
Judul: Home Sweet Loan
Tahun Rilis: 2024
Genre: Drama Keluarga
Sutradara: Sabrina Rochelle Kalangie
Durasi: 1:51:46
Film “Home Sweet Loan” merupakan film drama keluarga yang diadaptasi dari novel populer karya Amira Bastari dengan judul serupa. Film ini pertama kali rilis di bioskop pada 26 September 2024 yang disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie bekerja sama dengan penulis skenario Widya Arifianti. Adapun Visinema Pictures dan Legacy Pictures menjadi rumah produksi dalam pembuatan film ini.
Film berdurasi 112 menit ini menceritakan kisah Kaluna, seorang wanita karir yang berasal dari kelas ekonomi menengah dan tinggal bersama orang tua serta kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga. Kaluna memiliki cita-cita memiliki rumah pribadi yang terletak di perkotaan pada usia mudanya. Akan tetapi, walaupun sudah bekerja keras dan hidup sederhana untuk mewujudkan cita-citanya, banyak rintangan yang harus dilalui oleh Kaluna, salah satunya menjadi tulang punggung untuk memenuhi kebutuhan keluarga besar sehari-harinya.
Kaluna rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Kaluna bahkan sering melakukan survei ke berbagai lokasi untuk mewujudkan cita-citanya, ditemani oleh sahabat-sahabatnya, Danan, Miya, dan Tanish. Kisah Kaluna menggambarkan realita sulitnya anak muda memiliki rumah. Melansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kepemilikan rumah secara nasional di tahun 2025 sebesar 85,07 persen. Walaupun secara nasional memiliki jumlah persentase yang tinggi, namun di kota besar seperti Jakarta hanya sebesar 54,54 persen.
Selain itu, faktor yang membuat Kaluna sulit membeli rumah impiannya karena terjebak menjadi generasi sandwich dan stagnasi pendapatan. Hal itu selaras dengan realita sejumlah anak muda di Indonesia. Melansir dari antaranews.com, survei yang dilakukan YouGov yang dilakukan secara daring pada 17 sampai 21 April 2025 terhadap 2.067 responden dewasa di atas 18 tahun di Indonesia, 46 persen responden yang berasal dari kelompok generasi sandwich maupun tidak melaporkan pendapatan stagnan. Generasi sandwich merupakan istilah yang merujuk pada individu dewasa yang terjepit di tengah tanggung jawab finansial dan emosional yang harus menanggung kebutuhan tiga generasi, yaitu orang tua yang menua, diri sendiri, dan anak-anak yang menjadi tanggungan.
Kaluna terpaksa meminjamkan uang tabungannya untuk melunasi pinjaman online yang menjerat kakak iparnya, Kanendra. Kanendra melakukan pinjaman online tersebut untuk memenuhi kekurangan membeli sebuah tanah kavling dengan menggadaikan sertifikat rumah keluarganya. Melalui konflik pinjaman online dan keluarga, film tersebut merekam krisis kelas menengah dan generasi sandwich yang terjebak antara tanggung jawab keluarga, utang, dan mimpi ekonomi yang kian sulit digapai.
Kondisi Kaluna serupa dengan kondisi kelas menengah di Indonesia yang semakin terhimpit dan turun kelas. Mengutip dari tempo.co jumlah kelas menengah di Indonesia mengalami penurunan secara signifikan selama lima tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, jumlah kelas menengah di tahun 2019 sebesar 57,33 juta menjadi 47,85 juta pada tahun 2024. Artinya jumlah kelas menengah mengalami penurunan sebesar 9,48 juta orang selama lima tahun terakhir.
Film tersebut menggambarkan realita kehidupan masyarakat kelas menengah di Indonesia, khususnya anak muda yang ingin memenuhi kebutuhan papannya. Generasi muda saat ini kenyataannya dalam memenuhi kebutuhan papannya memiliki tantangan yang cukup sulit. Banyak dari anak muda yang berasal dari kelas menengah terpaksa melakukan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk memenuhi kebutuhan papannya.
Hal itu serupa dengan kondisi Indonesia yang masuk daftar negara dengan harga rumah tidak terjangkau. Melansir kompas.com, berdasarkan laporan terbaru Best Brokers yang membandingkan harga rumah di 62 negara pada tahun 2024. Mereka melihat harga rumah per meter persegi dalam dollar AS per 10 September yang diterbitkan oleh Numbeo. Harga rumah rata-rata per meter persegi di Indonesia berkisar Rp 18.346.680 dan gaji tahunan rata-rata Rp.37.945.555 dengan rasio harga rumah terhadap pendapatan berkisar 48,35 persen.
Home Sweet Loan adalah cerita yang sangat nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Berlatar belakang kehidupan perkotaan, seperti kemacetan dan ramainya penggunaan transportasi umum di Jakarta. Namun, penutup dari film tersebut sangatlah terburu-buru, terutama dalam bagian percintaan antara Kaluna dengan Danan, sehingga beberapa momen terasa kurang mendalam.
Penulis: AA
Editor: Rifki Kurniawan
