Mahasiswa Korban Gas Air Mata dari Aksi Unjuk Rasa

Read Time:2 Minute, 37 Second

Indonesia sedang dirundung pelbagai permasalahan yang memicu banyak kontra. Mulai dari polemik Rancangan Undang-Undang (RUU) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dinilai kontroversial, kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera yang asapnya mengepul hingga Singapura dan Malaysia. Kemudian konflik di Papua yang tak kunjung putus akar permasalahannya. Akibatnya, segenap elemen masyarakat menggelar aksi protes kepada pemerintah agar segera menuntaskan ragam persoalan yang melanda negara. 
Seperti halnya yang dilakukan para mahasiswa, mereka melakukan serangkaian aksi unjuk rasa. Mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Sulawesi hingga Sumatera, dan wilayah-wilayah lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Puncak dari unjuk rasa tersebut terjadi pada tanggal 24 September 2019. Di mana, para mahasiswa melakukan demonstrasi di depan gedung pemerintahan masing-masing kota tempat kampus mereka berasal. Di beberapa tempat, seperti di Jakarta dan Sulawesi Tenggara, aksi tersebut menimbulkan kerusuhan yang memakan korban luka hingga korban jiwa.
Di Kendari, Sulawesi Tenggara, dua orang mahasiswa Universitas Halu Oleo meninggal dunia. Mereka adalah Himawan Randy yang tewas tertembak peluru tajam dan Yusuf Kardawi yang meninggal dalam perawatan di rumah sakit. Sementara itu di Jakarta, banyak mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit akibat terluka maupun sesak karena tembakan gas air mata. Di antara korban-korban tersebut, banyak yang merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 
Seperti yang dialami mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK) UIN Jakarta Amelia Putri, dirinya menceritakan pengalaman pahitnya ketika mengikuti aksi unjuk rasa. Amelia telah lama mengidap penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Nahas, penyakitnya tersebut kambuh karena paparan gas air mata. Akibatnya, ia pun terpaksa mendapatkan perawatan medis. “Saat terkena gas air mata aku kambuh penyakitnya,” jelas Amelia, Kamis (3/10).
Hal serupa juga dialami oleh mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Muhammad Ibrar Putra, dirinya terpaksa dievakuasi oleh rekan-rekannya akibat mengalami sesak nafas. Mulanya Ibrar sedang mencoba menolong rekan-rekannya yang kesakitan akibat terpapar gas air mata. Sayangnya ia juga ikut terkena paparan gas air mata sehingga terpaksa dievakuasi oleh rekan-rekannya. “Saya tidak tahu gas air mata bisa separah itu ke dalam tubuh,” imbuhnya, Jumat (4/10).
Terkait penanganan korban dalam aksi unjuk rasa, salah seorang mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora Nurul Fadilah mengeluhkan minimnya tenaga medis dari UIN Jakarta yang terjun di lapangan. Kendati demikian, Fadilah tetap mengapresiasi kinerja tim kesehatan tersebut karena telah sigap dalam memberikan penanganan. “Kurang banyak petugas medisnya. Tapi kalau soal penanganan lumayan cepat,” ujar Fadilah, Jumat (4/10).
Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Kedokteran UIN Jakarta Hari Hendarto menegaskan bahwa secara resmi dirinya tidak mengirimkan tim khusus untuk menangani para korban di lapangan. Ia juga mengingatkan mahasiswa yang hendak mengikuti unjuk rasa agar terlebih dahulu mempersiapkan kesehatan mental dan fisiknya. “Supaya tidak sampai jatuh sakit atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tegas Hari usai melaksanakan salat Jumat (4/10).
Dekan FK UIN Jakarta tersebut juga berpesan agar mahasiswa lebih berhati-hati ketika melakukan demonstrasi. Hari menghimbau agar mahasiswa segera menjauh dari tempat unjuk rasa jika timbul kerusuhan atau situasi yang membahayakan. Ia juga meminta agar mahasiswa menginformasikan kepada keluarga atau kerabatnya serta menitipkan kontak temannya yang juga turut menjadi peserta aksi. “Agar bisa dihubungi seandainya putus kontak,” jelas Hari, Jumat (4/10).
MAF

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Siapkan Diri Meniti Karir
Next post Rektor Prosedural