Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain ruru dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/u1561678/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Kiprah Partai Islam di 2014 – LPM INSTITUT

Kiprah Partai Islam di 2014

Diskusi Publik dan Buka Puasa Bersama bertemakan Respon Kelompok Islam Terhadap Pemilu 2014 di Aula Student Center, Rabu (17/7).

Perolehan suara partai Islam seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) semakin surut pada dua kali pemilu terakhir. Sedangkan pada tahun ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sedang mengalami cobaan dari Allah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, Khalil Ridwan pada diskusi publik yang bertema Respon Kelompok Islam Terhadap Pemilu 2014. Kurangnya dukungan terhadap partai Islam menurutnya, dikarenakan kesadaran umat muslim akan politik, padahal Islam adalah agama dan negara.

Ia menambahkan, Islam mencakup ekonomi, agama, dan politik. Selain itu, politik yang merupakan bagian dari dakwah juga dapat disosialisikan melalui masjid. “Masjid harus menjadi pusat kegiatan umat termasuk politik, dirikan pengajian politik islam,” tuturnya, Rabu (17/7).

Khalil berpendapat, ustaz ataupun kiai-kiai dapat memanfaatkan jemaahnya untuk memilih pemimpin sesuai dengan pilihan kiainya. Caranya dengan mengundang jemaah ke pesantren, kemudian diberikan ceramah tentang politik lalu diberi uang. Dengan begitu ia optimis partai Islam akan mendulang suara yang banyak.

Tidak sependapat dengan Khalil, Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Gun Gun Heryanto melihat hal yang dilakukan kiai seperti itu merupakan bagian dari transaksional politik dan kapitalisasi suara. “Persuasif boleh, tapi masyarakat punya hak suara,” tegasnya.
   
Menurutnya, pesantren dapat dijadikan lumbung pemberdayaan umat, sehingga umat mendapatkan pendidikan politik yang baik. Ia tidak setuju jika pesantren dijadikan lumbung perolehan suara.

Bila partai Islam terus mengandalkan transaksional politik dan kapitalisasi suara, bagi Gun Gun hal tersebut mudah dikalahkan oleh partai nasionalis lain yang memiliki banyak modal dan bisa memanfaatkan media untuk sosialisasi. “Penyebab berkurangnya perolehan suara pada partai Islam juga dikarenakan kasus korupsi yang dilakukan oleh kader partai Islam,” tegasnya. (Dewi Maryam)

Tinggalkan Balasan

Previous post Modifikasi Paradigma Beragama
Next post Evaluasi Dosen Memberatkan Mahasiswa