Teknologi Berkembang, Jasa Tukang Becak Tumbang

Read Time:2 Minute, 3 Second

Perkembangan Teknologi dalam hal transportasi tak selalu berdampak baik pada masyarakat luas. Semenjak keberadaan ojek online, jasa tukang becak mulai ditinggalkan.


Berkembangnya teknologi dalam bidang transportasi memberi dampak kurang menguntungkan bagi para penyedia jasa transportasi tradisional. Namun hal ini tak mengurangi semangat para tukang becak di Ciputat untuk menawarkan jasa antarnya. Di antara macetnya jalanan Ciputat pagi hari, terlihat beberapa becak berjejer di pinggir jalan dekat gang Sekolah Triguna Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Sutomo, salah seorang tukang becak menceritakan bahwa dirinya sudah menjalankan profesi tersebut sejak lama, bahkan sebelum UIN Jakarta dibangun. Namun seiring berjalannya waktu penumpang semakin berkurang, ditambah hadirnya pandemi sejak 2019 yang membatasi mobilitas masyarakat. “Sekarang susah cari orderan, ada covid, ada ojek online, kalo anak sekolah ya diantar-jemput orang tuanya,” ucapnya, Selasa (15/11).

Sutomo mengungkapkan, tukang becak merupakan pekerjaan utamanya. Ia menghabiskan waktu 12 jam, dimulai dari jam tujuh pagi, untuk mangkal—menunggu penumpang—di kawasan tersebut. Terkadang memang ada pekerjaan lain yang ditawarkan padanya, namun hanya berupa proyek kecil-kecilan saja. 

Sutomo lanjut mengatakan, jumlah tukang becak di wilayah Kampus UIN Jakarta jauh berkurang semenjak berbagai aplikasi ojek online bermunculan. Sebagian besar mereka kembali ke kampung untuk mendalami profesi lain.

Rata-rata penumpang becak dalam sehari, ujar Sutomo, berkisar antara dua sampai tiga orang. Ia mematok harga Rp10 ribu untuk perjalanan jarak dekat, namun seringkali penumpang menambahkan upah lebih untuknya. “Dua kali, tiga kali paling banyak. Susah kadang-kadang buat makan nggak cukup,” ujar Sutomo.

Kesulitan dalam mencari penumpang juga dialami oleh Ashari, penyedia jasa transportasi becak lainnya. Ia biasa mengantar penumpang ke Jalan Semanggi, Kampung Utan, hingga Kampus Dua UIN Jakarta. 

Lain halnya dengan Sutomo, Ashari memilih menyelesaikan pekerjaannya pada jam lima sore. “Kalau saya sih, asal ada tarikan ke arah rumah saya dan udah sore, ya saya langsung pulang aja, insya Allah rezeki juga ada yang ngatur,” ujarnya, Rabu (16/11).

Ashari membandingkan target penumpangnya yang bergeser semenjak berkembangnya moda transportasi online. Dahulu pengguna jasanya banyak berasal dari kalangan mahasiswa, namun sekarang mahasiswa lebih memilih transportasi online yang dianggap lebih praktis dan murah. 

Oleh karena itu, penumpangnya kini lebih banyak dari kalangan ibu rumah tangga. “Emang di sini awalnya banyak, tapi sekarang kan udah pada masing-masing. Ya, paling sepuluh orang yang masih mangkal di sini,” ungkapnya.

Bicara soal pendapatan harian, Ashari mengaku tidak menargetkannya. Namun, ia bersyukur lantaran masih bisa memenuhi kebutuhan keluarganya selama ini, termasuk untuk membayar kontrakan. 

Reporter: SDC

Editor: Ken Devina

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
50 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
50 %
Previous post Marak Kejahatan Penipuan Online
Next post Momentum Menag Memilih Rektor