Dampak KKNI di FITK

Read Time:3 Minute, 5 Second

Kurikulum baru Kerangka Kualifikasi Indonesia (KKNI) mulai diterapkan. Sistem pengabdian mahasiswa pun mengalami perubahan.
Pada 2015 lalu, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) mulai diterapkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal tersebut berdampak pada perubahan sistem pengabdian mahasiswa yang termuat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satunya di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan—yang dulu menggunakan sistem Praktik Profesi Keguruan Terpadu (PPKT)—kini mulai memberlakukan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Perubahan kebijakan tersebut menuai kritik di kalangan mahasiswa. Menurut Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab angkatan 2014, Acep Misbah Nurul, sistem PPKT yang diterapkan sebelum KKNI masih memuat beberapa kendala. Acep mengaku metode yang dipelajari saat Micro Teaching berbeda—dari segi persiapan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)—dengan fakta lapangan saat proses pembelajaran di sekolah. “Kita udah persiapan PPKT, tapi ketika di lapangan aplikasinya berbeda,” ucapnya, Selasa (17/4).

Senada dengan hal itu, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Ari Ardiansyah juga mengeluhkan waktu PPKT yang terlalu lama. Hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri bagi mahasiswa. Pasalnya, tidak semua sekolah yang ditempati mahasiswa PPKT menerima dengan baik. “Teman saya ada yang disuruh nyuci piring, salah sedikit diomelin,” ungkapnya, Selasa (17/4).

Terjadinya perubahan kurikulum ini sesuai Peraturan Presiden No. 08 Tahun 2012 tentang KKNI. Penerapan KKNI, prodi harus bisa menawarkan mata kuliah yang dikombinasikan dengan praktik lapangan. Sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menyatakan mahasiswa harus memiliki kompetensi terkait pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Pelaksanaan PLP, poin yang didapat ialah pendidikan dan penelitian. Sementara itu, pengabdian bagi mahasiswa dapat diintegrasikan dengan KKN.

Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris A’yun Hamima mengungkapkan kurang adanya sosialisasi terkait KKN di FITK. A’yun mengatakan informasi terkait KKN tersebut telah lama diperbincangkan para dosen. Namun, hingga kini A’yun berterus terang belum ada sosialisasi secara pasti dari pihak jurusan. Nahasnya, ia mendapatkan informasi terkait pendaftaran KKN dari teman di fakultas lain. “Saya dikasih tahu kalau harus daftar KKN, itupun daftarnya sehari sebelum penutupan,” katanya, Selasa (10/4).

Selain itu, Mahasiswa Pendidikan Biologi Zaenudin juga mengeluhkan adanya KKN di FITK. Lokasi KKN yang terlalu jauh menjadi kendala. Tempat Zaenudin KKN di daerah Bogor, sedangkan sebagai pengajar dan penjual buku ia bekerja di Ciputat. “Masa saya harus mengundurkan diri gara-gara KKN?” ucapnya, Selasa (17/4).

Ia juga mengungkapkan, kurangnya persiapan pelaksanaan PLP. Seperti halnya belum adanya sosialisasi terkait PLP yang masih asing di kalangan sekolah. Alhasil, PLP yang harusnya berlangsung di semester ini pun terpaksa di tunda pada waktu libur semester mendatang.

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama Fauzan mengungkapkan, seharusnya FITK mempunyai desain khusus terkait program pengabdian. Namun Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) menerapkan KKN FITK bersamaan dengan fakultas lain. “Sesuai dengan visi UIN Jakarta, untuk mendongkrak semangat integrasi keilmuan,” tuturnya saat ditemui di Lantai tiga Rumah Sakit UIN Jakarta, Senin (16/4).

Mengenai perubahan PPKT menjadi PLP dan KKN, Kepala Bagian Akademik Eddy Suandi angkat bicara. Menurutnya, PPKT menjadi PLP hanya perubahan nama saja. Tetapi program tetap sama yaitu mengajar. Eddy juga menjelaskan PLP sebagai proses pendidikan keguruan. Oleh karena itu, ia mewajibkan mahasiswa FITK UIN Jakarta melaksanakan kegiatan PLP “Tidak mungkin seorang guru tanpa ada praktek mengajar sebelumnya,” ujarnya, saat ditemui di gedung Akademik, Kamis (19/4).

Terkait keluhan mahasiswa, Kepala PPM Djaka Badranaya menjelaskan program PPKT enam Satuan Kredit Semester (SKS) ini dinilai belum efektif. Oleh sebab itu, PPKT di pecah menjadi PLP dan KKN. “PLP tiga SKS dan KKN tiga SKS,” jelasnya, Senin (16/4).
Lebih lanjut, Djaka mengatakan, PPKT meningkatkan kapasitas individu. Kebanyakan sekolah mitra yang ditempati mahasiswa PPKT sudah tergolong mapan. Kondisi ini membuat mahasiswa kurang mengintegrasikan nilai pengabdian. “Kecuali jika PPKT di tempat terpencil, itu baru pengabdian,” terangnya saat ditemui di Hotel Soll Maria BSD Serpong, Senin (16/4).

Siti Heni Rohamna & Nuraini

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Ragam Kendala KKN Internasional
Next post Rusabesi, Diskusi Merawat Sastra