Asa di Persimpangan Ciputat

Read Time:2 Minute, 19 Second

 

Semenjak Pandemi Covid-19 melanda,  pembatasan kegiatan masyarakat membuat seluruh aktivitas harus dilakukan dengan berjarak atau tatap maya. Keputusan kampus untuk mengadakan perkuliahan secara daring tidak mengurungkan niat sebagian mahasiswa Unversitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta untuk pergi dan merasakan kehidupan di Ciputat. 


Mereka yang memilih menetap di Ciputat memiliki berbagai alasan. Hadam Wirajati, mahasiswa baru Fakultas Ilmu sosial dan Politik (FISIP) bertekad untuk menjadi mahasiswa yang aktif dalam ruang kelas ataupun luar kelas dengan terjun dalam berbagai organisasi dan diskusi. Wira, sapaan akrabnya,  aktif mengikuti forum-forum diskusi yang berada di lingkungan UIN sebab dalam diskusi tersebut ia merasa bisa memperluas jaringan relasi dan memahami lebih dalam materi perkuliahan. 


Mahasiswa asal Bekasi ini mengaku kewalahan jika harus pulang-pergi ke kampus sehingga ia memilih untuk mencari indekos. Baginya, Ciputat adalah wahana baru untuk berekspresi. Wira yang lulusan pesantren ini juga mengatakan pergaulan yang ia rasakan sangat berbeda jauh dengan dahulu. “Siapa pun yang ingin banyak kawan maka perlu memperbanyak organisasi dan berbagai aktivitas bermanfaat karena biasanya orang lain ingin dekat dengan kita karena melihat sisi unggul kita,” ujarnya Rabu (23/11).


Berbeda dengan Wira, Abdullah Ahmad Kurnia, kerap disapa Bedul lebih memilih mengontrak bersama salah satu kakak tingkatnya agar lebih irit pengeluaran. Menurutnya, terik matahari dan kemacetan di Kota asalnya, Jakarta Timur tidak bisa disamakan dengan keadaan Ciputat. Bedul menganggap Ciputat lebih ramah bagi pendatang serta memberi banyak pelajaran kehidupan dan kemandirian. Ia juga menilai, biaya makan di Ciputat masih relatif murah sehingga tidak terlalu menguras dompetnya.


Selain itu, tinggal di dekat kampus membantu Bedul untuk memahami materi perkuliahan. Menurutnya, materi yang disampaikan di bangku kelas sangat kurang sehingga kegiatan diskusi memberikannya pemahaman lebih mantap terhadap materi yang belum dimengerti. “Kalaupun nanti kuliah tatap muka, saya sudah tidak perlu kebingungan mencari tempat tinggal,” tambahnya Rabu (23/11).


Lain cerita bagi Hasan Nabil Mubarok, mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) asal Surabaya. Hasan yang terpilih sebagai ketua acara Maba FAH memutuskan untuk terbang jauh ke Ciputat, kota yang belum pernah ia tapaki sebelumnya. Sebenarnya, Hasan tidak tahu menahu daerah Ciputat sehingga hal yang pertama kali ia lakukan adalah menelepon temannya.

 

Walhasil, Hasan disambut hangat sampai ia diperbolehkan untuk tinggal di rumah teman-temannya. Semenjak di Ciputat, Hasan mengaku tidak pernah menetap di indekos ataupun asrama, melainkan ia tinggal di rumah temannya. Baginya lika-liku kehidupan di Ciputat merupakan pelajaran berharga. “Saya pernah sampai tujuh kali pulang-pergi dari salah rumah teman, ke teman lain karena tidak enak kalau terlalu lama menetap,” tutur Hasan Minggu (21/11).


Hasan tidak menyangka bahwa teman-temannya mau menampung dirinya. Dengan begitu, Hasan mengaku lebih hemat pengeluaran. “Dari tiga bulan kemarin saya tinggal bersama salah satu teman saya dan bahkan ibunya meminta saya untuk menetap dan tidak perlu mencari kos,”  tambahnya.


SH

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Pendidikan Alternatif Sejahterakan Anak Jakarta
Next post RUU PPRT di Ambang Ketidakpastian