Usai Divaksin, Apa Kata Dosen?

Read Time:3 Minute, 30 Second

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta telah melakukan vaksinasi Covid-19 untuk tenaga pengajar atau dosen tahap kedua pada 23-24 Maret 2021. Lantas, bagaimana efeknya bagi dosen-dosen yang telah divaksin?

Vaksinasi Coronavirus Disease-2019 (Covid-19) tahap pertama telah dilangsungkan dua pekan lalu. Baru ini, pada 23-24 Maret para tenaga pengajar atau dosen di bawah usia lanjut Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta usai melakukan vaksinasi tahap kedua. Menurut Tim Pendata Vaksinasi Abdul Halim, dalam dua hari tersebut, dibagi menjadi 350 orang dihari pertama dan 350 orang di hari kedua.

Vaksinasi merupakan pengalaman baru yang dilakukan para dosen UIN Jakarta, berbagai hal yang dirasakan pun beragam tiap orangnya. Umumnya, setelah melakukan penyuntikan vaksin seseorang akan merasakan pegal di lengan, cepat lelah, mengantuk, hingga rasa lapar yang tak seperti biasanya. Hal yang dialami setelah melakukan suntik vaksin biasa disebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Perihal KIPI merupakan kejadian medis yang biasanya terjadi pascavaksinasi. Karena pada proses vaksinasi tenaga medis akan memasukkan antigen dari virus ke dalam tubuh, dan selanjutnya tubuh merespon hal tersebut dengan mengaktifkan limfosit T yang akan merangsang pembentukan antibodi. Institut telah merangkum beberapa kejadian yang dirasakan oleh para dosen UIN Jakarta usai vaksinasi.

Salah satu dosen yang sudah melakukan dua kali suntik vaksin ialah Bintan Humaira. Selain gejala umum, Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdkom) ini menuturkan, pada vaksinasi tahap kedua ia sedikit merasa nyeri di bagian punggungnya, “vaksin kedua ini agak sempat menjalar di lengan dan punggung kiri,” ujarnya, Rabu (24/3). Bintan melanjutkan, untuk memperkuat imun tubuh, yang ia lakukan adalah mengolah mengelola hati, perasaan, pikiran, tidur cukup, serta makan tepat waktu.

Senada dengan Bintan, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Narila Mutia Nasir pun merasakan gejala setelah melakukan vaksinasi. Selepas vaksin pertama, di tangannya sempat muncul bintil-bintil. Namun sebagai penderita diabetes, tak ada efek berarti yang mempengaruhi penyakitnya, “sempat khawatir akan berpengaruh pada diabetes saya, tetapi ternyata tidak ada efek yang mempengaruhi,” ujar Narila, Rabu (24/3). Walaupun begitu, Narila tetap menjalankan olahraga seperti biasa, seperti workout, jalan, dance, serta mengontrol vitamin serta makanan.

Lain halnya dengan Meliana Sari, Dosen Fikes ini tak mengalami kejadian yang berarti. Ia tetap bisa menjalani hari-hari seperti biasa sebagai pengajar dan ibu menyusui. Walau sempat khawatir kalau rasa air susunya berubah, namun ternyata, kata dia, vaksin pada ibu menyusui berdampak baik untuk memberikan antibodi bagi si bayi, “tidak ada perbedaan signifikan antara setelah dan sebelum vaksinasi. Hanya saat pandemi saya lebih mengatur jam tidur serta memperhatikan makanan dan asupan suplemen,” ujar Meliana, Rabu (24/3).

Rubiyanah, Dosen Fdkom ini pun tak merasakan efek berarti di vaksinasi pertama dan kedua. Namun hal itu pun tak lain karena ia rutin melakukan olahraga, “ibu biasa senam jantung sehat dan jalan (jogging), seminggu sekali,” ujar Rubiyanah, Rabu (24/3). Sama dengan Hoirun Nisa, Dosen Fikes ini pun tak merasakan efek berarti saat vaksinasi pertama dan kedua. Bedanya, Nisa tak memiliki rahasia sehat apa pun, “bisa dibilang tidak persiapan khusus. Karena mungkin masih muda dan belum berusia 60, selain itu juga belum ada penyakit jadi cenderung tidak ada masalah,” ujar Nisa, Rabu (24/3).

Menurut Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Medika Bumi Serpong Damai (BSD) Adi Ayu Mada Prahara, apa yang dialami beberapa dosen di atas merupakan kejadian yang normal. Menurutnya ada empat penyebab mengapa KIPI bisa terjadi. Pertama, terdapat unsur-unsur yang terdapat di dalam vaksin yang bisa membuat tubuh menjadi hipersensitif, sehingga menimbulkan reaksi anafilatik (alergi) dan menyebabkan berbagai gejala.

Kedua, prosedur pemberian vaksin itu sendiri, pada proses menyuntik misalnya, kalau bagian tubuh yang akan disuntik vaksin tidak steril dan tidak dibersihkan dengan alkohol, bisa menimbulkan nanah. Ketiga, Reaksi psikis yang sebelum divaksin sudah berpikiran macam-macam, sehingga meningkatkan kadar hormon stres yang menyebabkan berbagai gejala. Keempat, adanya penyakit bawaan (komorbid).

Apabila gejala KIPI yang dirasakan seseorang cukup berat, Adi menyebut bahwa orang tersebut boleh untuk menggunakan obat. Contohnya seperti  orang yang setelah vaksinasi suhu tubuhnya meningkat di atas 37,8, maka boleh diberikan  obat penurun  panas. “Wajar jika suhu tubuh meningkat pascavaksinasi, karena tubuh sedang memproduksi antibodi pada saat suhunya 37,2-37,8° C.” ujarnya saat ditemui di ruangannya di Rumah Sakit Medika BSD.

Gianluigi Fahrezi & Sekar Rahmadiana


About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Pameran Revive, Hidupkan Seni di Tengah Pandemi
Next post Aniaya di Balik Perploncoan Kampus