Pentas Seni Menuju Kisah Hijrah

Read Time:2 Minute, 6 Second
Pintu masuk dipenuhi oleh lampu yang berkelap-kelip serta hiasan bunga-bunga. Satu persatu para undangan masuk kedalam area acara dan menempati posisi duduknya masing-masing. Hingga suara serine dinyalakan, tanda acara akan segera dimulai.
Tata panggung handmade dipadukan dengan struktur tribun yang ada. Lampion yang bergantungan dan lampu panggung yang dipakai selama pementasan menunjukan keindahannya. Para penonton merasa takjub atas kesiapan dalam menghias ruangan itu.
Dua puluh menit berlalu, pementasan dimulai melalui pembawa acara. Aksesosris pementasan layaknya acara dakwah dengan nama hijrah yang melengkapi  tata panggung dengan hiasan bunga. Lampu juntrungan kembali menyinari panggung pertanda Musik perpaduan marawis mulai dimainkan. Alat musik rebana, gendang, dan piano mulai berbunyi secara bersamaan. Wanita dan laki-laki telah berkumpul di atas panggung dengan rias muslim. Mereka melakukan atraksinya dengan bernada halus, hingga menari dengan bersamaan.
Ya… latif fu ya… kahfi...” terdengar suara serak vokalis Himpunan Qori dan Qoriah Mahasiswa (HIQMA) melantunkan lagu pertama mereka berjudul Al Maujud Illahah. Sambil bernyanyi, marawis menari dan menggerakan tangannya. Tak hanya itu, beberapa penonton ikut berpartisipasi dengan ikut bernyanyi.
Setelah lagu Al Maujud Illahah selesai bernyanyi, lalu pembawa acara mempersembahkan penampilan kedua Shalawat I’tiraf. Tim Marawis menggiring penonton kedalam shalawat I’tiraf.

Tak lama setelah di sambut penampilan-penampilan istimewa, tiba-tiba lampu Student Center (SC) perlahan memudar sesaat setelah pertunjukannya. Lagu terakhir berjudul Al Hijrotu. Lagu tersebut langsung menggegerkan penonton. Lagu itu memberikan berbagai kisah seseorang yang menjalani hijrah ke suatu daerah ke daerah lain.
Pementasan HIQMA yang diadakan Senin, (25/9) memberikan hiburan yang berhubungan dengan kepercayaan. Mempermudah pemahaman dan memiliki memiliki nilai sosial kepada masyarakat muslim. Berbagai tahapan dalam menyempurnakan marawis seperti Rebbana dan Tarkursi yang dilakukan secara rapih  agar menghasilkan nada yang indah.
Ketua pelaksana Muhammad Awaluddin Jauhar mengaku turut senang atas performa mereka, sebab bisa mengepresiasikan prestasinya terhadap masyarakat. Marawis merupakan warisan leluhur yang perlu di jaga. Bukan hanya secara mendengar dan melihat penampilannya, namun penampilan realigi memiliki makna terdalam. “Dengan tema Hijrah, kami kemas untuk merubah sikap manusia yang berbuat dosa dan kembali ke jalan yang benar,” ujarnya, Rabu (27/9).
Ahwal pun menambahkan, dalam menciptakan pertunjukan ide-ide dari HIQMA ini memerlukan penelitian yang kuat. Tidak mudah melakukan sendirian melainkan bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan sebagainya. Dari memadukan suara, video mapping hingga menjadi penampilan yang menginspirasi orang lain.
Menurut salah satu pengunjung Muhammad Fauzan, acara yang bertema Hijrah ini sangatlah primitif dan menginspirasi. Fauzan menambahkan, generasi mudah akan menambah semangat dalam menjalani keislamannya. “ mereka akan bangga dengan adanya marawis,” ungkapnya Senin, (25/9).
MS

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Serpihan Kekayaan Alam Indonesia
Next post Patriarki Mengakar Pelecehan pun Menjalar