
Riset yang melibatkan 1.061 responden dari 29 provinsi menunjukkan fenomena overthinking kian meluas. Di kalangan mahasiswa, tekanan akademik, tuntutan nilai, hingga perbandingan sosial menjadi pemicu utama yang menggerus kesehatan mental.
Overthinking atau kebiasaan berpikir berlebihan menjadi fenomena yang semakin banyak dialami oleh mahasiswa di era modern. Health Collaborative Center (HCC) bersama Ray Wagiu Basrowi melakukan sebuah penelitian yang melibatkan 1.061 responden dari 29 provinsi selama Januari hingga Februari 2025. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 50% penduduk di Indonesia mengalami overthinking dengan pola pikir negatif yang berulang atau repetitive negative thinking.
Melansir akfarcefada.ac.id, pemicu overthinking di kalangan mahasiswa bisa datang dari beberapa sumber, diantaranya tugas yang menumpuk, nilai yang tidak sesuai harapan, tekanan orang tua, pergaulan, hingga masalah percintaan. Perbedaan overthinking akademik dan sosial pada mahasiswa terletak pada fokus pikirannya, meski keduanya sama-sama merusak performa secara keseluruhan.
Selain itu, berdasarkan jurnal yang ditulis Muhammad Zidan Wianto Putra pada tahun 2024 bertajuk Dampak Buruk Overthinking Bagi Para Remaja, overthinking merupakan hasil dari berbagai faktor seperti kecemasan, ketidakpastian, dan tekanan sosial. Sehingga hal itu dapat berdampak negatif pada kesejahteraan mental dan kinerja akademis remaja.
Muhammad Lais Marsal, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) mengaku kerap mengalami overthinking setelah pengumuman nilai ujian yang tidak sesuai harapan. Tekanan tugas praktikum yang padat dan tuntutan nilai membuat pikirannya terus berputar, terutama saat bangun tidur. Terkadang, ia juga merasa takut gagal meski sudah berusaha seoptimal mungkin. “Saya sudah belajar keras, tapi ketika saya melihat nilai yang kurang bagus, saya terus memikirkan usaha saya yang sudah maksimal tapi hasilnya tidak memuaskan,” ujarnya, Selasa (16/12).
Hal serupa dialami Ayunda Retno, Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Ia mengaku sering mengalami overthinking saat menghadapi tekanan akademik seperti deadline revisi skripsi atau Ulangan Akhir Semester (UAS) yang belum selesai. Tekanan akademik itu diperparah oleh perbandingan dengan teman seangkatan yang lebih dulu menyelesaikan skripsinya. Overthinking tersebut biasanya muncul dalam bentuk bayang-bayang skenario terburuk.
“Saya biasanya kalau udah ngerasa overthinking akan susah tidur, dan ketika ingin tidur merasa gelisah. Misal, saya sedang bimbingan tapi revisi saya belum selesai, pasti kepikiran sampai malam,” tuturnya, Kamis (18/12).
Dosen Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Iklima Ritmiani mengatakan, fenomena overthinking di mahasiswa terbagi dua, yaitu penyesalan masa lalu seperti menyesali nilai yang buruk, dan kecemasan masa depan seperti kecemasan sulit mendapatkan pekerjaan. Sehingga, hal itu dapat mengganggu tidur hingga performa akademik. Ia menekankan, kampus dapat berperan dalam membantu mengatasi overthinking mahasiswa melalui diskusi terbuka dengan dosen, serta sistem evaluasi yang jelas. Selain itu, kampus dapat menyediakan layanan konseling untuk mencegah overthinking berkepanjangan.
“Overthinking di kalangan mahasiswa sering dipicu oleh media sosial yang memamerkan prestasi orang lain, ditambah tekanan IPK dan ketidakpastian karir pasca-lulus,” ujarnya, saat diwawancara via WhatsApp, Kamis (18/12).
Reporter: DNMP
Editor: Naila Asyifa
