Tertinggal di Nasional, Bermimpi Internasional

Read Time:3 Minute, 44 Second
Ilustrasi: Jong

Wacana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menjadi World Class University (WCU) bak panggang jauh dari api. Di tingkat nasional saja, UIN hanya mampu bertengger pada posisi 41. Posisi tersebut berdasarkan The “Webometrics Ranking of World Universities”, sebuah kelompok riset nonprofit asal Spanyol.

Secara sederhana, WCU adalah sebuah universitas yang memiliki standar-standar internasional dan juga diakui secara internasional, baik dari kualitas dosen, program, dan fasilitasnya. Sebagaimana yang dikatakan Hanna HB. Iskandar, Ketua Badan Penjaminan Mutu (BPMA) Universitas Indonesia (UI) Depok, Kamis (7/3).

Namun, realitasnya UIN belum sanggup mencapai hal tersebut. Mengingat, minimnya program dan fakultas bertaraf internasional. Bahkan tempo lalu, salah satu kelas internasional di jurusan Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) ditutup.

“Mau internasional tetapi tak memiliki jurusan dan akreditasi internasional, itu omong kosong,” tegas Hanna ketika ditemui di ruang kerjanya, gedung rektorat UI, lantai 7.

Menurut orang nomor satu di BPMA UI, ada beberapa langkah yang harus dilakukan universitas untuk menuju kampus kelas dunia. Pertama, universitas harus sadar diri, bagaimana kondisi mutu internalnya. Setelah itu universitas harus sering melakukan evaluasi secara rutin.

Evaluasi tersebut meliputi evaluasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Dengan begitu, universitas bisa mengetahui di mana posisi universitasnya dan apa yang sudah dicapai. Langkah selanjutnya, melakukan akreditasi nasional. Jika tahap kedua sudah berhasil, barulah universitas melakukan persiapan menuju akreditasi internasional.

Sementara itu Reny Yunus, Ketua Lembaga Penjamin Mutu Perguruan Tinggi. Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), Kemendikbud, mengatakan, sebelum menjadi WCU, UIN harus mampu bersanding dengan universitas sekelas UGM, ITB, dan UI. Namun, ada beberapa indikator yang harus dipenuhi. Indikator tersebut sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).

SNP meliputi proses pembelajaran, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga pengajar, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, penilaian pendidikan, penelitian dan publikasi, pengabdian pada masyarakat, menajemen lembaga, sistem informasi dan kerjasama dalam dan luar negeri.

Tridarma, Kunci World Class University

Menurut pakar pendidikan Indonesia, H.A.R Tilaar, universitas  tak perlu mencari standar WCU untuk universitasnya. Kerena setiap universitas telah memiliki pondasi untuk membangun WCU yakni, Tridarma Perguruan Tinggi.

Lanjutnya, universitas tinggal menguatkan pondasi tersebut. Misalnya, pada poin pertama yang menitikberatkan pada peningkatkan pengajaran. Untuk meningkatkan pengajaran diperlukan dosen-dosen yang memiliki pengalaman serta memiliki gelar doktor dan profesor.

Poin kedua, penelitian. Sejauh mana UIN memiliki penelitian yang terakreditasi internasional? Hingga Maret 2013, UIN baru memiliki 29 jurnal yang diterbitkan dari berbagai prodi, fakultas, dan pusat studi. Namun sayang, jurnal yang terakreditasi baru secara nasional dan bisa dihitung dengan  jari.

Di antaranya, Jurnal Studia Islamica yang diterbitkan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) dan jurnal Ahkam dari Fakultas Syariah dan Hukum (FAH).

Padahal menurut Tilaar, jurnal ilmiah menjadi salah satu syarat terpenting untuk menuju kampus kelas dunia. “Jangan hanya memiliki banyak profesor dan doktor, tapi tidak bisa memuat jurnal ilmiah. Itu namanya profesor, doktor, tapi tolol,” kata Tilaar, Kamis (21/2).

Poin selanjutnya, pengabdian pada masyarakat, yaitu universitas memiliki mahasiswa dan  alumni yang mampu memberdayakan masyarakat dan perekonomian nasional.

UIN di Kancah Internasional.

Mengutip hasil peringkatan universitas tingkat dunia, Wobemetrics yang dirilis Januari lalu, menempatkan UIN di posisi 41 tingkat nasional dan  2785 pada tingkat dunia. Sedangkan UGM, ITB, dan UI masing-masing berada pada posisi tiga teratas tingkat nasional dan peringkat 440, 497, dan 581 dunia. Dari data tersebut menunjukan perbedaan jarak yang signifikan.

Pada kancah nasional, dua universitas Indonesia yang bercorak Islam lainnya yakni, Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berada pada posisi masing-masing 16 dan 35 tingkat nasional, Selasa (12/3).

Kamis, (6/3), Selepas adzan Zuhur di kafe cangkir lt 2, ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPJM) UIN, Achmad Syahid, menanggapi, Wobemetrics tidak bisa menjamin mutu universitas baik atau tidak, karena penilaian Webometrics berdasarkan pada situs web sebuah universitas.

Dilihat dari visibilitas (bobot 50%), Google Scolar dan Scimago (bobot 30%) dan sisanya kekayaan konten dan ukuran web memiliki skor masing-masing 15%.

Lantas, mengapa pada penilaian yang berdasarkan tampilan web, UIN belum bisa menduduki posisi terbaik? Dan bagaimana jika UIN mengunakan standar penilaian THES (The Higher Education Suplement)-QS (Quacquarelli Symonds)?

Penilaian THES menitikberatkan pada empat indikator, yakni Kualitas Penelitian (bobot 60%), kriteria Pandangan Internasional (bobot 10%), kualitas Pengajaran (bobot 20%), dan kesiapan kerja lulusasssssn universitas (bobot 10%).

Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, posisi UIN hingga tahun 2013 masih belum dapat masuk dalam World Class University. Kriteria yang dikeluarkan THES jika direfleksikan dengan kondisi UIN terasa sangat berat. “Untuk memenuhi standar THES sepertinya sulit,” ujar Syahid yang juga dosen Fakultas Psikologi. (Nur Azizah)

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Tapol: Rindu Tanah Air
Next post UI Ciptakan Mobil Ultraefisien