuti. Bahkan terhadap rumor bahwa masa depan kami suram. Tapi semakin lama, kami juga mulai takut. Takut tidak akan pernah percaya lagi pada siapa pun yang datang setelahnya. 

Setelah hari itu, aku mendengar cerita bahwa seseorang melihat ayah di bandara. Katanya ia sedang bersiap pergi lagi. Saudara yang lain hanya tertawa pelan. “Rumah kita sedang bocor,” katanya, “tapi ayah sedang sibuk pergi.” Sebenarnya, kami lelah dan muak harus mengeluh setiap saat. 

Kami harus mencari ayah ke mana lagi? 

Apakah dia ada di taman-taman yang sedang dibangun itu? 

Atau di taman yang baru saja jadi? 

Atau di acara-acara yang selalu terlihat rapi di layar? 

Atau di rumah baru yang bahkan kami tidak tahu letaknya? 

Kami akhirnya paham. Mungkin ayah memang ada. Tapi tidak pernah benar-benar untuk kami. Kami mengalami fatherless dua kali. Kudengar kabar terbaru, ayah kami akan berganti, entah jadi ibu atau ayah. 

Kami hanya tidak ingin kehilangan peran pemimpin keluarga. Tiga tahun telah kampus ini fatherless ternyata. Sudah selama itu kami kebingungan. Kami bertanya-tanya. Ayah, ini arahnya kemana?

*Penulis merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Versi cetak artikel ini terbit dalam Tabloid Institut Edisi LXXI dengan judul yang sama. 

Previous post Transformasi Perguruan Tinggi di Tengah Industrialisasi