Kesenian Lukis Ajang Pelestarian Budaya

Read Time:2 Minute, 8 Second
Memasuki ruang pameran Bentara Budaya Jakarta, penonton disuguhkan dengan pameran bernuansa pedesaan. Pada bagian atap, terdapat hiasan gantung  yang terbuat dari ijuk dan alang-alang. Begitu pula pada halaman depan gedung pameran, sebuah wayang terbuat dari alang-alang terikat rapih seolah menyambut para pengunjung pameran. Di setiap sudut ruangan berjejer lukisan bertema Maneges Gunung.  
Tatapan mata pengunjung menyambar setiap lukisan yang terpampang di dinding. Karya lukis yang tertoreh di atas kanvas ini mampu memperlihatkan adanya kehidupan. Keindahan setiap goresannya terlihat ketika goresan-goresan pena membentuknya menjadi lukisan yang penuh makna.  
Ipang, pelukis asal magelang ikut serta memeriahkan pameran lukisan tersebut dengan mengusung budaya tempat kelahirannya. Ipang ingin menggambarkan suasana kehidupan pedesaan dari tempat ia dan teman-teman yang lainnya berasal.
Dari tangannya tersebut lahir lukisan-lukisan yang menciptakan kehidupan dalam setiap bingkai lukisan yang terpajang. Salah satunya adalah lukisan dua orang yang sedang memainkan kesenian kuda lumping dan ditonton oleh warga sekitarnya. Dalam lukisan tersebut menggambarkan antusias warganya dalam melestarikan kebudayaan tradisional yang satu ini.
Di sudut ruangan lainnya, terlihat lukisan kanvas para lelaki tua lengkap dengan sarung yang diselendangkan di pundaknya dan sebuah topi caping yang ada di atas kepalanya. Para lelaki tua itu tengah asik menyaksikan pertarungan ayam jantan yang diadu oleh dua lelaki tua lainnya. Lukisan itu menggambarkan keseharian warga di pedesaan Magelang. 
Suatu karya yang sangat kental dengan unsur-unsur kebudayaan. Terciptanya karya ini karena Ipang melihat keadaan lingkungan sekitarnya yang masih kuat dalam menjunjung tradisi-tradisi asli bangsa ini. “Lukisan-lukisan ini terinspirasi dari keadaan lingkungan pedesaan tempat saya tinggal, menurut pembacaan saya sendiri lalu dituangkan dalam karya-karya ini,” ujar Ipang, Minggu (22/12).
Selain lukisan di atas kanvas, terdapat lukisan-lukisan lainnya seperti karya lukis kaca dengan tema yang sama. Dalam lukisan kaca tersebut, terlihat lukisan wayang kulit yang menggambarkan berbagai lakon dan karakter yang ada dalam pementasan pewayangan. Lukisan ini terlihat lebih sempurna dengan gambar awan mega mendung yang merupakan ciri khas dari batik Cirebon di bagian atasnya.
Karya lainnya muncul dari beberapa seniman yang tergabung dalam suatu komunitas yang mengatas namakan dirinya Komunitas Lima Gunung (KLG) dari Magelang. Anggota KLB yang memamerkan karya seninya adalah Sujono (lukis kanvas, wayang saujana dan instalasi), Nugroho (lukis kaca), Khoirul Mutaqin (topeng), Hadi Suroto (wayang kulit), dan sebagainya.
Sebagian besar pelukis-pelukis tersebut menilai karya-karyanya merupakan hasil gambaran terhadap keadaan yang berada di tempat mereka tinggal. Karya-karya ini juga telah disesuaikan dengan tema dari pameran lukisan itu sendiri. “Tema pameran lukisan ini sebagai bentuk kepedulian kami terhadap budaya tradisional yang harus terus dilestarikan,” papar Ipang. (Winda Alfiani)

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Lima Gunung Lestarikan Budaya Bangsa
Next post Membuat Pelanggan Sehat Lewat Kripik