Pesan Persatuan Lewat Pementasan

Read Time:1 Minute, 49 Second
Terlihat dari sisi kanan tanah lapang yang berdebu seratus orang lebih yang tergabung dalam pertunjukan, sembari membawa bambu yang dihiasi atribut kemerdekaan. Bambu tersebut ada yang dihiasi bendera merah putih serta ada yang dihiasi pernak-pernik pendukung pertunjukan. Sementara itu di samping kiri dan kanan lapang terdengar riuhan tepuk tangan para penonton yang memadati arena pertunjukan.
Pementasan drama kolosal ini dibawakan oleh teater Paguyuban Kesenian Siswa (PAKSI) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Pandeglang. Pentas yang diperankan  oleh seratus orang pemain ini ada di bawah naungan Sang Dwi Warna untuk menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-72 yang di gelar rutin tiap tahunnya dalam Pesta Rakyat Cibaliung (PRC).
Sebagai pembuat naskah, sutradara, sekaligus pembina PAKSI, Munawir Syahidi ini ingin menyampaikan tentang persatuan, kesatuan dan bahayanya adu domba termasuk bagaimana menanggapi informasi bohong atau  hoax  yang semakin meningkat di era teknologi ini.
Pagelaran dibuka dengan kedatangan dalang yang diperankan oleh Fajar Saris dengan iringan musik kendang dan gong, ditambah dengan suara Sinden yang bernyanyi mengiringi kedatangan dalang. Leu eleuh geuning wa dalang bagea sumping  kata Sinden dalam lagunya. Lalu dibacakanlah prolog pemetaan di bawah naungan Sang Dwi Warna yaitu seorang Ibu yang berteriak karena Belanda menyerang kemudian ia mati terbunuh.
Hal ini membuat dua tokoh kiyai mewaspadai serangan belanda dan menyerukan persatuan. Peperangan pertama yang terjadi dapat mengalahkan pasukan Belanda karena dua kampung tersebut bersatu walaupun belum memiliki alat dan senjata perang yang baik.
Adu domba Belanda mulai dilakukan, dengan mengirim surat palsu dan provokasi kepada dua kiyai tersebut sehingga mereka saling membenci, saling tidak percaya dan terpecah. Dengan adanya isu penggaggalan pernikahan putra mereka yang sebenarnya hanya akal-akalan Belanda.
Namun pada serangan kedua meski menara pengintai telah dibuat dan sistem pertahanan telah diperkuat tetapi karena adu domba akhirnya dua kampung tersebut dapat dikalahkan Belanda. Tak sampai di situ para pemain pun berhenti mematung dan dialanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Fahman Falahi yang berbicara tentang kemerdekaan.
Demikianlah rentetan  pementasan PAKSI Setting  tahun 1948 dimana  mengambil dari peristiwa agresi militer Belanda di Djogjakarta yang menyebabkan tertangkapnya Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta sehingga dibuatlah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat dengan ketua Sjafruddin Prawira Negara.


J

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Marginalisasi Etnis Tionghoa
Next post Hujan Turun Deras