Kebun yang Jauh Hambat Praktikum Agribisnis 

Kebun yang Jauh Hambat Praktikum Agribisnis 

Read Time:5 Minute, 6 Second


Kebun Agribisnis terletak cukup jauh dari Kampus Utama UIN Jakarta. Mahasiswa Prodi Agribisnis memerlukan biaya dan waktu lebih untuk dapat melakukan praktikum. 


Rintik hujan membasahi lingkungan sekitar Masjid Fathullah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Intan yang mempunyai jadwal mata kuliah Pertanian Kota pada pukul 07.30 WIB di Kebun Agribisnis Kampus Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sawangan, harus berangkat dari kosnya yang berada tak jauh dari masjid itu sekitar pukul 06.30 WIB. Terkena tarif GoCar seharga Rp30.000 sembari harus menunggu hingga tiga puluh menit lamanya, belum lagi kondisi lingkungan basah yang menyulitkan, membuat Intan cukup gempor untuk mengikuti kegiatan perkuliahan.

Berlokasi 10 kilometer dari Masjid Fathullah, Intan pun tiba di Kebun Agribisnis yang berada di depan Kampus PPG pukul 07.30 WIB. Kondisi yang melelahkan membuat Intan kurang fokus dalam mengikuti agenda perkuliahan. “Baru sampai Kampus PPG itu udah capek, walaupun jarang telat, habis itu langsung masuk kelas lagi,” ucap Intan, Senin (21/4).

Intan juga mengeluhkan perihal biaya transportasi yang merogoh kocek hingga Rp60.000 untuk bolak-balik dari Kampus 1 ke Kampus PPG. Menurutnya, hal itu cukup membebani mahasiswa, apalagi yang tinggal di kos dekat Kampus 1. Berdasarkan pengakuan Intan, lima orang teman sekelasnya juga mengeluhkan hal serupa.

Jadwal mata kuliah Intan yang mengharuskannya pergi ke kebun Kampus PPG ada setiap Senin. Namun, terdapat jadwal piket di luar mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa pergi ke kebun di Kampus PPG. Lantaran hal itu, mahasiswa seperti Intan harus ke Kampus PPG dua sampai tiga kali selama seminggu. Dengan demikian, Intan pun harus mengeluarkan uang transportasi sekitar Rp120.000–Rp180.000 setiap minggunya.

Untuk menyiasatinya, seringkali Intan memesan GoCar bersama-sama dengan teman kelasnya yang juga tidak mempunyai kendaraan. Dengan itu mereka bisa menghemat uang transportasi setiap ada mata kuliah yang mengharuskan pergi ke Kampus PPG. 

Meski demikian, Intan berharap pihak kampus menyediakan transportasi khusus–seperti bus untuk mahasiswa Kampus 1 yang mempunyai mata kuliah di Kampus PPG. Intan pun juga memaklumi jika nanti dikenakan tarif oleh pihak kampus untuk memakai fasilitas tersebut. “Setidaknya ada fasilitas seperti bus yang bisa mengantar hingga Kampus PPG, walaupun dikenakan biaya saya juga tidak masalah asalkan tidak lebih dari biaya ojek online,” ungkap Intan.

Selain jarak, permasalahan terkait fasilitas di kebun Kampus PPG juga tak terelakkan. Faridh Faqih, mahasiswa semester 4 Prodi Agribisnis mengeluhkan perihal fasilitas yang kurang terawat. Faqih menjelaskan bahwa tandon air di kebun mengalami kebocoran, namun mesin tetap menyala meskipun kondisi tersebut terjadi. Akibatnya, tandon mengkerut karena panas mesin sehingga akhirnya tidak layak pakai.

Sebagai lokasi praktik, kebun atau green house Agribisnis itu sangat membutuhkan listrik. Faqih mengaku seringkali menemui bahwa listrik di kebun itu mati, sehingga mengganggu pengairan tanaman yang ada di kebun. Padahal rentang waktu tanaman agar tidak layu adalah 12 jam, jika tanaman tidak teraliri oleh air yang mengandalkan dorongan mesin bertenaga listrik, maka tanaman pun akan layu.

Faqih juga menerangkan terkait denah dan detail kebun. Terdapat dua gedung untuk kebun dan dua area untuk green house.Gedung utama untuk menyimpan alat dan laboratorium berukuran masing-masing 10×10 m. Untuk green house di sisi kanan area terdapat sistem hidroponik Nutrient Film Tehnicque (NFT), sedangkan di area kiri khusus sistem substrat. 

