Mengapa Harus GB Parking?

Read Time:3 Minute, 35 Second

Kerjasama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Gerbang Berkah (GB) Parking dilakukan demi memperbaiki pengelolaan parkir. Hingga kini belum ada perubahan berarti.
Hampir sudah tiga bulan GB Parking berada di UIN Jakarta.Hadirnya GB Parking memang diharapkan dapat menertibkan dan mengamankan kendaraan bermotor di lingkungan kampus. Namun sayang, sampai sekarang banyak pula mahasiswa yang belum mengetahui kejelasan proses kerjasama keduanya.
Manejer GB Parking Ahmad Alpi memaparkan, sebenarnya sebelum diterapkan di kampus satu UIN Jakarta, GB Parking sudah lebih dulu diuji cobadi Rumah Sakit (RS) dan Wisma UIN Jakarta pada 20 Agustus 2016 lalu. Setelah dinilai baik, alhasil mulai awal Maret kampus satu pun menggunakan jasa GB Parking. Satu bulan kemudian, kampus dua dan tiga UIN Jakarta juga ikut menerapkan sistem pengelolaan parkir baru ini.
Untuk perizinan, lanjut Alpi, pihaknya juga sudah mendapat ijin dari Dinas Perhubungan (Dishub) Tangerang Selatan untuk mengelola parkir di kampus. Akan tetapi, saat ditanyai perihal lamanya kontrak GB Parking di UIN Jakarta ia tidak bersedia berkomentar. “Kalau urusan kontrak saya gak bisa nyebutin ya beberapa, karena saya di sini cuma megang lapangan aja,” ujarnya, Sabtu (7/5).
Selain itu, ia pun menemui beberapa kondisi yang tidak sesuai dengan perkiraan pengelola. Seperti jumlah keseluruhan pengendara motor, awalnya ia mendata hanya ada sekitar 5000 pengendara. Tapi nyatanya, di lapangan bisa sampai 6000 lebih pengendara. Sedangkan untuk kamera pengawas, GB Parking hanya menyediakannya di pintuotomatis masuk dan keluar saja. Sedangkan pemasangan kamera pengawas di dalam gedung parkir itu langsung difasilitasi oleh UIN Jakarta.
Kepala Biro Administrasi Umum dan Kepegawaian (AUK) Reti Indarsih menuturkan, pergantian pengelolaan parkir berawal dari UIN Jakarta menginginkan perparkiran dikelola oleh perusahaan profesional. Kemudian, dimulailah pendaftaran terbuka bagi perusahaan parkir swasta yang ingin mengelola parkir di kampus ini. Walhasil, terseleksilah tiga perusahaan swasta yakniMaharani Parkir, NIS Parkir, dan GB Parking.
Terpilihnya GB Parking, lanjut Reti, atas dasar kesediaan GB Parking ingin memperbaiki sistem parkir, menambah fasilitas, serta menjamin asuransi dan keamanan. Hanya saja, untuk mendukung itu semua GB Parking meminta kampus menaikkan tarif parkir dari Rp.500 menjadi Rp.1000 (motor) dan Rp.1000 bertambah Rp.2000 (mobil).
Oleh sebab itu, UIN Jakarta akhirnya memutuskan berkerjasama dengan perusahaan swasta tersebut. Ia mengungkapkan, fasilitas yang semestinya disediakan GB Parking berupa sarana dan prasarana. Seperti kamera pengawas, loket keluar otomatis, komputer, hingga loket karcis. Menyoal asuransi, kata Reti, GB Parking akan memberikan asuransi penuh bila ada kerusakan apa lagi kehilangan kendaraan. 
Senada dengan Reti, Kepala Bagian (Kabag) Umum, Suhendro Tri Anggono mengakui, kesepakatan kerjasama dengan GB Parking disesuaikan dengan kenaikkan tarif parkir dan juga nominal penyewaan lahan parkir. “Dari tiga perusahaan yang persentase GB parking itu paling masuk akal dari segi harga dan fasilitas yang ditawarkan,” terangnya, Rabu (9/5).
Kendati demikian, Suhendro justru menyayangkan sistem parkir saat ini belum mengalami perubahan signifikan, terutama dari sisi keamanan dan ketertiban. Hal itu terbukti dengan masih adanya mahasiswa yang kehilangan helm. Fasilitas keamanan semisal kamera pengawasjuga belum terpasang. Lebih lagi, kini tiap jam pulang perkuliahan sering kali terjadiantrean panjang di pintu keluar otomatis kampus.
Sementara itu, saat dihubungi Institut melalui telepon seluler untuk menanyakan kerjasama UIN Jakarta dengan GB Parking. Wakil Rektor (Warek II) bidang Administrasi Umum Abdul Hamid memberikan jawaban, “Saya hanya berkoordinasi saja, langsung tanyakan saja kepada Kabag Umum, Kepala Biro AUK dan Kabag kerjasama,” jelasnya, Rabu (11/5).
Di satu sisi, Alpi juga mengeluhkan kurangnya petugas dan lahan parkir membuat banyak kendaraan belum bisa tertata rapi. Ia menilai banyak faktor yang menyebabkan antrean panjang di pintu keluar otomatis parkir. Antar lain, aplikasi dalam komputer loker karcis bermasalah. Kemudian, masih adanya pengendara yang berlangganan kartu parkir mengambil karcis di loker. “Apalagi kalau abis hujan, pasti macet. Orang nunggu reda dulu, jadi bareng-bareng keluarnya,” katanya, Sabtu (7/5)
Hendro menimpali, belum terpasangnya kamera pengawas dan antrean panjang di palang keluar otomatis merupakan hal yang biasa. Belum maksimalnya kinerja GB Parking, menurut ia masih dalam batas kewajaran. Terlebih lagi, ditiap harinya akan selalu ada pengawasan dari kampus. Bila terjadi kesalahan, tambah ia, langsung ada dievaluasi.
Direktur Bisnis GB Parking Nindya Nazara mengatakan, pihaknya sudah memberikan solusi untuk mengatasi antrean panjang pintu keluar otomatis. Pertama dengan teknik jemput bola, yaknimenaruh dua petugas di depan pos, lalu melakukan pembayaran parkir secara kolektif. Kedua, alternatif lain ialah membuat empat loket tambahan sehinga pengendara bermotor tidak menumpuk.“Tapi usulan tersebut masih dipertimbangkan rektorat,” tutupnya, Senin (9/5).

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Menanyakan Kelanjutan Beasiswa DIPA
Next post Kebobrokan Partai Politik Indonesia