Tekanan Hustle Culture Pengaruhi Mental Mahasiswa

Tekanan Hustle Culture Pengaruhi Mental Mahasiswa

Read Time:3 Minute, 42 Second
Tekanan Hustle Culture Pengaruhi Mental Mahasiswa

Beberapa penelitian menunjukan dampak hustle culture sering terjadi di kalangan mahasiswa. Hal itu berpengaruh besar terhadap kesehatan mental mahasiswa. 


Mengutip Alodokter, hustle culture adalah istilah budaya kerja keras ekstrem yang dilakukan seseorang demi mencapai kesuksesan profesional yang sering kali melampaui batas kemampuan dirinya. Ketika seseorang dipengaruhi hustle culture, ia akan mengorbankan waktu istirahat untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu, jarang puas ketika mendapatkan apa yang ia targetkan, dan terkadang merasa bersalah dalam mengerjakan suatu kegiatan. 

Hustle culture bisa menimbulkan dampak pada kesehatan mental serta perkembangan akademik mahasiswa. Melansir penelitian bertajuk Ambisi Tanpa Batas, Hustle Culture Justru Mengabaikan Hak Mahasiswa atas Kehidupan yang Seimbang oleh Gabrillia Sopala Samosir Putri Nuraini, dan Supriyono pada tahun 2025 menunjukkan bahwa hustle culture membuat mayoritas mahasiswa seringkali begadang untuk mengerjakan tugas atau mempelajari materi perkulliahan. Hal itu menyebabkan pola tidur mereka terganggu, tubuh cepat lelah dan mudah sakit. 

Serupa dengan penelitian tersebut, mengutip Jurnal Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), berjudul Faktor Berhubungan yang Berhubungan dengan Hustle Culture Pada Mahasiswa di Masa Pandemi Covid- 19. Hasil penelitian yang dilakukan Zaliha pada  tahun 2021 mengungkapkan sebanyak 94% mahasiswa di provinsi Kalimantan Selatan mengalami perilaku hustle culture. Hal itu membuat munculnya konflik batin akibat kesulitan membagi waktu antara kuliah dan organisasi yang berdampak pada penurunan nilai akademik dan kecemasan berlebih.

Annazwa Fadhila, mahasiswa Nusa Putra University yang aktif  berorganisasi mengungkapkan padatnya rutinitas membuat ia sering merasakan burnout— kelelahan fisik dan dan mental. Aktivitas yang diikutinya meliputi organisasi kampus, perlombaan, workshop, seminar hingga bisnis pribadi yang menyebabkan kelelahan fisik seperti kurang tidur dan tidak sempat makan. Hal itu membuat dirinya melupakan keinginan pribadi dan rencana kehidupan yang telah tersusun. 

“Ketika burnout saya merasa bosan sejenak, dan yang lebih parah adalah melupakan keinginan diri sendiri, sehingga perlahan mulai meninggalkan rencana kehidupan yang telah tersusun,” tambahnya, Selasa (20/1).

Di sisi lain, Anandhita Deadri Putri, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengaku mengikuti berbagai organisasi dalam satu waktu memengaruhi kondisi fisiknya. Hal itu dilakukan Anandhita untuk menambah pengalamannya untuk dimasukan kedalam Curriculum Vitae (CV).

“Banyak aktivitas yang harus dikerjakan sekaligus membuat saya merasa capek, namun itu merupakan tanggung jawab yang harus dipikul. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk keluar dari salah satu organisasi yang saya ikuti karena tidak mampu lagi menanggung beban tersebut,” keluh Anandhita, Selasa (20/1).

Rachmat Mulyono, dosen Psikologi Perkembangan UIN Jakarta, mengungkapkan bahwa ciri khas hustle culture di kalangan mahasiswa biasanya menunjukkan kombinasi pola pikir, emosi, dan perilaku tertentu. Diantaranya seperti mahasiswa memiliki perasaan merasa berharga hanya jika sibuk atau menghasilkan sesuatu sehingga muncul rasa bersalah saat tidak produktif. Hal itu membuat istirahat tidak lagi terasa menyenangkan bagi mahasiswa melainkan membuang waktu, bahkan saat libur pikiran tetap dipenuhi target.  

Selain itu, muncul kecemasan kronis, burnout hingga mengabaikan kebutuhan dasar dan relasi sosial. Banyak juga yang terus membandingkan diri dengan orang lain dan kesulitan mengenali batas diri, selalu mengiakan pada semua tuntutan.

Rachmat menambahkan bahwa dampak dari hustle culture ada memiliki tingkatan sesuai dengan beban akademik mahasiswa di masing-masing Program Studi (Prodi). Seperti tuntutan prodi kedokteran, teknik, hukum, akuntansi, arsitektur, dan sains ciri budayanya memiliki evaluasi ketat dan hierarkis, budaya “tahan banting”. Sementara itu, prodi sosial dan pendidikan seperti psikologi, sosiologi, dan pendidikan memiliki dampak dominan berupa kelelahan emosional, compassion fatigue, dan konflik nilai.

“Semakin dini hustle culture terinternalisasi dan semakin kompetitif lingkungannya, semakin besar risiko dampak psikologis jangka panjang,” ungkap Rachmat, Sabtu (25/1).

Rachmat memberikan strategi yang efektif agar tidak terjebak hustle culture dari prinsip psikologis klinis, pendidikan, dan kesehatan mental. Mahasiswa harus membedakan antara tujuan inti dan tekanan sosial. Kurangi mengejar validasi eksternal seperti pengakuan. 

“Mahasiswa perlu bertanya, “mengapa aku perlu melakukan ini?”. Mulai menerima kesulitan sebagai bagian dari kehidupan manusiawi, yang terbukti lebih efektif. Alih-alih berkata “aku gagal, berarti aku bodoh”. Latih narasi seperti “aku sedang kesulitan, dan itu manusiawi”,’’ jelas Rachmat.

Ia menambahkan mahasiswa perlu mengatur ritme kerja melalui istirahat terjadwal dan tidur yang cukup serta menetapkan batas prioritas. Jika rutin dilakukan, dampak psikologis yang akan terasa yaitu menurunkan kecemasan dan depresi, meningkatkan resiliensi, dan mencegah burnout

Menurutnya kampus memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa menyiasati dampak hustle culture. Langkah yang dapat dilakukan kampus bisa dengan menyediakan konseling kesehatan mental yang mudah diakses, mengedukasi manajemen stres dalam kurikulum, serta membuat kegiatan yang mendorong kolaborasi bukan persaingan berlebihan.

 “Menghadapi dampak negatif hustle culture bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab struktural institusi pendidikan,” pungkas Rachmat.

Reporter: RPS
Editor: Rifki Kurniawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
100 %
Overthinking Gerus Kesehatan Mental Mahasiswa Previous post Overthinking Gerus Kesehatan Mental Mahasiswa
Mahasiswa KIP Kuliah Terjebak Hedonisme Next post Mahasiswa KIP Kuliah Terjebak Hedonisme