Hijrah Milenial: Dorongan atau Tren Belaka

Read Time:3 Minute, 18 Second

Maraknya tren hijrah di kalangan milenial khususnya di Indonesia menjadi perbincangan yang tak pernah habis. Bahkan, makna hijrah yang berbeda pemahaman turut mempengaruhinya.
Hijrah di kalangan muslim milenial merupakan pembahasan yang sedang hangat diperbincangkan satu dekade terakhir. Hal tersebut dapat dihubungkan dengan lahirnya apa yang disebut “ulama online”. Seperti yang dibahas dalam salah satu artikel Firly Anisa berjudul Hijrah Milenial: Antara Kesalehan dan Populisme. 
Pada artikel tersebut, Firly Anisa mengambil satu sampel ulama yang dikategorikan micro-selebrities yaitu Hanan Attaki. Penampilannya khas, ia menggunakan topi ala musim dingin Eropa, bermain papan seluncur, dan mengenakan hoodies. Hal tersebut yang membuatnya terkenal dan mempunyai pengikut yang cukup banyak di media sosial. 
Tak hanya itu, di kalangan milenial, ia pun disebut sebagai ustaznya kaum jomblo. Bahkan, Hanan Attaki juga memperkenalkan terminologi hijrah melalui kajian yang ia sebarkan melalui media sosial seperti Youtube danInstagram.
 
Terkait fenomena di kalangan muslim milenial, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Diana Satira beranggapan bahwa Hijrah sebagai makna proses, dari mulai kebiasaan hingga pakaian yang merupakan dampak dari hijrah itu sendiri. Namun, hal itu belum pasti orang yang menggunakan pakaian tertutup itu berhijrah.
Diana menambahkan bukan suatu masalah ketika seseorang ‘hijrah’ hanya untuk mengikuti tren—seperti berpakaian syar’i—asalkan bisa menjaga nilai-nilai. Karena faktanya saat ini, yang disalahkan bukan orangnya, tapi pakaiannya (misalnya bercadar). “Semua kembali kepada diri masing-masing, mungkin bisa mendapat hidayah melalui jalan itu,” pungkas Diana, Jumat (18/10).
Fenomena semacam itu—menurut Guru Besar Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi M. Yunan Yusuf—merupakan sebuah paham yang mengakui dan menjunjung tinggi suatu keutamaan, yang disebut dengan populisme. populisme merupakan tren kebangkitan orang-orang yang bertambah bangga menyatakan diri sebagai seorang muslim.
Dengan menyatakan diri sebagai seorang muslim, orang merasa akan mendapatkan tempat di mana-mana. Sehingga, mereka akan dipandang sebagai sesuatu yang lebih memasyarakat. Jika dikaitkan dengan hijrah, istilah tersebut menjadi sesuatu yang sedang membumi khususnya di Indonesia. Karena itu, hijrah sendiri merupakan salah satu pintu menuju populisme Islam.
Hijrah yang banyak dipahami oleh kaum milenial saat ini adalah hijrah seputar simbol-simbol yang mereka kenakan. Mereka berpindah dari suatu simbol yang tidak dipahami sebagai seorang muslim ke simbol yang memang merupakan identitas seorang muslim. “Seperti menggunakan hijab dan pakaian tertutup bagi seorang wanita,” ujar Yunan Yusuf, Senin (14/10).
Yunan juga menambahkan, berhijrah dari segi pakaian menjadi pintu gerbang dari hijrah itu sendiri. Karena pada dasarnya, sehelai pakaian akan memperlihatkan postur dan gambran luar dari keber-Islaman seseorang. Namun, hijrah tentunya tidak hanya berhenti sampai di situ, tetapi juga harus masuk kepada hijrah dari segi sikap, tingkah laku, akhlak, dan kecerdasan.
Konteks hijrah menurut istilah yang dipahami adalah meninggalkan yang buruk, kemudian digantikan dengan yang baik. Selaras dengan Yunan, Direktur Center for the Study of Religion and Culture Idris Hemay mengatakan, hijrah yang berkembang menjadi tren di kalangan milenial adalah hijrah dari segi simbol, terutama pakaian. “Mereka menganggap bahwa hijrah sebatas itu, padahal makna hijrah sendiri luas konteksnya,” ujar Idris di ruangannya, Kamis (17/10).
Suatu hal yang menjadi permasalahan dalam dunia perhijrahan adalah ketika mereka yang sudah menggunakan beberapa simbol ke-Islaman mengeklaim dirinya lebih benar dari orang lain, begitu juga sebaliknya. Idris menambahkan, sifat tersebut dekat dengan sebuah prinsip Al-Wala wa Al-Bara, yaitu mencintai yang sama dengan dirinya dan memusuhi yang berbeda, termasuk muslim yang berbeda aliran.
Oleh karena itu, jangan sampai hijrah terjebak hanya pada simbol. Hijrah harus dimaknai secara komperhensif agar tidak terjadi gesekan-gesekan. Indonesia memiliki banyak keanekaragaman suku, agama, dan budaya. Idris juga berpendapat, hijrah yang baik adalah bagaimana pemuda itu dapat berperan lebih aktif dalam menjaga perdamaian. “Hijrah dari hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian,” imbuh Idris.
Tanggapan pun datang dari beberapa mahasiswa. Seperti halnya Mahasiswa Dirasat Islamiyah Andi Ramadhan, hijrah adalah berpindah dari tempat dianggap baik ke tempat yang lebih baik lagi, baik dari segi sosial maupun ibadah. “Tampilan fisik seseorang bukan aspek yang paling penting dalam hijrah,” ujar Andi, Jumat (21/10).
Herlin Agustini & Muhammad Silvansyah Syahdi Muharram

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Bumi Manusia: Perlawanan Menghapus Feodalisme
Next post Peran Mahasiswa dalam Pergerakan Era 4.0