
Kemunculan tren konten Marriage is Scary sebabkan ketakutan dikalangan Gen Z terhadap pernikahan.
Marriage is scary sedang populer dibicarakan kalangan Generasi Z (Gen Z)—anak muda kelahiran tahun 1997 sampai 2012—di media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X. Mengutip dari liputan6, Marriage is scary merupakan tren konten di media sosial yang menggambarkan fenomena seseorang takut untuk menikah. Konten tersebut terdiri dari video kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), foto bukti perselingkuhan, serta postingan aib pasangan yang beredar luas di berbagai platform media sosial.
Beredarnya konten marriage scary terlihat dengan ramainya tagar marriage is scary di platform media sosial Instagram dan Tiktok. Terdapat 13.000 postingan dengan tagar marriage is scary di TikTok, dan lebih dari 1.000 postingan tercantum tagar marriage is scary di Instagram.
Melansir kanal Youtube @tvOneNews, akibat pertengkaran adu mulut, seorang suami berinisial, HC alias A (55), warga Desa Aek Haruaya, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utar, diduga tega membakar istrinya sendiri, DS (55). Dalam video tersebut, muncul komentar warganet terkait kasus tersebut membuat ia khawatir untuk menikah.
Bayu, mahasiswa Universitas Diponegoro, mengaku takut saat melihat konten tentang marriage is scary yang ada di media sosialnya. Hal ini juga dipicu oleh banyaknya paparan konten-konten negatif tentang pernikahan.
“Sehari bisa 10-15 konten tentang marriage is scary ini, jika melihat di media sosial pernikahan sering berujung pada perceraian, sehingga menurutku berpisah sesuatu yang sangat menyakitkan. Akhirnya yang dirasakan takut saat ingin memilih pasangan dan menjadi lebih waspada,” ujar Bayu, Rabu (18/2).
Lebih lanjut Bayu menjelaskan adanya tren ini juga memperkuat alasannya untuk tidak menikah di usia muda. Ia merasa menikah muda perlu persiapan yang matang agar tidak berujung pada perceraian. “Ketika tren ini terus muncul, sekarang jadi lebih kompleks dalam memilih pasangan dan menunda untuk nikah muda. Nikah tidak bisa hanya karena cinta, perlu melihat faktor ekonomi, emosi, pemikiran, dan komunikasi,” tambahnya.
Sebagai mahasiswa yang aktif dalam sosial media, Bayu menganggap tren tersebut positif karena dapat melihat informasi mengenai fenomena marriage is scary. Oleh karena itu kini Bayu lebih waspada dan sadar tentang pernikahan. “Ketika mereka membagikan pengalaman mereka tentang pernikahan akhirnya kita bisa lebih sadar dan dapat berpikir secara jangka panjang untuk menikah. Pernikahan sendiri ternyata bukan sekadar cinta, tetapi banyak faktor yang perlu dipertimbangkan,” ucap Bayu, Rabu (18/02).
Selaras dengan Bayu, Fira—bukan nama sebenarnya, mahasiswi Universitas Pamulang, mengaku juga merasa takut dan marah ketika melihat konten tentang marriage is scary. Hal itu membuat Fira merasa menikah di usia muda bukan pilihan yang tepat.
“Saya ingin menikah, akan tetapi tidak ingin menikah di usia muda karena perlu melihat berbagai faktor seperti sifat pasangan, pekerjaan, dan sosialnya,” ujar Fira, Jumat (20/2).
Menurut Fira menikah muda di zaman sekarang merupakan langkah yang kurang tepat karena melihat banyaknya pernikahan yang berujung pada perceraian. Ia merasa ketika menikah muda kecerdasan emosi seseorang belum matang, sehingga akan berpengaruh pada pola asuh anak nantinya. “Kurang setuju, karena dari yang dilihat banyak yang berujung perceraian. Kurang matangnya kecerdasan emosi juga dapat berdampak pada anaknya,” tambahnya.
Isna Siskawati, dosen Perkembangan Teknologi Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengungkapkan terdapat pergeseran pola komunikasi digital pada Gen Z. Rasa takut Gen Z pada pernikahan menjadi fenomena yang berkaitan dengan kemunculan tren marriage is scary.
“Biasanya suatu konten yang menyakut emosional akan lebih mudah untuk viral, termasuk tren marriage is scary. Banyaknya tagar tentang hal tersebut juga membuat algoritma media sosial membacanya, sehingga terus-menerus muncul dan menjadi ketakutan yang nyata pada Gen Z,” ucap Isna, (18/2).
Terlihat dari Data Badan Pusat Statistik (BPS), pernikahan di Indonesia terus mengalami penurunan terlebih pasca pandemi Covid-19. Walaupun pada tahun 2025 sedikit mengalami kenaikan sekitar 1000, akan tetapi angka pernikahan masih berada di bawah satu dekade lalu, yaitu 1.958.394 pada tahun 2016.
Isna menambahkan Gen Z khususnya kalangan mahasiswa perlu lebih menyaring informasi, karena semakin sering terpapar suatu informasi tentang marriage is scary maka hal itu yang akan terjadi dan membentuk persepsi dalam diri. “Gen Z perlu menyaring segala informasi, terutama yang toxic dan membuat prasangka buruk. Semakin kita melihat konten itu, dampaknya akan membentuk persepsi bahwa menikah itu menakutkan,” tambahnya.
Isna memberikan strategi agar Gen Z tidak terjebak dalam rasa takut untuk menikah. Selain menyaring informasi, Gen Z juga perlu untuk memperbanyak literasi terutama tentang pernikahan. Karena menurutnya ketika terdapat keinginan untuk belajar komunikasi, komitmen, memiliki tujuan menikah, dan menyadari bahwa menikah bukan sekadar tentang cinta, maka pernikahan bukan suatu hal yang menyeramkan lagi.
Reporter: RAA
Editor: Rifki Kurniawan
