Menelisik Dampak Produk Cetak Agamais

Read Time:1 Minute, 56 Second

Mengutip dari karya ilmiah milik Erina Nurul Hikmah—Universitas Komputer Indonesia, komik siksa neraka lebih berisi tentang kekerasan dan pornografi, terlebih tidak menyertakan dalil. Selain dalil, persoalan dampak kepada psikis anak juga dipertimbangkan.

Beredarnya produk-produk agamais yang menampakkan perwujudan dari siksa Allah Swt. kerap kali dikonsumsi oleh anak-anak. Sebut saja buku siksa neraka dan poster mengerikan yang secara jelas memvisualisasikan bentuk siksaan yang diberikan Allah kepada manusia. Mengutip dari karya ilmiah milik Erina Nurul Hikmah—Universitas Komputer Indonesia, komik siksa neraka lebih berisi tentang kekerasan dan pornografi, terlebih tidak menyertakan dalil.

Irma Ferdianti, mahasiswi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam saat berusia dini kerap kali membaca buku Hidayah yang ada di rumahnya. Pada saat membaca, Irma sering membayangkan penyiksaan yang dituliskan, seperti siksaan dan penggambaran suasana penyiksaannya. “Beberapa hal yang mengerikan masih terbayang sampai sekarang,” ungkapnya, Jumat (3/3).

Nathasya Rizky Suryaputri, mahasiswi Program Studi Manajemen mengomentari kelayakan produk agamais yang disertai penyiksaan di dalamnya. Menurutnya, ilustrasi yang ditampilkan itu layak tapi jangan terlampau mengerikan. “Kalau menyeramkan akan selalu terbayang aura kengeriannya,” ucapnya, Sabtu (11/3).

Nathasya yang juga seorang ilustrator mengungkapkan bahwa terkadang perlu adanya improvisasi pada sebuah karya. “Perlu (improvisasi) supaya lebih menarik. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, seperti ekspresi, pakaian, dan detail lainnya,” ucapnya, Kamis (18/3).

Menurut pandangan Abdul Haris, Dosen Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (FITK UIN) Jakarta menuturkan bahwa pentingnya keberadaan dalil di setiap produk agamais. Keberadaan dalil sebagai landasan dari apa yang disampaikan, sementara kenyataannya tidak semua produk agamais menyertakan dalil, baik dari Alquran maupun Hadis. “Kalau membuat karya yang berbau agama pasti para pembaca langsung berpikir tentang dalilnya, mangkanya perlu disertai dengan dalil yang jelas,” ucapnya, Senin (27/2).

Rachmat Mulyono, Dosen Fakultas Psikologi UIN Jakarta turut memberikan pandangan dari sisi psikologi. Mengonsumsi produk agamais yang terlalu kejam berdampak pada psikis seorang anak. “Saya pernah dapat klien anak yang trauma setelah membaca buku tersebut. Harus melakukan pendekatan dan meyakinkan bahwa agama bukan hal yang menakutkan,” jelasnya, Jumat (10/3).

Rachmat juga menuturkan bahwa anak usia dini lebih baik diberikan hadiah sederhana setelah melakukan ibadah daripada diberitahu hukuman jika tidak beribadah. Ia mengatakan bahwa anak kecil akan ketakutan jika diberitahu hukumannya. “Lebih baik kita beri apresiasi agar anak kecil senang sehingga termotivasi untuk selalu berbuat baik,” pungkasnya.

Reporter: NS

Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Eksplorasi Ide Bersama TEDx UIN Jakarta
Next post Semrawut SSA di Ruas Viktor