Ongkos Mahal Fasilitas Abal-abal

Read Time:3 Minute, 37 Second
Biaya kuliah UIN Jakarta. (Sumber: Internet)

Fasilitas yang didapat mahasiswa kelas Internasional tak sebanding dengan biaya kuliah yang dibayarkan. Mahasiswa pun mempertanyakan haknya.

Pengantar bilingual, Bahasa Inggris atau Bahasa Arab dalam kegiatan belajar mengajar sudah tak lagi dirasakan Mahasiswa Manajemen kelas internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Muhammad Anugrah Asshidiq. Padahal, Bahasa Inggris menjadi pengantar wajib di kelas internasional.

Sejak dua tahun terakhir, Didit, sapaan akrabnya, memang sudah tak lagi mendapati dosen yang menggunakan  pengantar Bahasa Inggris saat belajar di kelas. Itu tak sebanding, mengingat biaya kuliah yang harus Didit bayar Rp6 juta—dua kali lipat lebih besar dari mahasiswa kelas reguler—tiap semesternya.

Ketidakselarasan antara fasilitas dan biaya juga dirasakan Mahasiswa Teknik Informatika (TI) Internasional Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Muhammad Fadil Lubis. Sedangkan, ia harus membayar uang semester lebih dari Rp10 juta tiap semesternya, lebih mahal Rp8 juta dari kelas reguler. Laptop yang harusnya ia peroleh di semester satu juga hanya sebatas wacana. “Padahal, laptop jadi fasilitas kelas internasional jelas tertera di brosur,” katanya, Senin (18/5).

Sebagai salah satu program unggulan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hisayatullah Jakarta menuju Word Class University (WCU), kelas internasional memang punya tarif khusus bagi para mahasiswanya. Dari total 12 fakultas, UIN Jakarta hanya membuka enam prodi kelas internasional di empat fakultas: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Prodi Hubungan Internasional (HI), FST di Prodi TI dan Sistem Informasi (SI), FEB di Prodi Manajemen dan Akuntansi, dan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) di Prodi Perbandingan Mazhab Hukum Khusus (PMHK).

Dari enam prodi di empat fakultas itu masing-masing memiliki biaya kuliah berbeda-beda. Di FST, prodi TI dan Sistem Informasi (SI) sebesar Rp10.625.000 per semesternya. Sedangkan di FEB, prodi Manajemen dan Akuntansi mematok biaya Rp5.840.000. Dan Rp5.840.000 untuk biaya kuliah prodi Hubungan Internasional (HI) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Dalam brosur kelas internasional, disebut beberapa fasilitas yang harusnya didapat para mahasiswa, seperti ruang kelas ber-ac, laptop, student lounge (ruang diskusi), dan pengantar Bahasa Inggris atau Bahasa Arab. Selain itu, mereka juga bisa visiting study (studi ke luar negeri), memperoleh double degree (memproleh dua gelar), dan  praktik kerja lapangan (PKL) di beberapa negara mitra seperti Malaysia, Australia, dan Jerman. Namun, lebih dari satu tahun belakangan semua fasilitas tak dirasa semua mahasiswa kelas internasional.

Menanggapi hal itu, Dekan FST, Agus Salim mengatakan, sebenarnya pihak fakultas sudah menganggarkan biaya pembelian laptop. Namun, pihak Keuangan UIN Jakarta menolak ajuan dari fakultas. Hal ini lantaran menyalahi aturan Kementerian Keuangan RI nomor 53/PMK.02/2014. Dalam aturan tersebut, dilarang adanya biaya pengadaan barang non konstruksi termasuk laptop. Di sisi lain, Agus pun tak menampik ketiadaan laptop bagi mahasiswa Internasional FST.

Menyoal program double degree, Mahasiswa TI Internasional, Isyroqi Rahmanul Galby mengaku kecewa dengan program yang ditawarkan. Selama tiga tahun lebih, ia tak mendapat pemberitahuan dari pihak kampus tentang biaya double degree dan student exchange yang harus ia tanggung. “Sayatahu dari senior,” kata Galby, Kamis (21/5).

Terkait hal itu, Agus menjelaskan, sejak awal perkuliahan, pihak fakultas sudah memberitahu mahasiswa kelas internasional bahwa biaya program double degreeditanggung masing-masing mahasiswa. “Baik fakultas maupun universitas, tak memiliki biaya untuk double degree,“ terang Agus, Jumat (22/5).

Ketiadaan dana double degree juga dibenarkan Kepala Bagian Keuangan, Sulamah Susilawati. Ia mengatakan, universitas hanya mengurus administrasi akademik yang syarat-syaratnya sudah dilengkapi mahasiswa.

Sulamah melanjutkan, semestinya fakultas lebih memperjelas isi kerja sama dengan negara mitra. Misalnya, terkait biaya  student exchange dan double degree akan menjadi tanggung jawab siapa nantinya. Bagaimanapun, menurut Sulamah, mahasiswa kelas internasional harus studi ke luar negeri, “Kalau di kandang sendiri, namanya bukan internasional,” ujar Sulamah, Jumat (22/5).

Ia menambahkan, anggaran kelas internasional tiap fakultas berbeda-beda, tergantung dari jumlah mahasiswa. Karena, pemasukan dana kelas internasional hanya berasal dari uang kuliah yang dibayar oleh mahasiswa. “Kecuali, fakultas meminta dana untuk mengadakan seminar atau workshop,” tutur Sulamah.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Abdul hamid menjelaskan, prosedur penganggaran biaya untuk fasilitas kelas internasional, pihak fakultas harus memasukkannya dalam Rencana Biaya Anggaran (RBA), nantinya diusulkan ke Bagian Perencanaan universitas. Setelah  itu, akan diajukan dalam rapat pimpinan untuk diputuskan hasilnya. Terakhir, data akan dibawa ke bagian keuangan.

Anggaran yang dikeluarkan UIN Jakarta untuk kelas internasional, lanjut Abdul Hamid, tergantung fakultas masing-masing. “Pengeluaran fakultas akan disesuaikan jumlah mahasiswanya,” tutupnya, saat diwawancara via media sosial, Sabtu (23/5).

Arini Nurfadilah

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post JK di Balik Perdamaian Aceh
Next post Maraknya Baksos Saat Ramadhan