Selain Simpatisan, Tak Boleh Menyaksikan

Read Time:1 Minute, 57 Second

Penonton debat kandidat Dema Fakultas Psikologi dibatasi hanya simpatisan. Harapan mahasiswa pupus karena tidak dapat menyaksikan debat secara langsung.


Debat Kandidat Calon Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (Dema-F) Psikologi dilaksanakan di Teater Zakiyah Darajat Fakultas Psikologi, Jumat (15/12). Saat penyelenggaraan debat, jumlah penonton dibatasi. Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) menjadi persyaratan untuk memasuki ruang debat sebagai bukti yang menunjukkan identitas Mahasiswa Psikologi.

Pihak Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) tidak memperkenankan beberapa Mahasiswa Psikologi masuk ke dalam teater karena bukan simpatisan—orang yang bersimpati kepada partai politik—dari kedua kandidat. Akibatnya, harapan mahasiswa untuk menyaksikan debat secara langsung pupus, mereka hanya bisa menyaksikannya melalui Zoom.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Psikologi, Zaza—bukan nama sebenarnya—mengatakan, tujuannya menghadiri debat adalah mengetahui visi misi para kandidat. “Sebagai mahasiswa juga perlu mengetahui kualitas dari masing-masing kandidat,” kata Zaza, Jumat (15/12).

Mulanya, Zaza mendapatkan informasi bahwa acara debat tersebut terbuka untuk seluruh Mahasiswa Psikologi. Akan tetapi, saat hendak mendaftarkan diri, panitia tidak memperbolehkan dirinya masuk karena bukan bagian dari simpatisan. “Tidak ada catatan yang menunjukkan bahwa hadirin dikhususkan untuk simpatisan,” ucapnya.

Simpatisan salah satu kandidat, Syifa Raihan menuturkan, kedua kandidat menyampaikan visi misi dengan baik. Ia menjelaskan, situasi yang terjadi saat pelaksanaan debat juga kondusif, baik dari simpatisan kandidat satu maupun kandidat dua. “Kedua belah pihak menyampaikan masing-masing pernyataan dengan lancar,” tutur Syifa, Jumat (15/12).

Syifa mengatakan, pembatasan penonton debat bertujuan menjaga situasi agar terhindar dari kerusuhan. Selain itu, ujar Syifa, mahasiswa yang tidak diperbolehkan masuk ke teater, akan diberikan tautan untuk bergabung secara daring melalui Zoom.

Koordinator KPM Fakultas Psikologi, Ica mengatakan, mahasiswa selain simpatisan tidak dapat menyaksikan debat antarkandidat tersebut. Ia menuturkan, kebijakan tersebut merupakan wewenangnya sebagai Koordinator Fakultas. “Mending memberi wadah untuk yang sudah pasti akan memilih. Buat yang netral baru nanti,” ujar Ica, Jumat (15/12).

Ica menjelaskan, pihak yang diperbolehkan masuk hanya simpatisan, Senat Mahasiswa Fakultas (Sema-F) Psikologi, Dema-F Psikologi, Tenaga Ahli KPM Fakultas, dan dosen. Akan tetapi, ia mengakui tidak adanya sosialisasi terkait teknis pelaksanaan debat. “Tidak ada sosialisasi terkait pelaksanaan debat karena keterbatasan waktu,” kata Ica.

Ica mengatakan, kebijakan tersebut bertujuan meminimalisir kesempatan penyusup karena semua identitas para simpatisan terdata. Jika ada kericuhan selama pelaksanaan debat, ujarnya, individu lebih mudah diidentifikasi. “Selain simpatisan tidak boleh masuk karena yang netral pun nanti akan tetap memilih,” pungkasnya.

Reporter: RIN

Editor: Shaumi Diah Chairani 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Raih Prestasi Tingkat PTKI
Next post Tanpa Kejelasan, Picu Kekacauan.