Pesta Rakyat Petani Madura

Pesta Rakyat Petani Madura

Read Time:5 Minute, 52 Second

Pesta Rakyat Petani Madura
Oleh: Moh. Alim

Tradisi kerapan sapi adalah salah satu manifestasi penduduk Madura dari empat kabupaten, sebagai bentuk eksistensi dirinya dalam acara even lokal. Hampir semua penduduk madura ikut berpartisipasi. Bahkan yang bukan etnis madura tetap berkunjung untuk menikmati pada ajang even pacuan sapi.
Kyai Baidawi Dan Etnis Madura

Kuntowijoyo menyebut bahwa tradisi (budaya) khas Jawa Timur adalah sebuah kombinasi pesta rakyat dan pertunjukan kesehatan ternak. Madura sebagai daerah pinggiran mempunyai keragaman tradisi yang unik. Pacuan sapi (kerrap) yang berlangsung turun-temurun adalah salah satu yang menarik perhatian masyarakat luas. Mungkin pacuan sapi lebih awal keberadaanya ketimbang pacuan kelinci yang baru-baru ini sedang marak di kalangan penduduk madura. Kedua hal tersebut memiliki kemiripin dan corak khas masing-masing.

Kerapan sapi atau disebut pacuan sapi tidak lepas dari kehadiran sosok Kyai Ahmad Baidawi. Dia dikenal sebagai Pangeran Katandur. Konon dia adalah kyai penyebar agama Islam di tanah Madura, yakni Sumenep sebagai daerah pertama. Penyebaran itu merupakan perintah langsung dari seorang wali yang sangat berpengaruh di tanah Jawa dalam penyebarkan Agama Islam: Sunan Kudus. Sebelum pengembaraan, Kyai Baidawi dibekali dua tunggul jagung yang masih murni oleh sang guru.

Dalam pengembaraannya di tanah madura, sang kyai berhati-hati dalam mewujudkan tujuan utamanya yakni untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Maka mula-mula ia memilih berbaur dan mendekatkan diri dengan masyarakat. Sang kiyai mengajak dan mengajarkan masyarakat cara bercocok tanam. Dua tunggul jagung yang diberikan oleh sang guru dibaca dengan baik oleh sang kiyai sebagai isyarat ke arah ajakan bercocok tanam itu.

Saya menyebut ini sebagai suatu cara yang tak biasa. Kita tentu tergoda untuk bertanya-tanya. Tetapi saya membaca Madura dalam Empat Zaman-nya Huub de Jonge yang menyebut tanah madura itu kering. Iklimnya panas. Dengan fakta itu, kita dapat mengerti mengapa Sunan Kudus membekali Kyai Baidawi dengan dua tunggul jagung: sang Sunan (sangat) boleh jadi memberi isyarat agar jagung itu ditanam di tanah Madura. Namun soalnya bagaimana jagung itu dapat tumbuh subur di atas tanah (Madura) yang gersang dan panas?

Dalam menjawab pertanyaan itu mungkin pertama-tama kita harus mengetahui latar belakang Sunan Kudus dan Kyai Baidawi selaku muridnya. Dari sisi ini ada praktik ritual yang bernuansa metafisik. Mohammad Kosim – salah seorang dosen IAIN Pamekasan – menjelaskan bahwa keunikan Kyai Baidawi dalam bercocok tanam dengan masyarakat Madura terlihat pada sisi religiusitasnya. Apa yang dilakukan oleh sang kiyai – perihal bercocok tanam di atas tanah yang gersang – merupakan sesuatu yang melampaui rasionalitas manusia.

Dalam setiap bercocok tanam, tak lupa dia menyelipkan ajaran Islam. Misalnya, sang kiyai membimbing dan mengajarkan masyarakat tani agar sebelum tongkat ditancapkan ke tanah, mula-mula petani mengawali dengan bacaan bismillah. Selanjutnya setelah jagung mau dimasukin ke tanah yang sudah dilubangi, diawali dengan membaca dua kalimat syahadat. Di musim panen, sang kiai mengajarkan masyarakat tani cara bersyukur kepada yang maha pengasih dan penyang (Allah). Seterusnya, dia mengajarkan ritual shalat lima waktu.

Tidak cukup di situ. Ide baru tumbuh. Kiai Baidawi juga memikirkan alat yang dapat membantu tenaga petani. Pilihannya jatuh pada kerbau atau sapi. Kedua hewan ini dipilih oleh sang kiai untuk membantu pekerjaan bertani. Dengan ide itu, kiai akhirnya memelihara sepasang sapi dengan diberi diberikan aksesoris yang dimanfaatkan dari alam sekitar.

Dari sini kita bisa melihat asal usul kata kerapan atau karapan itu berasal dari kata ‘garapan’. Kiai Baidawi – dengan mempergunakan sepasang sapi atau kerbau itu – mula-mula mengadakan ‘garapan’ di sawah atau di alun-alun. Hal itu menarik perhatian dan membuat masyarakat petani terhibur. Tetapi garapan itu dilakukan juga dalam rangka membajak tanah.

