Menagih Janji Masa Orientasi

Read Time:3 Minute, 13 Second
Image result for masa orientasi animasi
Internet

Oleh: Erika Hidayanti*


Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK) atau yang sekarang telah berganti nomenklatur menjadi Pengenalan Budaya  Akademik  dan Kemahasiswaan (PBAK) sudah menjadi hajat rutin di UIN Jakarta. Tapi, apa sebenarnya yang diinginkan dari adanya masa orientasi ini? Mahasiswa seperti apa yang ingin dicetak kampus, ditentukan dari sini.
Tentu dilihat dari nama yang mana pun masa orientasi seharusnya menjadi ajang mahasiswa baru untuk mengenal kampus. Mulai dari hal-hal akademik hingga kegiatan kemahasiswaan. Kesemua hal tersebut tentu harus diramu secara singkat karena masa orientasi hanya berlangsung selama empat hari.
Sekarang mari kita lihat pelaksanaan masa orientasi tahun ini yang mengusung tema Integrasi Ilmu Pengetahuan dan Agama Sebagai Tiang Pembangun Bangsa. Apakah tema ini sudah mewakili apa yang diharapkan dari masa orientasi? Baiklah saya akui, tema ini cukup baik dan bertujuan cukup mulia dengan ingin mengenalkan integrasi ilmu pengetahuan dan agama pada mahasiswa baru. Hal ini memang merupakan ciri khas kampus UIN Jakarta.
Sayangnya, tema cantik belum tentu akan sebanding dengan pelaksanaan yang cantik pula. Mari kita runut satu-satu, jika mengacu pada buku pedoman dan susunan acara maka hutang pengenalan akademik dan kemahasiswaan sudah cukup lunas saat hari pertama pembukaan masa orientasi. Hari itu, mahasiswa baru dijejali dengan materi akademik mulai dari perpustakaan hingga pusat bahasa. Serta diperkenalkan dengan 17 lembaga kemahasiswaan tingkat universitas.
Namun, apakah kemudian acara tersebut menjamin mahasiswa baru paham? Saya rasa belum tentu. Kita tak bisa menyimpulkan terlalu cepat. Apalagi waktu pengenalan sangatlah terbatas. Hanya 120 menit untuk keseluruhan materi. Meski pada akhirnya untuk materi pengenalan akademik, mahasiswa baru akan tahu dengan sendirinya ketika mereka mulai memasuki kuliah.
Setelah itu, acara apa lagi yang digelar? Di hari yang sama, digelar pula seminar bertajuk anti narkoba dan radikalisme serta training motivasi. Entah untuk melunasi hutang yang mana, namun, kedua materi ini masih belum begitu menggambarkan tema yang diusung masa orientasi tahun 2016 ini.
Masa orientasi tahun ini pun mengundang Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrowi untuk mengisi ceramah kebangsaan yang pada akhirnya mengorbankan waktu pengenalan lembaga kemahasiswaan serta akademik pada sesi kedua. Saya belum tahu lagi materi ini untuk melunasi hutang yang mana, namun, terpenting bagi yang sudah mengundang Pak Menteri tentu harus dihormati dan diberi kesempatan untuk berbicara di depan ribuan mahasiswa baru itu.
Jika ditelaah lagi mungkin saya belum bisa begitu menemukan korelasi antar tema dan materi-materi yang diberikan kepada mahasiswa baru. Belum lagi, kegiatan di luar materi-materi itu yang bahkan tak bisa dikontrol oleh panitia di tingkat universitas sekali pun. Contohnya saja ketika mahasiswa baru disepakati untuk langsung pulang ke rumah masing-masing setelah geladi resik, nyatanya panitia di fakultas tetap mengadakan mentoring setelah acara itu bahkan hingga sore. Padahal, katanya, kegiatan mentoring tahun ini sudah tidak diperbolehkan karena rawan perpeloncoan, entahlah yang mana yang benar.
Mentoring, setahu saya memang dari tahun ke tahun tak begitu banyak mengenalkan kampus apalagi mengenalkan budaya akademik dan kemahasiswaan. Sebagian besar isinya hanya sebagai ajang bagi para senior untuk unjuk gigi di depan juniornya. Ajang mereka untuk menarik simpati. Ajang pamer pihak masing-masing. Ya, masih bersyukurlah jika memang di sela-sela mentoring itu ada ilmu baru yang didapat keluarga baru kampus.
Apapun itu namanya masa orientasi saya hanya berharap bisa memenuhi janji-janjinya yang tertuang pada nama dan tema yang diusung. Bisa mencetak generasi kampus berikutnya yang lebih baik dan tentu cinta kampus, bukan hanya cinta golongan tertentu saja.
Saya rasa, pelaksanaan masa orientasi dengan lebih banyak menampilkan kegiatan kampus dan akademik yang dibuat peragaannya mulai dari universitas hingga jurusan bisa sedikit lebih menarik. Buku saku bagi mahasiswa pun yang lebih lengkap mengenai kegiatan akademik, kemahasiswaan, serta berbagai kebutuhan mereka di kampus akan menjadi pelengkap masa orientasi itu. Mungkin, bisa dipertimbangkan di kemudian hari.
Semoga masa orientasi ini tak hanya menjadi empat hari yang melelahkan dan sia-sia tapi mampu mencetak mahasiswa baru yang lebih baik dari para seniornya. Semoga saja.

*Penulis adalah Mahasiswi FKIK UIN Jakarta

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Yusron: Penerapan PBAK Belum Maksimal
Next post Dana Kurang, Panitia Terpaksa Berhutang