Perbaikan Toilet SC Tanpa Solusi Alternatif

Read Time:1 Minute, 41 Second

Pihak kampus tidak menyediakan alternatif fasilitas saat renovasi toilet di Gedung Student Center berlangsung. Akibatnya, belasan botol berisi air kencing bertebaran dan mengundang keluhan dari mahasiswa. 

Institut menemukan beberapa botol yang berisi air kencing di Tribune Student Center (SC) pada Jumat (17/3). Botol berisi air kencing masih tersebar di sekitar gedung SC hingga berita ini terbit. Diketahui, pada rentang waktu 15–19 Maret gedung SC digunakan untuk ajang perlombaan oleh beberapa organisasi mahasiswa. 

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa Arab, Cindy Aulia mengatakan pernah melihat seorang pria masuk ke toilet perempuan di sebelah tangga gedung SC. “Walaupun toiletnya kosong setidaknya dia bisa pergi ke toilet fakultas.” keluhnya, Rabu (22/3).

Lanjut, Cindy mengaku pernah melihat banyak botol yang berisi air kencing. Botol itu berada di pojok tangga yang menuju lantai dua gedung SC. “Seharusnya kampus menyediakan toilet alternatif, agar pengguna Gedung SC tidak Buang Air Kecil (BAK) di sembarang tempat,” ujarnya, Rabu (22/3).

Sekretaris Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Federasi Olahraga Mahasiswa (Forsa), Tika Puspa mengatakan keberadaan botol air kencing itu sangat tidak bisa ditolerir. Ia khawatir orang yang berlalu-lalang di sekitar lantai dua gedung SC mengira pelakunya adalah anggota UKM. 

Lebih lanjut, Tika memberi saran untuk membuat petunjuk arah menuju toilet jika menyelenggarakan acara yang mengundang pihak luar. Panitia acara dapat membuat solusi alternatif saat toilet SC sedang diperbaiki. “Panitia harus bisa mengarahkan tamu ke toilet lain atau toilet fakultas,” ujarnya, Rabu (22/3).

Koordinator Bina Bakat dan Minat Mahasiswa (BBM), Yuli Handayani mengaku baru mengetahui ada kasus seperti ini. Terlepas dari toilet yang sedang diperbaiki, di sisi lain terdapat pula sampah yang berserakan di gedung SC. “Itu bukan sepenuhnya tanggung jawab BBM, melainkan kampus dan seluruh penghuninya,” jelasnya, Jumat (24/3).

Lanjut, Yuli mengatakan mahasiswa yang hendak mengadakan ajang perlombaan perlu izin ke bagian umum fakultas. Berbeda dengan UKM, kemahasiswaan dapat memberikan izin untuk acara yang diselenggarakan oleh UKM. “Tidak mungkin mahasiswa UKM yang melakukan, jika saya tahu pasti saya tegur,” pungkasnya, Jumat (24/3).

Reporter: FH

Editor: M. Naufal Waliyyuddin

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Perangi Stigma Negatif pada Ganja
Next post Dilema Akademisi Perihal ChatGPT