Nasib Pilu Kehidupan Pedagang Saat Pandemi

Read Time:1 Minute, 49 Second

Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai membawa dampak tersendiri bagi para pedagang yang hanya menggantungkan nasibnya lewat berjualan. Namun di tengah pandemi, nasib para pedagang kian hari semakin meredup. Hal tersebut diakui oleh para pedagang di sekitar kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hidayah, wanita paruh baya pendiri warung sunda UIN menjadi salah satu korban keganasan pandemi. Hidayah mengaku, pandemi mengakibatkan pengeluaran yang harus Ia korbankan untuk berdagang tak sebanding dengan pemasukan yang Ia terima. Padahal, kata Hidayah, berdagang merupakan satu-satunya sumber pemasukan yang Ia miliki.

Hidayah menuturkan, untuk mengatasi kerugian, dirinya mengurangi jumlah masakan yang dijual. “Mahasiswa UIN yang belajar melalui daring membuat dagangan saya sepi,” ucapnya lirih, Rabu (23/11).

Nasib serupa turut dirasakan oleh Asep yang telah berjualan ketoprak dan gado-gado sejak tahun 2019 di sekitar kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) . Asep yang hanya memiliki keahlian membuat ketoprak mengaku sangat menggantungkan hidupnya lewat berjualan ketoprak.

Menurut Asep kehadiran pandemi membuat penghasilannya menurun, sehingga Ia tak lagi mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Asep juga mengaku, segala cara telah Ia lakukan untuk tetap bertahan hidup, bahkan hingga berhutang. “Semenjak pandemi ini saya seperti gali lubang dan tutup lubang,” ujar Asep, Rabu (23/11).

Warung nasi BBS merupakan salah satu tempat makan legendaris mahasiswa UIN Jakarta. Warung nasi yang terletak di Jalan Legoso Raya itu telah berdiri kurang lebih sejak tahun 1980-an. Pihak pengelola warung nasi BBS Parjan menuturkan, jauh sebelum kehadiran pandemi, warung nasi BBS selalu ramai dikunjungi mahasiswa. Namun, saat pandemi, warung nasi BSS sudah jarang dikunjungi oleh mahasiswa.

Parjan menambahkan bahwa warungnya mengalami penurunan jumlah omzet yang drastis.“Saya berharap dagangan saya tetap ramai,” kata Parjan, Rabu (23/11).

Nasib serupa turut dialami oleh warung nasi Weni yang telah beroperasi belasan tahun silam. Berlokasi di sekitar Fakultas Kedokteran (FK), warung nasi Weni sempat menjadi tempat makan yang ramai dikunjungi mahasiswa sebelum pandemi menghampiri.

Menurut keterangan pemilik warung nasi Weni, saat pandemi, warung makan ini hanya dikunjungi oleh 1 sampai 2 mahasiswa saja. Weni juga menambahkan, dirinya sangat mengharapkan kedatangan mahasiswa UIN Jakarta untuk dapat menyambangi warungnya lagi. “Sekarang sepi, tapi, ya, mau gimana lagi,” tuturnya pasrah, Rabu (23/11).

 

KD & AFA

 

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Penggusuran Menyulut Nasib Bertahan Hidup
Next post Pesanan Asa Disabilitas Tuli