Kebut Realisasi Pemilwa

Read Time:2 Minute, 57 Second

  • Pesta demokrasi Pemilwa dinanti-nantikan mahasiswa UIN Jakarta. Pemilwa yang tak pasti kapan pelaksanaannya bikin pergantian pemimpin jadi tertahan.

Selasa, 25 Januari lalu, Institut menerima informasi ihwal jadwal Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Berdasarkan informasi itu, terpampang jelas lini masa pelaksanaan Pemilwa. Mulai dari penetapan panitia pemilihan Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) dan Badan Pengawasan Pemilihan Mahasiswa (BPPM), sosialisasi penyelenggaraan Pemilwa, pemilihan dan pemungutan suara hingga pelantikan kepengurusan organisasi intra yang baru.


Ketua Departemen Kemahasiswaan Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U), Risang Tohpati mengaku belum pernah mengetahui lini masa Pemilwa secara resmi. Bahkan kata Risang, sampai hari ini belum ada informasi resmi terkait rancangan pelaksanaan pemilwa baik dari pihak kampus ataupun Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U).


Ketika Institut meminta  konfirmasi pada Wakil Rektor (Warek) Kemahasiswaan Arief Subhan, dirinya tidak berkomentar banyak. Lini masa Pemilwa yang Institut layangkan padanya, ia respons dengan mengatakan jika itu belum sahih. Arief bersama pihak Sema-U tengah mendiskusikan hal tersebut. “Jadi tunggu saja,” ucap Arief, Sabtu (29/1).


Ketua Sema-U, Muhammad Sahrul juga berkata serupa. Lini masa nonresmi itu, masih berbentuk rancangan tak sempurna. Sehingga, ucap Sahrul, lini masa tersebut masih dalam tahapan pengkajian ulang bersama Warek Kemahasiswaan. Dia membantah jika pada Kamis, 27 Januari lalu—seperti yang tertulis di lini masa nonresmi, Sema-U  tengah berkegiatan verifikasi fit and proper test.  “Belum ada agenda apapun tentang Pemilwa,” tegas Sahrul pada Sabtu (29/1).


Kinerja Dinilai Kurang


Draf lini masa Pemilwa yang sempat beredar tak lekang dari bibir kalangan mahasiswa UIN Jakarta, dinilai Risang sebagai pencederaan iklim demokrasi kampus. Risang sendiri membenarkan dirinya pernah mendapat draf nonresmi itu. Risang kecewa. Menurutnya pihak Sema-U tidak melakukan asas keterbukaan pada Sema Fakultas. “Sampai hari ini, saya belum menemukan ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak Sema-U,” ucap Risang pada Sabtu (29/1).


Ketua Sema Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Niko Miyora menilai kinerja Sema-U dalam mewujudkan pelaksanaan Pemilwa tahun ini sangatlah kurang. Tak ayal mendatangkan berbagai tuai komentar dari kalangan mahasiswa. Kekurangan Sema-U dalam menjalin koordinasi, komunikasi, dan sosialisasi, tutur Niko, berdampak buruk terhadap perkembangan organisasi kampus.   


Sahrul menegaskan, kabar ini sangat menjustifikasi terhadap kinerja Sema-U sehingga menimbulkan stigma negatif. Sema-U punya prinsip tersendiri untuk memanifestasikan Pemilwa dan menelurkan pemimpin berkualitas. Pihaknya juga ingin Pemilwa terlaksana lebih baik dari yang sebelumnya.


Kata Sahrul, kabar mentah ini tidak bisa menjadi indikator yang menyatakan Sema-U tidak lakukan akses transparansi terhadap Pemilwa tahun ini. Sahrul berharap mahasiswa UIN Jakarta menunggu dengan sabar.  “Jika nanti sudah final kami pasti akan umumkan,” tutur Sahrul pada Minggu (30/1).  

Regenerasi Jadi Lamban


Menurut Niko, apabila prosesi Pemilwa  terhambat, maka berakibat terhadap masa studi mahasiswa yang hendak menabung segudang pengalaman organisasi. Pemilwa begitu penting bagi Niko lantaran sebagai pergantian pengurus organisasi intra kampus yang baru. “Proses ini harus dikawal agar berjalan baik,”  ujarnya pada Sabtu (29/1).


Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Muhammad Hanif, sependapat dengan Niko. Kendati tak begitu tertarik pada jagat  perpolitikan kampus, dirinya yang merupakan salah satu anggota di salah satu Himpunan Mahasiswa HI terkena impak gegara pelaksanaan Pemilwa yang lelet. “Saat rapat Koordinator Wilayah (Korwil) II hanya Ketua Himpunan HI dari UIN Jakarta saja yang masih demisioner,” kata Hanif,  Jumat (4/2).


Komentar serupa juga dilontarkan Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa Arab, Mifta Dwi Kardo. Menurutnya pola Pemilwa perlu beradaptasi dengan kondisi pandemi karena keterlambatan ini berimpak pada penerus kepemimpinan. “Terhambatnya Pemilwa juga berarti berakibat terhambatnya inovasi-inovasi baru untuk UIN Jakarta yang lebih baik,” tuturnya pada Jumat (4/2).


Nadiyya Dinar Ambarwati, Silva Hafsari


About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Malapetaka Kebebasan Pers Era Jokowi
Next post Peraturan Baru Bikin Resah