Melihat Dampak Konflik Ukraina-Rusia

Read Time:1 Minute, 28 Second


Fakultas Ilmu sosial dan Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar webinar nasional bertema “Menakar Arah Konflik Rusia-Ukraina”. Webinar yang berlangsung pada Senin (7/3) tersebut menghadirkan lima pembicara yang mengulas berbagai sisi mengenai perang antara Rusia-Ukraina. Mereka adalah Didit A. Ratam, Niniek K. Naryatie, Wahid Supriyadi, Faisal Nurdin Idris, dan Atep A. Rofiq.

Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia (RI) untuk Ukraina Niniek K. Naryatie memberikan penegasan jika seminar ini tak bertujuan untuk menyalahkan sebagian pihak atau memihak salah satu kubu yang berkonflik. Namun kata dia, Indonesia perlu melihat dampak yang akan ditimbulkan akibat perang Rusia-Ukraina ini.

“Tujuan diadakannya seminar ini untuk melihat dampak ke depannya seperti apa, terutama bagi Indonesia sendiri,” tegas Dubes RI itu, Senin (7/3).

Niniek lanjut mengatakan, sejak nasionalisme, kebijakan di Ukraina yang berkaitan dengan Rusia sudah dihapuskan. Terlebih sejak Krimea—salah satu wilayah kedaulatan Ukraina dikuasai Rusia, saat itu, permusuhan nyata ditunjukkan Ukraina pada Rusia. 

“Deklarasi perang Rusia kepada Ukraina ini adalah dampak buruk untuk tatanan masyarakat global,” ujar Niniek.

Sedangkan menurut Ketua Kadin Indonesia Komite Rusia Didit A. Ratam, jika dilihat dari kacamata ekonomi, konflik Rusia-Ukraina nantinya akan memberikan dampak makro dan bilateral bagi Indonesia. Sebab kata dia, Rusia dan Ukraina memiliki tingkat perdagangan yang cukup tinggi. 

“Nantinya kegiatan ekspor dan impor jadi terganggu,” kata Didit, Senin (7/3).

Namun, perspektif lain datang dari Atep A. Rofiq, Ketua Bidang Hubungan Industri PERHAPI UIN Jakarta itu melihat dampak dari konflik Rusia-Ukraina terhadap keamanan energi. Menurutnya, energi sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan bahkan untuk mengurangi kemiskinan. Dirinya juga menyatakan jika tak ada energi, nantinya akan banyak negara yang merasa kesulitan. 

“Eropa sangat bergantung dengan gas yang dialirkan dari Rusia,” tutur Atep, Senin (7/3).

Reporter: Elli Sasapira

Editor: Haya Nadhira

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Serba-serbi Belanda di Erasmus Huis
Next post Menilik Spiritualitas Ekologis dalam Ensiklik Laudato Si