Sepenggal Memori Tentang Pram

Read Time:1 Minute, 35 Second
Siapa tak kenal Pramoedya Ananta Toer? Sastrawan asal Blora, Jawa Tengah ini telah banyak menorehkan karyanya baik di tingkat nasional maupun internasional. Salah satu sastrawan terbesar Indonesia yang telah meninggalkan bumi manusianya. Tapi, pemikiran dan karya-karyanya hingga hari ini masih menghiasi dunia sastra dan kemanusiaan.

Demi mengenang jasa-jasa Pram,  sapaan akrabnya, para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan acara Haul Pram, Kamis (28/4). Acara ini merupakan haul Pram ke-10 sejak Pram menutup usia pada 30 April 2006 silam.

Haul Pram dimulai sejak pukul 09.00-23.00 WIB bertempat di Ruang Terbuka Hijau (RTH) UIN Jakarta depan sekretariat Resimen Mahasiswa (Menwa). Acara ini berisikan khataman buku tetralogi Pram, oretan memori tentang Pram, diskusi terbuka bertajuk Pram dan Seni serta panggung apresiasi seni, budaya, dan deklarasi taman budaya.


Dalam rangkaian acara panggung apresiasi seni dan budaya, hadirin disuguhkan penampilan-penampilan mahasiswa, mulai dari pembacaan puisi, sajak, hingga penampilan musik. Beberapa mahasiswa yang turut berpartisipasi di antaranya Komunitas Rusa Besi, Majelis Kantiniyah (MK), mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (Jipers), Teater Syahid, Petruk, dan lainnya.


Acara ini bertujuan, meningkatkan minat baca karya sastra Pram, menghilangkan paradigma tabu mengenal sosok serta karya-karya Pram. “Karena pada orde baru karya Pram dilarang untuk publik,” kata Koordinator Acara, Azami Mohammad, Jumat (29/4).


Azami berharap, adanya acara ini dapat mengenalkan sosok Pram serta pemikirannya dengan membaca karya Pram, khususnya pada mahasiswa UIN Jakarta hingga nantinya bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, alih fungsi RTH menjadi taman budaya.


Salah satu pembicara dalam diskusi terbuka Pram dan Seni Ahmad Zakky mengatakan, Pram sebagai penulis besar dapat menjadi contoh bagi anak muda. “Mahasiswa sebagai agen perubahan perlu meniru semangat Pram untuk terus berkarya,” ujarnya, Minggu (1/5).


Sedangkan, sambung Zakky, jika dilihat dari sejarah Pram juga turut memberikan gagasan yang dituangkan lewat karya-karyanya. Jadi, Pram bukan hanya mengambil posisi sebagai penulis, tetapi juga sebagai  sejarawan.

Arini Nurfadhilah

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Wahdi: Anggaran Riset untuk Mahasiswa Senilai 10-50 Juta
Next post May Day, Tuntut Kesejahteraan untuk Buruh