Berikutnya hampir tiap musim panen, selalu digelar adu kecepatan sapi ditunggangi para petani sambil membajak tanah. Dengan gelaran ini, makin tumbuh antusiasme petani sehingga banyak dari mereka memelihara sapi. Hampir di setiap rumah-rumah tani punya peliharaan sapi. Kemudian hari, sapi tidak hanya dijadikan sebagai alat tani. Namun juga dijadikan alat dagang, transportasi atau bahasa lain disebut Dokar. Sapi ini sebagai penghasilan kedua setelah jagung.

Karena misi dari Kyai Baidawi ini berhasil, lekas ia melaporkan kepada gurunya Sunan Kudus. Setelah ia melapor ia tetap ditugas menyebarkan Agama Islam dan disuruh menetap di Madura. Sebelum balik kembali ke tanah Madura, Sunan Kudus dan muridnya berdoa agar umur jagung yang awalnya ditanam dan bisa panen dalam sehari berubah seratus hari. Akhirnya doa beliau dikabulkan. Di tanah Madura, Kyai Baidawi menjelaskan kembali kepada masyarakat petani tentang perubahan umur jagung. Namun hal itu tidak masalah bagi petani. Masyarakat tetap tidak pudar dari semangatnya untuk bertani. Karena dengan bertani dan memelihara sapi secara finansial ia bisa terbantu.

Ada Pelintiran Tradisi

Secara historis dalam penyebutan pacuan sapi disebabkan karena sepasang sapi adalah jantan yang diadu lari cepat jarak jauhnya. Setiap sepasang sapi dikendalikan oleh joki atau istilah bahasa Madura (tokang tongko’). Selain itu, sapi betina juga dijadikan hiburan masyarakat Madura yang dikenal sapi hias atau sapeh sono’.Sapi betina ini diadu kecantikannya dengan diberi aksesoris di bagian punggung sapi dan kepalanya secantik mungkin. Peran musik lokal seperti saronen juga dijadikan attraksi penggelaran hiburan masyarakat Madura dibarengi dengan penari kampung yang langsat sebagai tontonan penduduk setempat dengan ciri khasnya masing-masing.

Secara postur, sapi Madura kecil beda dengan sapi-sapi yang di luar. Sebab sapi Madura tidak menghasilkan susu. Pada masa Belanda, sapi Madura dilarang dieksploitasi dan dikirim ke luar Madura karena sapi yang berbulu coklat sudah cocok dengan tanahnya yang gersang. Pun demikian sapi yang di luar Madura tidak dibolehkan berada di Madura, takut tidak cocok dengan iklimnya dan takut menggangu kelestarian orang-orang Madura. Menurut Glenn Smith, sapi Madura berasal dari perkawinan silang antara banteng lokal (bos javanicus) dengan jenis Sinhala atau Ceylon dari Zebu yang sudah dijinakkan (bos indicus).

Yang patut dicatat dan disesalkan, ada perbedaan yang sangat jauh dari semangat penggelaran pacuan sapi di masa dulu dan sekarang. Di masa Kiai Baidawi, even pacuan sapi sekedar dijadikan hiburan masyarakat tani. Tak ada sesuatu yang berlebihan di masa itu ketimbang pergelaran pacuan di masa sekarang. Di masa dulu, masyarakat dulu lebih manusiawi dalam memperlakukan sapi termasuk dalam gelaran pacuan binatang tersebut. Saya katakan ‘manusiawi’ sebab orang-orang mempertimbangkan aspek-aspek penting untuk tidak menyakiti sapi.

Ini berbeda sekali dengan apa yang terjadi pada pergelaran pacuan (kerapan) sapi saat ini. Di masa kini, kita menyaksikan betapa sadisnya orang-orang (hanya demi mengintai kemenangan dalam kerapan sapi) melakukan hal-hal yang sangat menyiksa terhadap hewan. Satu contoh, sapi-sapi yang diikutkan kerapan (pacuan) diolesi rheumason di sekitar matanya, pantatnya dilukai dengan menggunakan paku dan kadang diolesi pula. 

Praktik-praktik semacam itu menjadikan sapi tampak kesurupan. Matanya melotot kemana-mana. Nafasnya mendesis. Apa yang terjadi? Bukan lagi penghiburan? Bukan lagi mewarisi semangat yang diberikan Kiai Baidwai. Kerapan sapi yang terjadi saat ini adalah bentuk penyiksaan atas binatang yang mungkin disadari atau tidak oleh masyarakat. Penyiksanaan ini dilanggengkan oleh pesta budaya.

Jika hal-hal semacam ini masih dipertahankan, saya sendiri tidak sepakat. Kebudayaan semacam ini lebih banyak mengandung mudarat bagi hewan daripada manfaatnya. Jika kebudayaan kerapan sapi dengan cara ini tetap dipertahankan, itu berarti kita menutup mata pada penyiksaan terhadap hewan yang selama ini banyak membantu masyarakat petani. Bila kita sepakat bahwa kerapan sapi sebagai ikon kebudayaan Madura patut untuk dipertahankan, tak ada jalan lain kecuali kita melakukannya dengan lebih baik dan berperikehewanan.

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Di Sigi, Kompleks Hunian Nyaman Terpadu Kembali Dibangun Previous post Di Sigi, Kompleks Hunian Nyaman Terpadu Kembali Dibangun
Lestarikan Alam dan Budaya Next post Lestarikan Alam dan Budaya