Dosen ahli dalam bidang pertanian, Siti Rochaeni menjelaskan luas lahan kebun praktik yang ideal bergantung pada tujuan kegiatan dan jenis tanaman yang dibudidayakan. Untuk Prodi Agribisnis, kebun ini digunakan sebagai sarana pendidikan, pelatihan, dan penelitian yang berfokus pada tanaman pangan dan hortikultura. Oleh karena itu, dibutuhkan lahan minimal seluas 4 hektar agar dapat mengakomodasi berbagai jenis tanaman serta kegiatan praktik yang beragam.

Siti juga menyarankan agar diadakan ruang pendingin untuk hasil panen, penambahan koleksi tanaman juga diperlukan, serta penambahan alat pelindung diri untuk kegiatan praktik (sepatu boot, topi, sarung tangan).

Sementara itu, Rifqi Febrian, mahasiswa Prodi Agribisnis semester 6 menyoroti keamanan kebun tersebut . Rifqi menceritakan terkait dosen yang menemukan binatang liar–seperti ular masih berkeliaran di sekitar kebun. Rumput ilalang yang tinggi membuat binatang liar juga menghuni lingkungan sekitar kebun.

Kontur tanah yang ada di sekitar kebun juga tidak padat. Rifqi menjelaskan ketika hujan turun, tanah menjadi lebih lunak dari biasanya dan membuat mesin kontraktor tidak bisa jalan untuk mengolah tanah. “Kadang kalau hujan, tanah jadi becek dan kontraktor jadi macet karena tanah nya becek,” jelas Rifqi (21/4).

Kejelasan terkait hak paten kebun Agribisnis juga dipertanyakan. Pasalnya sudah tiga kali perpindahan sejak 2022. Berawal dari dekat Jus Kode Ciputat, selanjutnya pindah lahan di dekat Fakultas Ilmu Kesehatan, dan terakhir pindah di kebun Kampus PPG. “Kita sudah tiga kali pindah kebun, semoga ini perpindahan yang terakhir karena sudah enak kebunnya, minusnya cuman akses transportasi itu saja,” ucap Rifqi.

Rifqi juga menjelaskan bahwa fasilitas kebun yang tidak terawat mempunyai akar masalah yang fundamental, yaitu kurangnya pengelola kebun. Hanya ada dua pengelola, yaitu Narsan dan Imping Ruspendi. Minimnya pengelola kebun membuat beberapa fasilitas seperti tandon air dan pengoprasian mesin pun terkendala masalah.

Iwan Aminuddin, selaku kepala Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) menjelaskan, sebenarnya ada dua pengelola kebun dan satu office boy (OB) yang bertugas mengelola kebun di Kampus PPG. Salah satunya adalah Narsan yang harus mengelola kebun dan juga mengajar di Kampus Satu.

Iwan juga meluruskan terkait jarak Kebun Agribisnis di Kampus PPG yang jauh dari Kampus 1. Alasan utamanya karena tidak ada lahan yang memungkinkan untuk membuat fasilitas green house dan kebun di Kampus 1. Terlebih lahan di Kampus Satu adalah lahan bekas pembangunan.

Alhasil, lokasi yang memenuhi kriteria untuk dijadikan green house dan kebun hanya lahan yang berada di Kampus PPG. Lantaran lahan yang luas dan tidak terpakai itu, pihak dari PLT menjadikannya tempat untuk mahasiswa Prodi Agribisnis beraktivitas.

Namun, permasalahan Intan terkait biaya yang memberatkan mahasiswa untuk pergi ke Kampus PPG tidak terselesaikan. Ketika dijelaskan bahwa mahasiswa butuh transportasi, Iwan setuju jika sarana transportasi ini diajukan, terlebih tujuan nya membantu mahasiswa. “Ini usulan yang bagus, tidak perlu membayar biaya transportasi juga tidak apa,” ucap Iwan Selasa (6/5).

Pengajuan transportasi ini tentu tidaklah mudah. Perlu pengkajian yang lebih dalam dan perencanaan yang matang untuk menyediakan transportasi ini. Pihak kampus diharapkan dapat mendengarkan aspirasi mahasiswa dan menyediakan fasilitas ini demi menunjang aktivitas mahasiswa agar lebih produktif lagi kedepannya.

Reporter: Ahmad Zaidan Hafidz
Editor: Muhammad Arifin Ilham

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Tantangan Birokrasi Pasca Mutasi Previous post Tantangan Birokrasi Pasca Mutasi
RKUHAP, Manipulasi atas Nama Reformasi  Next post RKUHAP, Manipulasi atas Nama Reformasi