Langkah Tokoh Muslimah Reformis

Read Time:1 Minute, 48 Second

Siti Musdah Mulia, perempuan kelahiran Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958 ini dikenal sebagai cendekiawan Islam yang menyuarakan bagaimana Islam memandang perempuan dan kesetaraan gender. Musdah memperkenalkan konsep perempuan (muslimah) yang memahami jati dirinya, berani, mandiri, dan mewujudkan kedamaian di masyarakat. Selain itu, ia terkenal dengan pelbagai sebutan, di antaranya adalah seorang intelektual, perempuan ulama, serta peneliti keagamaan.

Musdah adalah perempuan pertama yang meraih gelar doktor pada Program Studi Sejarah dan Pemikiran Politik Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1977. Ia juga menjadi perempuan pertama yang dikukuhkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai Profesor Riset bidang Lektur Keagamaan di Kementerian Agama pada 1999.

Tahun 2015, Musdah dan suami Ahmad Thib Raya mendirikan Yayasan Mulia Raya (YMR) yang menggagas konsep muslimah reformis. Musdah juga terlibat dalam mendirikan Indonesia Conference on Religions for Peace (ICRP), bersama Abdurrahman Wahid, Djohan Effendi dan beberapa pemuka agama lainya. ICRP merupakan organisasi lintas iman yang turut serta menjaga kedamaian dan kepercayaan agama di Indonesia. Musdah pun, turut menjadi ketua umum ICRP tahun (2005-2022) . 

Keaktifannya dalam dunia intelektual dan penelitian, membawa dirinya mendapat banyak penghargaan di kancah internasional. Penghargaan yang didapat diantaranya, International Women of Courage Award di Amerika Serikat pada tahun 2007 atas keteguhanya memperjuangkan demokrasi. Lalu, Yap Thiam Hien Human Rights Award pada tahun 2008 atas intensitasnya membela keadilan bagi kaum rentan dan minoritas di Indonesia dan masih banyak lainnya.

Tak hanya itu, Musdah juga aktif menulis untuk menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dengan prinsip keagamaan yang moderat dan cinta perdamaian. Karya-karyanya sudah banyak dipublikasi penerbit besar di Indonesia, seperti Gramedia dan Mizan. Beberapa buku yang menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, demokrasi, pluralisme serta kesetaraan gender adalah Muslimah Reformis: Perempuan Pembaru Keagamaan, Perempuan dan Politik, Islam and Violence Against Women, Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender, Islam dan Hak Asasi Manusia.

Musdah menuturkan, segala sesuatu itu harus diperjuangkan. Terutama berjuang untuk kebenaran, keadilan diri sendiri maupun orang lain, “Demikianlah utilitas kita sebagai manusia,” ucapnya, Selasa (16/5). Ia menambahkan pula, selama menjalankan kehidupan biarkan semuanya berjalan dengan semestinya, dan jangan pula berhenti beraktivitas, “Melaksanakan kehidupan dengan cara mengalir saja menjadikan segalanya mudah.”

Reporter: DS

Editor: Nurul Sayyidah Hapidoh

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Konser Musik Melonjak, Keinginan Bergejolak
Next post Minim Penerangan, Lampu Jalan Hanya Pajangan