hitta mer om 55Bet Sport
utforska 55Bet Bet
find det rigtige dansk casino idealiskt för 1Bet Casino utforska casino bonus perfekt för 10Euro direkte link til nye casinoer
spil nu hos https://www.pipcasino.nu
Pip Bet
https://www.spinju1.se
spinjam1.se
geprüft und genehmigt Hamburg friskt indhold om spilleautomater trovärdig info om slots
online casino
今すぐ RoyalXO 日本
start hos Vegas Casino
https://www.vbetcasino.nu
friskt indhold om VBet >

Melek Media dan Jadi Penonton yang Cerdas

“Tayangan televisi tidak gratis!”. Begitulah kalimat yang dikatakan oleh  Septi Diah Pramewari dalam acara diskusi umum yang bertema Melek Media : Bongkar Orde Televisi di Aula Student Center (SC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, selasa (29/9).
Ia memaparkan, sebagian besar masyarakat mengira bahwa tayangan televisi yang hadir di masyarakat merupakan sajian gratis. Padahal, siaran tersebut dibayar menggunakan pajak publik. Untuk itu, sudah sepatutnya stasiun TV wajib menyediakan tayangan yang sehat, benar dan bermanfaat.

Sayangnya, sambung Septi, acara televisi saat ini tak maksimal. Banyak kandungan hiburan yang menggunakan kata-kata kasar yang mengakibatkan bahasa anak-anak pada umumnya menjadi rusak.

Selain itu, ada sebagian televisi yang menjadikan hiburan sebagai sajian yang dominan. Padahal fungsi media mencakup empat hal yaitu, sebagai pemberi informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial.

Hal itu terjadi karena tayangan hiburan dapat memberikan nilai tinggi media tersebut. Sehingga, dalam tayangan hiburan dapat mendatangkan banyak iklan dan memberikan keuntungan yang besar.

Karenanya, Remotivi hadir sebagai bentuk inisiatif warga untuk merespons praktik industri televisi pasca orde baru yang semakin komersial. ” 57% media sekarang adalah milik industri yang sibuk mencari keuntungan, tanpa memikirkan apa yang mereka sajikan dalam tayangannya”, tutur staf divisi kampanye dan advokasi Remotivi tersebut.

Senada dengan Septi, Rulli Nasrullah yang akrab disapa kang Arul pun menuturkan bahwa sudah sepatutnya media menjadi panutan masyarakat. Melihat, banyak keuntungan yang diperoleh dari siarannya.

Selain itu, ia menganjurkan agar masyarakat lebih cerdas dalam memilih media, khususnya dalam menonton tayangan televisi. “masyarakat harus melek media, jangan menjadi penonton buta”, tutur dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Jakarta tersebut.

Ketua pelaksana, Eli Murtiana mengatakan, diskusi publik ini bertujuan menyadarkan masyarakat, khususnya mahasiswa agar dapat lebih melek media. Maksudnya,  masyarakat harus menyadari bahwa mereka memiliki hak atas media. Sehingga, mereka pun dapat ikut andil dalam mengawasi media khususnya televisi.

Ia pun memaparkan bahwa tema Melek media: bongkar orde televisi ini karena, televisi merupakan media yang dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat. ” Dari masyarakat yang kaya, miskin, muda, tua, bahkan kanak-kanak, pasti pernah nonton tv”, katanya.

Salah satu peserta diskusi, Aisyah, mengungkapkan bahwa sosialisasi tentang media sangat perlu dilakukan. Agar masyarakat dapat lebih menyadari haknya terhadap media. “melek media sangat perlu, agar bisa menjadikan kita sebagai penonton yang cerdas” ucap mahasiswa Pendidikan  Bahasa Arab tersebut.
JA

Tinggalkan Balasan

Previous post Berhenti Impor Beras, Cintai Produk Sendiri
Next post KPK Ajak Persma Cegah Korupsi

nye casinoer

alt du har brug for vegascasino.nu

https://unlimitcasino.nu

インスピレーション royalxo.jp

ライセンスカジノ
casino beoordelingen Nederlands casino
gratis snurr spelautomater
noggrant valt https://slotzycasino.se
www.slotzycasino.se
senest opdateret dansk casino
missa inte spinjam1.se/

månadens bästa casino bonus

casino bonus

bedst lige nu 20 Bet Casino

slots

55-bet.nu