Berhenti Impor Beras, Cintai Produk Sendiri

Read Time:1 Minute, 54 Second
Bila ada seribu mahasiswa yang peduli terhadap kedaulatan pangan, yang peduli terhadap nasib para petani, pastikan dalam diri kita, kita adalah satu di dalamnya..

Bila ada seratus mahasiswa, yang peduli terhadap kedaulatan pangan, yang peduli terhadap nasib para petani, pastikan dalam diri kita, kita adalah satu di dalamnya…

Bila ada, satu satunya mahasiswa, yang peduli terhadap kedaulatan pangan, yang peduli terhadap nasib para petani lokal, pastikan dalam diri kita, kita adalah satu satunya itu, kita yang peduli itu…

Tiga baris kalimat itulah yang dilaungkan oleh beberapa mahasiswa dari Jurusan Agribisnis Fakultas Sain dan Teknologi (FST) dalam aksi bertajuk “KONTEMPLASI KEDAULATAN PANGAN : Refleksi Memperingati Hari Tani ke-55”. Aksi dimulai dengan berjalan dari halaman FST kemudian ke Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) dan berakhir di depan Halte Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (30/9).

Koordinator lapangan (Korlap), Sahrul Maulidian Alfarizal menuturkan aksi tersebut diadakan guna memperingati Hari Tani Nasional yang ke-55 pada  24 September 2015 kemarin. Selain itu, aksi ini sebagai bentuk penolakan program pemerintah yaitu mengimpor beras, yang disahkan pada 22 september lalu. “Kami tidak setuju dengan program ini, di indonesia pun masih banyak sumber yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Tambah Sahrul,  sumber energi bagi masyarakat Indonesia bukan hanya beras. Namun, banyak juga makanan lain seperti singkong, ubi, dan jagung yang sama-sama mengandung karbohidrat seperti beras. Menurutnya, masyarakat dan mahasiswa perlu mengetahui jenis makanan lokal yang masih bisa memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus mengimpor. ”Kalau mengimpor, berarti pengeluaran negara makin bertambah,” katanya.

Disamping itu, pimpinan aksi, Noval Abdillah juga mengatakan dalam aksi ini mahasiswa memiliki tiga tuntutan. Pertama, rencana impor beras harus dibatalkan karena semakin memperbesar pengeluaran negara. Kedua, penganekaragaman makanan pokok harus dilakukan pemerintah supaya masyarakat tidak tergantung kepada beras. “Sumber tenaga kan tidak hanya dari beras, di papua sana juga makan sagu, mereka tetap hidup,” katanya.

Terakhir, lanjut Noval, pembagian distribusi ke petani harus diperbaiki. Noval menyarankan agar pemerintah mengelola disribusi dari petani langsung ke pasar. ”Supaya harga yang dipasar tidak terlalu mahal dan petani pun mendapatkan upah yang sepantasnya,” tutupnya.

Salah satu mahasiswa Fakultas Ushuluddin (FU), Faris Fadil mengatakan adanya aksi tersebut memperlihatkan bahwa masih banyak mahasiswa yang peduli dengan petani. Tetapi, ia menyayangkan waktunya yang dilaksanakan pada jam kuliah. “Perlu disesuaikan kembali waktu berorasi, supaya tidak mengganggu aktifitas perkuliahan,” katanya.

YZ

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Kota Penuh Bekas Luka
Next post Melek Media dan Jadi Penonton yang Cerdas