Melek Media dan Jadi Penonton yang Cerdas

Read Time:1 Minute, 54 Second
“Tayangan televisi tidak gratis!”. Begitulah kalimat yang dikatakan oleh  Septi Diah Pramewari dalam acara diskusi umum yang bertema Melek Media : Bongkar Orde Televisi di Aula Student Center (SC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, selasa (29/9).
Ia memaparkan, sebagian besar masyarakat mengira bahwa tayangan televisi yang hadir di masyarakat merupakan sajian gratis. Padahal, siaran tersebut dibayar menggunakan pajak publik. Untuk itu, sudah sepatutnya stasiun TV wajib menyediakan tayangan yang sehat, benar dan bermanfaat.

Sayangnya, sambung Septi, acara televisi saat ini tak maksimal. Banyak kandungan hiburan yang menggunakan kata-kata kasar yang mengakibatkan bahasa anak-anak pada umumnya menjadi rusak.

Selain itu, ada sebagian televisi yang menjadikan hiburan sebagai sajian yang dominan. Padahal fungsi media mencakup empat hal yaitu, sebagai pemberi informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial.

Hal itu terjadi karena tayangan hiburan dapat memberikan nilai tinggi media tersebut. Sehingga, dalam tayangan hiburan dapat mendatangkan banyak iklan dan memberikan keuntungan yang besar.

Karenanya, Remotivi hadir sebagai bentuk inisiatif warga untuk merespons praktik industri televisi pasca orde baru yang semakin komersial. ” 57% media sekarang adalah milik industri yang sibuk mencari keuntungan, tanpa memikirkan apa yang mereka sajikan dalam tayangannya”, tutur staf divisi kampanye dan advokasi Remotivi tersebut.

Senada dengan Septi, Rulli Nasrullah yang akrab disapa kang Arul pun menuturkan bahwa sudah sepatutnya media menjadi panutan masyarakat. Melihat, banyak keuntungan yang diperoleh dari siarannya.

Selain itu, ia menganjurkan agar masyarakat lebih cerdas dalam memilih media, khususnya dalam menonton tayangan televisi. “masyarakat harus melek media, jangan menjadi penonton buta”, tutur dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Jakarta tersebut.

Ketua pelaksana, Eli Murtiana mengatakan, diskusi publik ini bertujuan menyadarkan masyarakat, khususnya mahasiswa agar dapat lebih melek media. Maksudnya,  masyarakat harus menyadari bahwa mereka memiliki hak atas media. Sehingga, mereka pun dapat ikut andil dalam mengawasi media khususnya televisi.

Ia pun memaparkan bahwa tema Melek media: bongkar orde televisi ini karena, televisi merupakan media yang dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat. ” Dari masyarakat yang kaya, miskin, muda, tua, bahkan kanak-kanak, pasti pernah nonton tv”, katanya.

Salah satu peserta diskusi, Aisyah, mengungkapkan bahwa sosialisasi tentang media sangat perlu dilakukan. Agar masyarakat dapat lebih menyadari haknya terhadap media. “melek media sangat perlu, agar bisa menjadikan kita sebagai penonton yang cerdas” ucap mahasiswa Pendidikan  Bahasa Arab tersebut.
JA

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Berhenti Impor Beras, Cintai Produk Sendiri
Next post KPK Ajak Persma Cegah Korupsi