Geliat Radikalisme di Media Sosial

Geliat Radikalisme di Media Sosial

Read Time:3 Minute, 37 Second

Geliat Radikalisme di Media Sosial

Anak muda memang tak bisa lepas dari media sosial. Sifatnya yang fleksibel dan mudah diakses kerap dijadikan alat penyebaran informasi, tanpa terkecuali narasi-narasi radikal.
Media sosial saat ini menjadi jembatan penyebaran radikalisme terhadap anak muda. Survei yang dirilis Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta serta United Nations Development Programme Indonesia mengatakan, sebanyak sepuluh persen anak muda setuju menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dan boleh menggunakan kekerasan untuk membela agama. Kecenderungan ini terjadi karena akun media sosial yang mengadopsi paham radikalisme berhasil menyajikan konten dengan tampilan dan narasi yang lebih menarik.
Nurshadrina Khaira Dhania, salah satu anak muda yang terpapar radikalisme melalui media sosial turut membagi kisahnya pada Reporter Institut. Pada 2015 lalu, ia berhasil mengajak keluarganya hijrah ke Suriah demi mewujudkan keyakinannya pada pembentukan negara Islam, khilafah. Wanita yang akrab disapa Dhania ini tertipu dengan propaganda Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)—yang ia dapat melalui media sosial.
Bias janji hidup di apartemen, sekolah gratis nan berkualitas, penghapusan hutang dan selamat dunia akhirat ternyata tak ia temukan sesampainya di Suriah. Kehidupan lebih baik di bawah konsep khilafah yang digelorakan oleh Petinggi ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi hanyalah ilusi belaka. “Propaganda mereka sangat bagus, kehidupan aman, damai dan adil. Saya seperti terbutakan,” ucap wanita berkacamata ini, Jumat (6/12).
Ditemui di Kantor Ruangobrol.id, Jakarta Selatan, ia mengatakan, setelah satu tahun singgah di Suriah, Dhania sadar, tindakan yang mereka lakukan jauh berbeda dengan ajaran Islam. Doktrin agama selalu mengajarkan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Tapi kotoran manusia banyak berceceran di lokasi penginapan. “Mereka tidak mengamalkan annadzofatu minal iman,” kata Dhania, Jumat (6/12).
Dhania yang saat itu baru menginjak usia 19 tahun ini mengungkapkan, kehidupan para wanita di Suriah tak lebih hanya ibarat pabrik anak. Mereka ditempatkan di tempat yang kumuh, bahkan tak layak huni. Status mereka pun didata. Mulai dari perawan, berkeluarga, hingga janda sekalipun. Para militan ISIS sering mendatangi asrama, meminta dinikahkan dengan wanita disana tanpa persetujuan pihak wanita.
Tak hanya itu, kaum pendatang—yang akrab disebut muhajirin—ditempatkan di asrama selama 3 bulan. Mereka dibina untuk menjalani indoktrinasi dan i’dad—latihan perang dengan mengangkat senjata. Di Suriah, kaum laki-laki harus siap berperang. Jika tidak, sudah ada penjara khusus bagi mereka yang tidak siap berperang.
Warga asli Suriah pun diperlakukan secara kejam jika mereka menentang ISIS. Asrama yang ditinggali, tak lain diperoleh secara paksa dari lahan penduduk setempat. Stigma masyarakat sekitar bahwa ISIS memang “eksklusif” pun kian menguat. “Mereka  itu pembohong besar,” kata Dhania, Jumat (6/12).
Akhirnya, dengan segala perjuangan, Dhania berhasil kembali ke Indonesia dan menjadi returnisISIS pada 2017 lalu. Ia pun berpesan pada generasi muda, jangan mudah tertipu dengan propaganda media sosial. Kelompok ekstrimisme saat ini sedang gencar menyuarakan khilafah di media sosial dan menggaet anak muda. Alasan utamanya, rata-rata anak muda sangat bersemangat untuk mempelajari agama. Utamanya anak yang memiliki latar belakang sekolah umum. “Tak hanya itu, mereka juga pandai memainkan emosi pembaca melalui media sosial,” ucapnya, Jumat (6/12).
Menurut Direktur Center for the Study of Relagion and Culture (CSRC) Idris Hemay, pandangan dan perilaku masyarakat kini sangat dipengaruhi oleh arus media sosial. Termasuk pemahaman terhadap isu-isuradikalisme. “Takfiri, bidahsampai thogut sering muncul di media sosial. Hal ini termasuk bagian dari narasi radikalisme yang diselipkan melalui media yang sering diakses anak muda ini,” terangnya, Rabu (20/11).
Ia juga menuturkan, kelompok ektremisme sering menyematkan pesan bahwa pemerintah Indonesia hingga apatur negara memangperlu diperangi. Hal ini tak lain untuk menguatkan narasi Negara Islam—yang selama ini santer jadi kajian utama. Bahkan, kaum radikal tak jarang menyebut langkah ini sebagai jihad.
 
Peneliti PPIM UIN Jakarta, Dirga Maulanajuga tidak memungkiri hadirnya narasi-narasi radikal yang tersebar di media sosial. Konten—yang dikelola oleh kelompok radikal—tersusun sangat rapi dan terencana.Suguhan foto-foto dengan sudut pandang yang menarik pun turut menggugah pikiran pengguna media sosial untuk ikut berjihad. 
Menanggapi permasalahan ini, Dirga menyarankan, perlu adanya pembentukan daya pikir yang kritis dari para pengguna media sosial. Menurutnya, kemampuan ini akan sendirinya terasah apabila banyak membaca sumber-sumber yang benar. Tak hanya itu, kolaborasi yang baik untuk menangkal radikalismeantara sesama organisasi juga diperlukan. “Tujuannya untuk menciptakan narasi-narasi positif di media sosial,” tutur Dirga, Senin (2/11).
Nurul Dwiana, Nurlely Dhamayanti, & Siti Heni Rohamna

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Meninjau Kembali Pusaran Radikalisme Previous post Meninjau Kembali Pusaran Radikalisme
Memperkuat Pariwisata Halal Next post Memperkuat Pariwisata Halal