Gazal

Read Time:2 Minute, 36 Second
Ilustrasi. (Sumber: Internet)

Oleh: Tri Wibowo*
Hari masih terlalu pagi tanpa rapal–rapal pengharapan. Pagi masih terlalu  berkabut   bagi bising mesin-mesin  berdoa. Pukul lima kurang lima, sisir usai menjamah kepala berselaput Pomade,  kancing-kan-cing kebosanan usai pula menyisakan satu kegelisahan, bosan di antara kerah yang sengaja tak dikaitkan. Setelan kaki cengcorang berbalut kaus kaki. Pula bersenada dengan rapat berpeluk celana bahan. Hindari tiap lekuk kerut dari kekenyalan.
Kepada cermin, sebaris gigi menyeringai merdu, “…calon guru.”
Hari masih terlalu pagi tanpa desau-desau perisau.Pagi masih terlalu     berkabut bagi denting cucian piring-piring. Selembar roti tanpa remah coklat, siap saji sedari semalam. Menjadi teman paling setia, bagi bulan-bulan menjelang penghabisan. Seraya mengunyah; sekutu buku-buku masuk ke dalam barak bernama  Goodiebag setinggi siku; mencocok kedua kaki pada masing-masing sepatu.
Di muka beranda, mantap hati berjanji, “…berangkat.”
Bug! Bunyi pintu kamar buyarkan segala. Semesta angan. Seisi kepala. Menyudahi lamunan.
Kaswary, lelaki paruh bingung. Mahasiswa semester pertengahan fakultas keguruan. Di salah satu universitas kenamaan di kota Siuman. Sedari bangun tidur, ia masih saja berdiri di depan cermin kerelaan.
“Masih terlalu pagi tanpa secangkir lamunan. Pagi masih terlalu berkabut bagi mata. Menyaksi muluknya keinginan. Cita-cita. Penderitaan.”
Kaswary menggamit handuk. Masuk kamar mandi.
Kaswary menggamit handuk. Keluar kamar mandi.
Pundi pakaian kotor kian bertumpuk. Melambai pisah. Cukup ditinggalkan. Kasihan.
***
Sambil tersenyum dan tanpa beban. Sepanjang jalan tarik perhatian. Mata kuliah metode pendidikan, pelajaran pokok yang tak masuk hitungan. Membeban dalam pikiran.
Rambutnya  panjang. Dibiarkan tergerai. Wajahnya berewokan. Rapi tak bengkalai. Celana blue jeans  bolong dengkulnya. Mengukir sempurna. Tak mengecewakan.
Matahari kikuk. Setengah frustasi. Menembus hela ubun kepala. Menguapi rambut Kaswary hingga ranggas. Tentulah tak bisa. Seperti nyala petromak, tiap langkah tak luput mengawal. Seperti selebriti di panggung spekta, langkah Kaswary terawasi gemas.
Di muka jalan, langkah terhenti. Di belang zebra, menuju seberang. Jelaga akademika sudah di muka, tiba di depan muka. Dari muka yang zebra hingga belang–belang, adalah pula di sana sebagai penghuninya. Kaswary enggan, setengah berpaling dari niat seperginya. Menimbang bimbang dalam gamang, “…masuk kelas tidak, ya?”
Rupa–rupa resah, tak kalah sergah. Kaswary kalah.
Rupa–rupa resah, tak kalah sergah. Kaswary menang.
Tak jadi mengalah.
***
Di muka kubus menahan siklus, sayup–sayup spiritus mulai terendus. Dari aroma ilmu dalam sarkofagus. Kaswary tenang, rupanya Ayahanda sudah berbaring lebih awal di dalam. Memereteli satu persatu ilmu, dari kerangka fosil-fosil bernama silabus serupa papirus.
Ketuk pintu, gerendel setengah merukuk. Seraya mengucap salam seadanya, masuklah jua Kaswary menghampiri pembaringan Ayahanda. Meminta salim.
Sayang bayang teramat kepayang, telapak ramah Kaswary dibiarkan saja. Begitu, dan selalu saja. Laksana cinta para kawula, rapat telapak seakan terbiasa bertepuk sebelah.
Tanpa dasar falsafah, tata atur peraturan diatur terlampau mengatur. Atasnamakan norma yang luhur, dalam pertimangan yang mabrur. Sementara keluhuran, makna yang mana dari salam-salim tak bersilang. Ayahanda, yang terberkati kilau di kepalanya. Nasihatmu begitu sibuk mengurus rambut gondrong, kerah baju, dan sepatu.
“…ah engkau, Kaswary. Silakan masuk kelasku di lain waktu,” katamu dari dulu, dari semasa mudamu yang sudah botak begitu.

*Penulis adalah mahasiswa semester 4, Jurusan Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, UIN Jakarta

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Butuh Sinergi
Next post Mahasiswa Tak Puas dengan Bidikmisi