Kampus Kurang Peka, Mahasiswa Resah

Kampus Kurang Peka, Mahasiswa Resah

Read Time:3 Minute, 17 Second
Kampus Kurang Peka, Mahasiswa Resah
Oleh: Amrullah*

Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia sejak beberapa pekan lalu menghebohkan masyarakat, tak terkecuali di kalangan mahasiswa. Makin meningkatnya korban COVID-19 tak membuat pemerintah diam. Masyarakat diimbau untuk mulai beraktivitas di rumah saja termasuk bekerja, belajar, dan ibadah.

Seiring dengan adanya Surat Edaran Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor: B-95/R/HM.01.5/03/2020 terkait pencegahan COVID-19, perkuliahan pun dialihkan dengan sistem dalam jaringan (daring). M n ulai dari pemaparan materi oleh dosen hingga pengumpulan tugas mahasiswa. Awal memulai perkuliahan daring, banyak mahasiswa merespons dengan positif karena menganggapnya jauh lebih simpel dan praktis.

Setelah beberapa hari pelaksanaan kuliah daring, berbagai reaksi pun muncul di kalangan mahasiswa. Banyak dari mahasiswa malah berbalik menilai kuliah daring tersebut justru membuat mahasiswa keberatan karena tugas berlebih yang diberikan oleh dosen. Selain itu, mereka pun keberatan dengan biaya internet yang digunakan untuk kuliah daring.

Hal tersebut seirama dengan Surat Edaran Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta Nomor 137/SE/A/DEMA-U/III/2020 yang ditujukan pada rektor. Tujuan dari diedarkannya surat tersebut tidak lain adalah menyalurkan aspirasi mahasiswa berdasarkan pengalaman mereka melangsungkan perkuliahan daring. Pihak Dema-U merekomendasikan pihak kampus untuk memenuhi hak dan kebutuhan para mahasiswa selama perkuliahan daring berlangsung.

Dalam surat tersebut, pihak UIN Jakarta dituntut untuk melakukan evaluasi perkuliahan daring berdasarkan hasil pembelajaran yang telah berjalan. Di dalamnya pun tertulis, pembebanan biaya internet pada masing-masing individu mahasiswa dinilai memberatkan mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Dema-U pun menilai, pemberian tugas berlebih—yang menurut penulis mungkin dilakukan mayoritas dosen—pun berdampak buruk pada psikis mahasiswa sehingga perlu diubah metode perkuliahannya.

Tanggapan terkait surat edaran dari Dema tersebut, dapat diketahui bahwa tugas yang berlebihan tersebut hanya akan menimbulkan tekanan yang berlebih dalam psikis para mahasiswa yang terkadang mereka juga menjalani aktivitas luar harian dan tidak selalu fokus tugas tugas mereka yang terus berkelanjutan. Tentu pihak kampus harus melihat tindakan tugas berlebih ini dari berbagai aspek, baik itu dari aspek sosial mahasiswa, dan pastinya aspek ekonomi para mahasiswa, dan tidak semua mahasiswa akan sanggup akan hal ini.

Terkait dengan kebutuhan mahasiswa tersebut, perlu diketahui bahwa UIN Jakarta menerima bantuan dana sebesar Rp2 miliar dari Menteri Agama untuk keperluan Rumah Sakit Syarif Hidayatullah (RSSH) mengatasi COVID-19. Hemat penulis, mungkinkah RSSH akan menggunakan seluruh anggaran itu sepenuhnya hanya untuk pengobatan dan keperluan medis? Seharusnya, ada pula anggaran yang harus direalokasi guna memenuhi kebutuhan mahasiswa selama perkuliahan daring.

Permasalahan tak hanya sampai di situ. Tak sedikit mahasiswa yang kemudian mengharapkan adanya pengembalian Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk memenuhi kebutuhan internet perkuliahan daring. Terlebih lagi, pembelajaran yang mahasiswa dapat selama perkuliahan daring dirasa jauh berbeda dibanding saat perkuliahan tatap muka. Dalam artian, mahasiswa hanya mendapatkan tugas berlebih di setiap mata kuliah serta kurangnya pemaparan materi oleh dosen. Hemat penulis, keluhan ini dapat dimaklumi terlebih mahasiswa tidak mendapat fasilitas perkuliahan selayaknya kuliah di kampus. Dengan kata lain, UKT yang mereka bayar tidak seimbang dengan apa yang mereka dapat selama perkuliahan daring.

Sesuai pula dengan tuntutan Dema-U mengenai evaluasi aspek psikologis mahasiswa. Penulis pun mendapati beberapa kasus mahasiswa yang mengeluhkan tugas-tugas mereka yang menumpuk hingga harus mengorbankan waktu istirahatnya dan jatuh sakit. Padahal dalam kondisi seperti ini, imunitas tubuh yang kuat sangat dibutuhkan. Sebab itu, percuma saja berada di rumah untuk menjaga kesehatan jika harus mengerjakan tugas tanpa mengenal istirahat.

Dalam kondisi lain, penulis juga mendapati mahasiswa yang mengeluhi perangkat yang tidak memadai untuk kuliah daring dan mengerjakan tugas. Seperti misalnya harus bergantian menggunakan laptop dengan anggota keluarga lainnya sedangkan deadline menuntut kita untuk menyelesaikan tugas tepat waktu.

Oleh karena itu, berhubung perkuliahan daring akan dilaksanakan sampai akhir semester, penulis berharap adanya kepekaan dari pihak kampus dalam permasalahan yang kian muncul. Kampus musti tau kondisi setiap mahasiswa ini berbeda, terutama dalam hal finansial. Seharusnya, pihak kampus dapat bergerak cepat memfasilitasi mahasiswanya, apalagi dengan tugas yang bertumpuk.

*Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Jakarta 2019


Business photo created by yanalya – www.freepik.com

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post VIDEO: Orchid Forest, Wisata Menarik dengan Spot Cantik
Larangan Mudik, Bagaimana Mahasiswa di Perantauan? Next post Larangan Mudik, Bagaimana Mahasiswa di Perantauan?