Mengenal Ragam Budaya Khas Minangkabau

Read Time:2 Minute, 28 Second

Keramaian serta aroma semerbak rempah-rempah yang khas menusuk hidung para pengunjung. Ketika memasuki gerbang festival, mereka langsung disambut berbagai makanan serta minuman khas Minangkabau dan Melayu. Sebuah panggung pertunjukkan pun berdiri kokoh, penampilan di atasnya menambah kemeriahan acara festival ini.

Jajaran stan bazar kuliner selalu menemani pengunjung sejak awal hingga ujung festival. Hidangan sangat beragam, mulai dari Sate Padang, Nasi Kapau, Nasi Padang, dan lainnya yang harganya berkisar Rp20 ribu sampai Rp100 ribu. Hampir semua makanan dan minuman dijual oleh pedagang asli Minangkabau.

Nasi Kapau menjadi salah satu stan kuliner yang paling diminati oleh pengunjung. Pembeli dapat bebas memilih lauk yang mereka inginkan hanya dengan merogoh kocek mulai dari Rp30 ribu. Selain bazar kuliner, pengunjung juga dapat menyaksikan beberapa acara pertunjukkan, seperti peragaan busana pernikahan khas Minangkabau, pagelaran kesenian Melayu, dan ragam tarian Minangkabau. Tak lupa, akan terdapat pawai obor yang diadakan di hari terakhir festival.

Pertunjukkan seni yang paling menarik perhatian pengunjung ialah tari piring. Sembari membawa piring di kedua telapak tangan, lenggok tubuh mereka memikat mata dari bawah panggung. Susana pun menjadi lebih menarik ketika para penari memecahkan piring mereka di akhir pertunjukkan, kemudian disusul oleh riuh tepuk tangan para penonton.

Festival Sumarak Minangkabau (FSM) 2019 digelar oleh Komunitas Muda Mudi Minangkabau (3M) pada JumatMinggu (1315/12) lalu. Letak yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan membuat festival tersebut semakin penuh oleh pengunjung. Orang-orang yang sedang mengunjungi Blok M Square, Jakarta Selatan bisa berbelanja sekaligus menikmati sajian yang ada.

Tak hanya masyarakat umum dari berbagai kalangan, acara ini dihadiri oleh  perwakilan Duta Besar Asing dari Negara SerumpunMalaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. FSM 2019 pun didukung oleh dua belas kabupaten dan tujuh kota di Sumatera Barat.

Darmawan Ismailkerap disapa Uda Wawanialah salah seorang anggota 3M sekaligus berperan sebagai Ketua Panitia FSM 2019. Ia mengatakan, acara ini biasanya dilakukan dua sampai tiga kali dalam setahun. “Ini yang ketiga untuk tahun ini,” ujarnya, Jumat (13/12).

Keunikan dari tema festival ini salah satunya paduan budaya Minangkabau dan Melayu. Dengan begitu, Wawan berharap dapat memperkenalkan budaya tersebut kepada masyarakat Jakarta dan sekitarnya. “Agar masyarakat Jabodetabek juga kenal dengan budaya Minangkabau,” tutur Wawan.

Suasana makin ramai dihiasi wajah bahagia para pengunjung ketika menyaksikan seluruh rangkaian acara. Di antara mereka bahkan ada yang menari dan bernyanyi bersama di sekitar panggung. Salah satu pengunjungEfonmenyatakan kesenangan mereka mengikuti festival ini. “Bisa mengetahui berbagai kuliner serta budaya yang belum pernah dilihat sebelumnya, ungkap Efon, Jumat (13/12).

Kesenangan tak hanya datang dari para pengunjung, tetapi juga dari para pedagang karena meningkatnya pendapatan mereka dibanding berdagang sehari-hari. Menurut Irmayanti, keuntungan yang ia dapat hingga lebih dari dua kali lipat. “Sekitar tiga kali lipat,” pungkasnya.

Roshiifah Bil Haaq

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Stigma Radikalisme Salah Sasaran
Next post Instalasi Teknologi dalam Balutan Estetika