Kejar PTN-BH, Kampus Rencanakan Kantin Fakultas

Read Time:3 Minute, 39 Second

UIN Jakarta berupaya mendapatkan keuangan di luar UKT untuk bertransformasi menjadi PTN-BH. PBB UIN Jakarta menyusun rencana untuk membangun kantin di tiap fakultas. 


Kantin merupakan salah satu peluang bisnis di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Beberapa fakultas yang sudah mempunyai kantin di antaranya Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Psikologi dan Program Profesi Guru (PPG). 

Berdasarkan wawancara Institut dengan Asep Syarifuddin Hidayat—Kepala Pusat Pengembangan Bisnis (PPB) pada Rabu (1/11), UIN Jakarta harus memenuhi pendapatan di luar Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 10 persen untuk bertransformasi menjadi PTN-BH. Hal tersebut merujuk pada Peraturan Kementrian Agama nomor 2 tahun 2023 pasal 3c dan 3e, yang berbunyi “Memenuhi Standar minimum kelayakan finansial PTKN dan berperan dalam pembangunan perekonomian”.

Asep menuturkan, pada masa Rektor Amany Lubis kantin masih menjadi tanggung jawab Dharma Wanita, tapi setelah beralih ke rektor baru—Asep Saepudin Jahar yang menginginkan PTN-BH maka kantin tersebut akan beralih tanggung jawab kepada PBB. “Kita akan membuat timeline terlebih dahulu, tapi hingga saat ini belum kami lakukan karena kami baru menerima penanganan bisnis UIN melalui instruksi rektor sejak tiga minggu lalu,” tuturnya, (1/11).

Institut kembali mewawancarai Asep Syarifuddin Hidayat pada Senin (27/11). Ia menjelaskan UIN Jakarta memiliki rencana mendirikan kantin tiap fakultas. Upaya yang akan PPB lakukan yaitu menentukan tempat, meminta izin dan kerja sama dengan pebisnis makanan maupun minuman. “Kami akan menawarkan kerja sama dengan pedagang luar melalui online,” jelasnya, Senin (27/11).

Asep menyampaikan, saat ini PPB masih mengupayakan rencana pembangunan kantin tersebut. Mahasiswa juga nanti bisa kerja sama dengan PPB jika ingin berjualan di kantin. “Hal ini dilakukan agar mahasiswa tidak berpikir bahwa PPB tidak bisa melibatkan mahasiswa dalam bisnis,” ucapnya.

Menanggapi rencana pembangunan kantin tiap fakultas, Wakil Dekan (Wadek) Administrasi Umum Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Ambran Hartono mendukung adanya kantin tiap fakultas. Menurutnya, adanya kantin membantu dan mempersingkat waktu mahasiswa FST untuk membeli makanan. “Melihat letak FST yang paling belakang, jadi adanya kantin di fakultas ini mempermudah mahasiswa jajan,” ungkapnya, Selasa (7/11).

Lanjut, Ambran pun setuju jika kantin di tiap fakultas membuka kesempatan kerja sama dengan mahasiswa. Ia berharap, adanya kantin tidak hanya bermanfaat bagi kampus, tapi juga bermanfaat terhadap mahasiswa. “Tentunya jika mahasiswa ingin bekerja sama dengan kantin, perlu diperhatikan apakah makanan tersebut layak atau tidak diperjualbelikan di kantin,” lanjutnya. 

Setara dengan Ambran, Wadek Administrasi Umum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Afwan Faizin Faizin juga mendukung penuh adanya kantin di Fakultas FSH. Menurutnya, FSH perlu menyiapkan lantai dasar jika nanti akan mendirikan kantin. “Saya setuju jika tujuannya untuk memberikan fasilitas kantin mahasiswa,” ujarnya, Rabu (8/11).

Afwan menyebutkan, adanya kantin tiap fakultas juga membantu penghasilan keuangan UIN Jakarta di luar UKT. “Jika ingin menjadi PTN-BH itu bisa menghasilkan keuangan dari pendapatan sendiri,” sambungnya. 

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIkom), Khoirurrozikin sangat antusias jika dibangun kantin di FDIKom. Adanya kantin di FDIkom, menurut Rozik, dapat mempermudah mahasiswa ketika ingin membeli makanan dan minuman. “Apalagi jika harga makanan di kantin murah itu membuat mahasiswa senang,” katanya, Jumat (10/11).

Sejalan dengan penuturan Asep dan Afwan, sebagai mahasiswa Rozik mengharapkan adanya kantin fakultas untuk menjual makanan dan minuman. Apalagi jika kantin tersebut membuka peluang mahasiswa untuk berjualan. “Saya berharap makanan dan minuman yang disediakan bisa bermacam-macam,” tuturnya, Rabu (6/12).

Mahasiswa Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Shasta Yazira Zahra merasa senang ketika di FISIP membangun kantin sendiri. Namun, ia merasa kantin menyuguhkan harga yang terbilang mahal bagi mahasiswa. “Tapi mahasiswa tidak perlu repot keluar kampus mencari makanan dan minuman karena ada kantin baru,” ucap Shasta, Jumat (10/11).

Lebih lanjut, Shasta menuturkan, adanya kantin fakultas ini selain membantu mahasiswa, namun juga membantu pihak fakultas untuk menambahkan pendapatan lain di luar UKT. “Setahu saya, saat ini kantin masih menjadi tanggung jawab Dharma Wanita,” ucapnya.

Sama halnya dengan Shasta, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Annisa Putri Gunaefi menyebutkan di Fakultas FEB sudah tersedia kantin sejak bulan September tahun 2023. Namun, Annisa menyayangkan di kantin FEB tidak menyediakan pembayaran non tunai. “Makanan yang tersedia juga tidak terlalu lengkap,” jelasnya, Senin (13/11).

Lebih lanjut, Annisa menilai kantin di FEB kurang luas, padahal mahasiswa yang sering berkunjung ke kantin cukup banyak. “Apalagi ketika jam makan siang, banyaknya mahasiswa yang berkunjung membuat antrean cukup ramai,” pungkasnya, Jumat (8/12). 

Reporter: HUC

Editor: Shintia Rahayu Safitri

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Nestapa di Balik Proyek PLTU III Banten
Next post Kemenag Tunjuk FK UIN Jakarta Jadi Pengampu