Polemik Penutupan Jalan Serpong-Parung

Read Time:2 Minute, 33 Second

Rencana BRIN menutup Jalan Serpong-Parung memicu pergolakan di masyarakat. Aktivitas sosial ekonomi masyarakat berpotensi terganggu imbas penutupan jalan.


Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) berencana menutup Jalan Serpong-Parung yang melewati Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie per 6 April 2024. Rencana tersebut mendapat penolakan dari warga setempat meski telah disediakan jalan lingkar luar oleh BRIN. Aksi protes pertama telah dilakukan sehari sebelum rencana penutupan, Jumat (5/4).

Mengutip dari tempo.co, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengungkapkan hal yang melatarbelakangi rencana penutupan jalan. Jalan yang hendak ditutup merupakan bagian dari kawasan strategis nasional dan tidak memiliki izin pinjam pakai lahan BRIN. Selain itu, jalan lingkar luar yang dibangun BRIN juga telah beroperasi dengan baik. 

Kamis (18/4), Ratusan warga di Kecamatan Setu kembali memprotes penutupan Jalan Serpong-Parung oleh BRIN secara sepihak. Pasalnya, selama ini diketahui jalan tersebut merupakan jalan lintas provinsi yang dikelola Pemerintah Provinsi Banten. Masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Warga Muncul Setu berkumpul di Pertigaan Muncul sejak pukul 09.00 WIB.

Dalam keterangan tertulis, warga memandang penutupan jalan itu akan merugikan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat dan menimbulkan titik kemacetan baru. Mereka menuntut BRIN untuk membatalkan rencana tersebut dan tetap memberikan akses jalan sekurang-kurangnya pada kendaraan kecil, motor, dan pejalan kaki. Warga juga mengancam akan menutup Jalan Raya Muncul jika BRIN tetap menutup Jalan Raya Serpong-Parung. 

Masyarakat Muncul yang juga menjadi koordinator aksi, Nurhendra menjelaskan, dampak penutupan Jalan Raya Puspiptek oleh BRIN akan sangat terasa oleh masyarakat. Roda ekonomi dan sosial masyarakat berdampak karena penutupan jalan. “Pembatasan untuk masuk ke Jalan BRIN mengurangi aktivitas perekonomian yang akan berdampak terhadap UMKM,” ujarnya, Kamis (18/4).

Dampak sosialnya, warga harus memutar jalan yang cukup jauh untuk bepergian. Nurhendra mencontohkan dirinya yang harus mengantar anak ke sekolah di wilayah Setu. Penutupan Jalan Serpong-Parung membuat waktu tempuhnya lebih lama karena harus mengambil jalan memutar.

Terlebih, ada sistem satu arah di Jalan Raya Puspiptek yang aktif pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Akibatnya, Nurhendra harus berputar melalui akses Bundaran Tekno ke Perempatan Viktor. “Untuk sampai sekolah biasanya hanya sekitar lima menit, tapi sekarang bisa sampai 15-20 menit,” keluhnya. 

Berkebalikan dengan itu, Mahasiswa Institut Teknologi Indonesia Ari—bukan nama sebenarnya mengaku tidak terganggu dengan penutupan akses jalan Serpong-Parung. Sebab, kondisi jalur lingkar luar BRIN lebih bagus dan tidak berlubang dibanding jalan itu. “Dari segi jarak pun lebih cepat mungkin,” tuturnya, Minggu (21/4). 

Ketua Solidaritas Perempuan Muncul, Rusmiati mengatakan, pihak BRIN sempat menemui perwakilan warga saat aksi kedua digelar. Dalam proses mediasi tersebut, pihak BRIN berjanji untuk memberikan jawaban atas tuntutan warga pada Selasa (23/4). “Jika nanti balasannya tidak sesuai, maka kita akan melakukan aksi yang lebih besar lagi,” ujarnya berapi-api, Kamis (18/4).

Melansir dari tempo.co, BRIN mengklaim institusinya mendengarkan aspirasi masyarakat yang menolak penutupan jalan. Pelaksana Tugas Deputi Infrastruktur BRIN Yan Rianto mengatakan, pihaknya berencana mengadakan pertemuan bersama pemerintah dan masyarakat terdampak dengan tujuan sosialisasi. “Direncanakan awal minggu depan akan diadakan pertemuan,” ujarnya, Jumat (19/4). 

Reporter: Ibrahim Haikal Putra Abadi
Editor: Shaumi Diah Chairani

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Jemput Pakaian Jelang Lebaran
Next post Budaya dan Kebiasaan Orang Sumatra