‘Grayscale’, Dunia Mimpi dalam Gelap Terang

Read Time:2 Minute, 15 Second

Puluhan karya visual mulai dari lukisan, gambar, hingga foto tertempel di sepanjang dinding Earhouse Cafe, Pamulang. Hanya ada warna keabu-abuan pada semua karya yang terpajang. Cahaya lampu yang sengaja diredupkan membuat karya-karya gelap terang tersebut semakin menonjol.


Pameran bertajuk Pandorasquad Grayscale Exhibition 2014  itu merupakan pameran tunggal dari Pandorasquad, sebuah komunitas visual grafis di UIN Jakarta. Tema grayscale atau warna keabu-abuan sengaja dipilih karena dianggap sebagai warna penyatu semua karya di sana.

Sebanyak 44 karya dari 18 seniman ditampilkan. Di antaranya adalah gambar dengan judul Catch Your Dream yang menampilkan sebuah kotak dengan belasan kaki yang menempel pada semua sisinya. Kaki-kaki tersebut seakan ingin berlari. “Seperti ingin mengejar mimpi,” ujar Rifal Mahfaza, pembuat karya tersebut.

Ada pula karya yang hanya menampilkan tulisan Draw Your Life. Setiap hurufnya dibuat seperti gambar sehingga tidak menimbulkan kesan kaku meski hanya berupa tulisan. Karya ini seakan ingin mengajak pengunjung untuk bermimpi.

Dari semua karya yang ditampilkan ada satu karya spesial sehingga dibuat pula dalam poster serta undangan pameran ini. Karya tersebut adalah foto sebuah pohon bonsai. Tanaman khas Jepang itu terlihat ditempatkan pada sebuah pot yang berbentuk seperti kerah baju. Seakan-akan tanaman itu adalah kepala manusia. “Karya ini dirasa yang paling pas menggambarkan dreaming,” tutur Rifal.

Selain grayscale, menurut Rifal, kesemua karya yang ditampilkan juga bertemakan dreaming. “Gagasan kita bermimpi, gimana sih kita mencapai mimpi kita meski berbeda satu sama lain,” ujar mahasiswa Teknik Informatika, UIN Jakarta yang juga menjadi ketua pameran itu.

Pada pameran ini memang terdapat berbagai jenis karya mulai dari lukisan hingga foto. Medianya pun berbeda-beda ada yang melukis menggunakan cat, menggambar dengan pensil, ataupun foto hasil editan digital. Hal ini lahir karena semua anggota Pandorasquad memiliki latar belakang seni yang berbeda.

Sebenarnya ide pameran tunggal ini sudah ada sejak lama, namun baru bisa terealisasikan sekarang. Dwi Cahyo Prasetyo, penggagas utama pameran ini mengatakan salah satu hal yang menjadi hambatan adalah sulitnya mencari tempat. “Izin di kampus cukup sulit karena kami komunitas independen. Selain itu di Ciputat juga memang belum ada art space yang bisa mewadahi pameran seperti ini,” ujar pria yang pernah menjadi Community Manager Pandorasquad tersebut.

Ke depan, Rifal bersama anggota Pandorasquad lainnya berharap akan lebih banyak tempat yang bisa menampung acara seni seperti ini. “Kami juga ingin menampilkan lebih banyak karya lagi yang lebih baik dari ini,” katanya.

Acara yang digelar pada 7-9 November 2014 ini tak sekadar pameran, namun juga diisi dengan live music, kelas lettering, dan menggambar bersama. Kelas lettering diadakan pada tanggal 8 November, sedangkan menggambar bersama diadakan pada 9 November sebagai penutup acara tersebut. 

Erika Hidayanti

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Sayembara Cinta Roro Mendut
Next post Ketika Negeri Darurat Cinta