Dampingi Kebutuhan Anak Berpenyakit Kronis

Dampingi Kebutuhan Anak Berpenyakit Kronis

Read Time:2 Minute, 54 Second
Menyadari ada keluarga yang hidup dalam keterhimpitan ekonomi, Kantong Doraemon pun hadir memberikan solusi tuk ringankan beban mereka.

Ketika pasien penderita penyakit kronis yang berasal dari pedesaan atau luar kota dirujuk ke rumah sakit di Jakarta, muncul lah dilema. Bayangan yang muncul di pikiran mereka adalah biaya hidup dan administrasi yang mahal, serta kendala transportasi dan tempat tinggal. Komunitas Kantong Doraemon hadir sebagai jawaban atas dilema itu, mereka menyediakan wadah pendampingan sosial untuk para pasien kanker, dan penyakit kronis lainnya yang dialami anak-anak luar jabodetabek. 

Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dikenal sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien penderita penyakit kronis, seperti kanker dan tumor. Sebagian pasien yang mendapat rujukan ke RSCM terdiri dari balita hingga remaja awal. Masalah lain yang muncul, biaya pengobatan dan terapi di RSCM dikenal sangat menguras kantong. Selain itu, Pasien yang dirujuk bukan hanya datang dari wilayah Jabodetabek, tapi juga dari seluruh pelosok negeri.  
Biasanya, beberapa pasien dari luar Jabodetabek, terutama pasien yang masih anak-anak terpaksa pulang lantaran tak sanggup melanjutkan biaya pengobatan, biaya akomodasi, dan tempat tinggal bagi keluarga. Karena itu, tak heran bila ada beberapa keluarga yang menjadikan selasar rumah sakit untuk tempat beristirahat. Sebagian lainnya bahkan urung melanjutkan pengobatan di rumah sakit lantaran terhimpit biaya yang mahal. 
Atas dasar itu, Komunitas Kantong Doraemon pun hadir sebagai wadah pendampingan sosial bagi mereka yang terjangkit penyakit kronis. Di bawah dampingan komunitas ini, keluarga pasien akan diberikan tempat tinggal sementara. Tempat itu bernama “Rumah Singgah Sahabat”, beralamat di Jalan Kenari Nomor 249, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. 
Komunitas ini digagas oleh Suparman (29). Kang Parman, sapaan akrabnya, dikenal sebagai sosok yang sangat bersimpati kepada anak-anak pengidap penyakit kronis. Ia tergerak memberikan pendampingan dan hiburan pada anak, maupun keluarga dari anak prasejahtera. Berkat tugas mulianya itu, sejak September 2018, ia sudah mengajak anak-anak muda lainnya untuk bergerak dalam aksi sosial tersebut dengan berkampanye di media sosial. Hingga saat ini, Komunitas Kantong Doraemon sudah mempunyai sekitar 100 relawan yang tersebar di berbagai daerah. 
Komunitas ini sendiri diberi nama “Kantong Doraemon”, sebab Parman sangat menyukai tokoh animasi tersebut. Ia berharap, komunitas ini bisa memberikan keajaiban-keajaiban bagi anak-anak yang saat ini ia dampingi, layaknya kantong ajaib milik tokoh kartun tersebut. “Melalui komunitas ini, diharapkan juga berdampak pada anak muda lainnya untuk memperbanyak kegiatan positif.”, ujar Suparman.
Salah seorang relawan Kantong Doraemon, Endang Heni (23) menuturkan, komunitas ini memang berfokus pada kegiatan sosial dan kemanusiaan, seperti pendampingan bagi anak-anak penderita penyakit kronis. “Selain itu, ada aksi cepat tanggap bencana dan juga kegiatan berbagi nasi,” tambahnya. 
Hingga saat ini, total sudah ada tujuh anak yang diberi pendampingan di Rumah Singgah Sahabat milik Kantong Doraemon. Salah satu orang tua pasien, Abdullah Mun’im merasa terbantu dengan hadirnya komunitas ini. Ia dan putrinya, Zahwa, sudah menetap selama satu tahun di rumah tersebut. “Sudah satu tahun saya dan anak tinggal di sini (Rumah Singgah Sahabat),” ujar Abdullah. 
Putrinya, Zahwa selaku pasien juga mengaku, ia merasa senang bisa tinggal di rumah singgah bersama relawan Kantong Doraemon dan pasien lainnya. “Kakaknya baik, mau temani aku main dan kemoterapi” , ungkap Zahwa.
Kendati begitu, rumah singgah yang ditempati para pasien ini bersifat sewaan. Biaya sewa per tahunnya sekitar 50 juta rupiah. Absennya donatur membuat Kantong Doraemon kesulitan mengumpulkan biaya untuk membayar sewaan yang mendekati masa jatuh tempo. Ditambah lagi, komunitas binaan Parman ini juga belum memiliki ambulans pribadi. “Kami berharap agar masyarakat turut membantu perjuangan adik-adik melawan penyakitnya,” kata Parman. 
Dewi Putri Aprianti Asuro

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Dosen Sudah Divaksin, Mahasiswa Kapan? Previous post Dosen Sudah Divaksin, Mahasiswa Kapan?
Menilik Setapak Food Estate Next post Menilik Setapak Food Estate