
Karhutla kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia imbas kerusakan ekosistem gambut yang disebabkan tata kelola yang buruk dan pembukaan lahan.
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Kalimantan Barat yang menjadi sorotan publik. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Peringatan Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pada 2022, total luas karhutla ini mencapai 204.894 hektare. Provinsi dengan luas karhutla terbesar pada tahun tersebut adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan 70.637 hektare.
Lalu, luas karhutla melonjak tajam pada 2023, total luas karhutla mencapai 1.161.192 hektare—menjadi angka tertinggi dalam lima tahun terakhir—Kalimantan Selatan menjadi penyumbang karhutla tertinggi di tahun tersebut, dengan luas 190.394 hektare.
Memasuki tahun 2024, luas karhutla mengalami penurunan dengan total luas sekitar 376.805 hektare. NTT kembali menjadi penyumbang terbesar, yaitu mencapai luas 113.089 hektare. Selanjutnya karhutla kembali terjadi pada 2025 dengan total luas 359.619 hektare.Serupa dengan tahun 2022, NTT menjadi penyumbang terbesar, dengan total luas sekitar 118.409 hektare.
Kemudian, pada 2026, karhutla kembali terjadi dengan luas mencapai 202.010 hektare. Kalimantan Barat menjadi penyumbang terbesar pada tahun ini, mencapai 38.310 hektare.Karhutla yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera berdampak juga pada kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 113.336 orang di tujuh provinsi Sumatera dan Kalimantan terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Guna mengetahui fenomena karhutla yang berulang di Indonesia, pada Jumat (11/9), Institut mewawancarai Juru Kampanye Hutan Greenpeace, Belgis Habiba. Wawancara tersebut membahas mengenai karhutla yang terjadi berulang di Indonesia, akar persoalan, dan dampak karhutla itu sendiri.
Apa akar persoalan karhutla dan mengapa bencana tersebut terus terjadi setiap tahun?
Belgis memandang, karhutla bukan bencana alam. Karhutla merupakan bencana yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia, sehingga bisa dicegah dan dimitigasi. Namun Belgis memaparkan karhutla terus berulang karena akar masalahnya adalah tata kelola yang salah dan kerusakan gambut. Kerusakan gambut berkaitan erat dengan pembukaan lahan dan pembangunan kanal yang dilakukan oleh perusahaan.
Seberapa besar dugaan pembakaran hutan oleh para perusahaan untuk membuka lahan?
Belgis menjelaskan, kerusakan gambut berkaitan erat dengan pembukaan lahan dan pembangunan kanal yang menyebabkan lahan gambut kehilangan kondisi alaminya yang basah. Ia mengungkapkan, kanal-kanal tersebut digunakan untuk mengeringkan air di lahan gambut, sehingga lebih mudah dibakar. Kanal itu seukuran sungai Citarum, lebarnya mencapai 10 sampai 15 meter dan kedalamannya sekitar 10 meter. Ketika dikeringkan, lahan gambut itu jadi rentan terbakar, karena menjadi hidrofobik.
Menurutnya, persoalan tidak akan selesai jika penanganan hanya berfokus pada mencari pihak yang membakar lahan. Ia menilai, pendekatan tersebut berpotensi menyebabkan kriminalisasi terhadap masyarakat yang menggantungkan hidup dari lahan, termasuk petani.
Belgis mengatakan, perusahaan yang sedang membuka kanal di lahan gambut perlu menjadi bagian dari pembahasan mengenai akar persoalan karhutla. Ketika gambut telah mengering, api dapat mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Belgis menuturkan kesalahan bermula ketika perusahaan atau korporasi besar, membangun kanal yang mengeringkan gambut, hal itu menyebabkan apa pun yang dilakukan gambut menjadi rentan.
Apa dampak karhutla bagi negara-negara tetangga?
Dampak karhutla juga tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sekitar tetapi juga menyebar ke negara-negara lain, contohnya Malaysia, Singapura, Filipina. Belgis menyebut, asap karhutla telah berdampak pada sejumlah provinsi di Kalimantan dan Sumatera. Diperkirakan sekitar 38 juta orang terdampak atas peristiwa karhutla ini.
Selain berdampak pada kesehatan, karhutla ini juga mempunyai dampak kepada aspek sosial dan ekonomi. Belgis menyebut, kerugian negara akibat karhutla mencapai puluhan hingga ratusan triliun. Akibat karhutla, estimasi kerugian negara itu sekitar Rp30 triliun hingga Rp123 triliun.
Langkah ke depan yang harus dilakukan pemerintah agar karhutla ini tidak terjadi lagi?
Berulangnya karhutla memunculkan pertanyaan mengenai langkah yang harus dilakukan pemerintah agar kebakaran tidak terus terjadi setiap tahun. Menurut Belgis, langkah utama yang harus dilakukan adalah menyelesaikan akar masalah, yakni kerusakan ekosistem gambut.
Ia menilai, penanganan yang hanya dilakukan setelah kebakaran terjadi tidak cukup untuk mencegah karhutla pada masa mendatang. Kalau pemerintah tidak menyelesaikan akar masalah karhutla, kerusakan gambut, maka karhutla akan terus terjadi pada tahun-tahun selanjutnya.
Reporter: Muhammad Firda Hasan
Editor: Naufal Fauzan
