Dari Resah, Gerakan Tolak Asap Rokok Tercipta

Dari Resah, Gerakan Tolak Asap Rokok Tercipta

Read Time:3 Minute, 33 Second
Dari Resah, Gerakan Tolak Asap Rokok Tercipta

Komunitas Aksi Kebaikan lahir sebagai bentuk keresahan mahasiswa akan hadirnya rokok di lingkungan UIN Jakarta. Mereka berkeinginan agar UIN Jakarta dapat menerapkan KTR seratus persen. 


Suatu siang pada tahun 2023, Jusvita hendak menuju Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk mengikuti kelas. Namun, Jusvita tidak langsung menuju kelas, ia menyinggahi perpustakaan terlebih dahulu. Dalam perjalanannya menuju perpustakaan, Jusvita melewati tangga perpustakaan yang berhadapan dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKom). Di sana, Jusvita melihat banyak puntung rokok berserakan. Jusvita yang pada saat itu tergabung sebagai anggota Komunitas Aksi Kebaikan, memotretnya dan membagikan di grup WhatsApp komunitas tersebut.

“Yang pasti dari momen itu kita inisiasi proyek Satu Puntung Sejuta Masalah. Mulai mikirin proyeknya seperti apa, dari aksi bersama sampai diskusinya,” tegasnya, Selasa (26/4).

Melansir dari Instagram resmi @aksikebaikan_, pada Oktober 2023, Komunitas Aksi Kebaikan menyelenggarakan kegiatan  pungut puntung rokok di Kampus 1 UIN Jakarta dengan tajuk Satu Puntung Sejuta Masalah. Dalam waktu 60 menit Komunitas Aksi Kebaikan yang berkolaborasi dengan sejumlah organisasi dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) berhasil mengumpulkan 4.715 puntung rokok di lingkungan kampus satu UIN Jakarta.

Komunitas Aksi Kebaikan merupakan wadah bagi mahasiswa yang memiliki keresahan terhadap rokok di lingkungan UIN Jakarta.  Komunitas ini didirikan oleh Sarah Muthiah Widad dan Priska Maya—sekarang alumni UIN Jakarta—pada 2019. Lewat komunitas itu, mereka berkeinginan agar UIN Jakarta dapat menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) seratus persen. 

Jusvita menjelaskan, anggota dari Komunitas Aksi Kebaikan tidak hanya mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) yang memang dekat dengan isu kesehatan, termasuk tentang dampak rokok. Tetapi, terdapat juga mahasiswa dari berbagai fakultas yang memiliki keresahan akan hadirnya rokok di kampus. “Mereka yang tergabung dalam Komunitas Aksi Kebaikan itu memang orang-orang yang ingin belajar dampak dan penyebab mengapa orang-orang tidak bisa berhenti dari rokok itu sendiri,” tuturnya. 

Jusvita menyampaikan, Komunitas Aksi Kebaikan hadir bagi mahasiswa yang ingin belajar lebih jauh tentang dampak rokok dan pengendalian tembakau. Komunitas Aksi Kebaikan memiliki beberapa kegiatan edukasi tentang dampak rokok, kebijakan atau undang-undang KTR di Indonesia, dan pengendalian tembakau. Edukasi itu biasanya dilaksanakan lewat diskusi publik, baik secara luring maupun daring, seperti: seminar, webinar dan live instagram atau diskusi via zoom meet. 

Selain itu, Komunitas Aksi Kebaikan juga kerap kali mengadakan kolaborasi dengan komunitas pengendalian tembakau tingkat nasional. Tujuannya untuk mengetahui pembaruan pengendalian tembakau di Indonesia. “Jadi kita nggak hanya sekadar belajar mengenai bahaya rokok bagi kesehatan, tapi kita juga pengen tahu kebijakan publiknya bagaimana,” ungkapnya.

Dalam proses perjalanannya, Komunitas Aksi Kebaikan tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Jusvita mengungkapkan, kurangnya kesadaran mahasiswa terhadap bahaya rokok, serta anggapan bahwa merokok merupakan sesuatu yang normal menjadi hambatan. Menurutnya, para perokok tentu mengetahui bahaya dari rokok tersebut, namun tidak mencoba untuk berhenti merokok. 

Namun demikian, Jusvita berkeyakinan bahwa Komunitas Aksi Kebaikan berpeluang besar ke depannya. Sebab, di balik banyaknya mahasiswa perokok di UIN Jakarta, juga terdapat mahasiswa yang memiliki keresahan yang sama terhadap rokok di kampus, namun tidak memiliki wadah untuk menyampaikan keresahan tersebut.

Komunitas Aksi Kebaikan turut mendapatkan respons positif dari civitas academica, terutama Lily Surayya Eka Putri selaku Guru Besar Biologi Lingkungan dan Direktur Sustainable Development Goals (SDGs) UIN Jakarta. Lily merupakan orang yang memiliki perhatian besar terhadap green campus, dengan itu Jusvita ingin menghubungkan antara KTR dengan penerapan green campus di UIN Jakarta. “Waktu itu ibunya bilang mendukung aja sih kalau ingin melakukan aksi (penegakkan KTR di kampus),” jelasnya. 

Berkaitan dengan kelanjutan kegiatan Komunitas Aksi Kebaikan, Jusvita menjelaskan bahwa ke depannya akan dilakukan regenerasi terhadap keanggotaan komunitas tersebut. Meskipun demikian, pada Maret 2025 lalu, ia sudah rencanakan untuk membuka penerimaan anggota baru. Bahkan, Jusvita sudah menyiapkan pamflet dan buklet, namun hal itu tidak kesampaian akibat terkendala skripsi dan kurangnya partisipasi dari sebagian anggota  Komunitas Aksi Kebaikan saat itu. 

“Kedepannya tetap lanjutin Komunitas Aksi Kebaikan, meskipun itu diskusi hanya lima sampai enam orang, pasti akan ada suatu momen suara Komunitas Aksi Kebaikan itu akan didengar civitas academica di kampus.” terangnya.

Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Dzafirah Kurnia Ashila mengungkapkan, ia mendukung gerakan KTR yang dilakukan Komunitas Aksi Kebaikan. Meskipun sebelumnya ia tidak mengetahui adanya komunitas itu, tetapi ia berharap Komunitas Aksi Kebaikan dapat meminimalisir keberadaan rokok di lingkungan kampus. “Semoga banyak yang mendukung komunitas tersebut,” pungkasnya, Kamis (1/5). 

Reporter: AA
Editor: Muhammad Arifin Ilham

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Fakta Melemah, Hoaks Merekah Previous post Fakta Melemah, Hoaks Merekah
Refleksi Realita HAM Pasca 27 Tahun Reformasi Next post Refleksi Realita HAM Pasca 27 Tahun Reformasi