Pembangunan Masjid Kampus PPG Mandek

Read Time:4 Minute, 6 Second

Pada akhir tahun 2020, peletakan batu pertama Masjid Kampus PPG dilaksanakan sebagai momentum peresmian pembangunan. Namun, pembangunan tertunda hingga kini imbas kurangnya ketersediaan dana dan belum ada kelanjutan dari Dekanat FITK. 


Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta merencanakan pembangunan masjid di pelataran Kampus Profesi Pendidikan Guru (PPG) pada 2020 silam. Dilansir dari lpminstitut.com, proposal pembangunan Masjid PPG beredar pada November tahun tersebut. Proposal ditandatangani oleh Dekan FITK Periode 2019–2023 Sururin dan Ketua Panitia Pembangunan Masjid Muhamad Arif. 

Dalam proposal pembangunan tersebut, rencana anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp7.2 miliar. Pembangunan masjid juga ditargetkan selesai dalam kurun waktu tiga tahun, yaitu Februari 2021 hingga Desember 2023. Sedangkan, target capaian pembangunan pada November 2023 adalah tahap pekerjaan sanitasi dalam gedung—seperti pengerjaan sistem air bersih, saluran pembuangan air limbah, dan sistem toilet—dan pekerjaan suplemen bangunan—tambahan pendukung untuk melengkapi bangunan.

Muhamad Arif menuturkan, peletakan batu pertama sekaligus peresmian pembangunan Masjid Kampus PPG telah dilaksanakan. Namun, terdapat beberapa hambatan yang menjadikan pembangunannya belum dilanjutkan. Ia lanjut menerangkan, panitia pembangunan diberi keleluasaan dalam melakukan penggalangan dana eksternal dan internal. Panitia mengirimkan proposal permohonan bantuan ke berbagai instansi untuk mendapatkan dana tambahan karena penggalangan dana internal tidak mudah. 

Arif menambahkan, Rektor UIN Jakarta sebelumnya, Amany Lubis berhasil memersuasi Kementerian Agama Kerajaan Arab Saudi dan mendapatkan bantuan senilai 5.000 USD atau setara dengan Rp722 juta. “Artinya skema dana luar berjalan, tapi belum mendukung untuk pembangunan,” tambahnya, Senin (30/10).

Lanjut, Arif menjelaskan, terhambatnya pengembangan struktur bangunan disebabkan dana yang diperoleh belum cukup, bahkan sampai saat ini bangunan masih berupa pondasi. Arif menyatakan, pembangunan struktur selanjutnya seperti pilar, lantai, dan atap memerlukan biaya sebesar Rp2–3 miliar. Tahap tersebut harus dilakukan bersamaan dan tidak boleh mencicil karena akan memengaruhi kualitas kekuatan bangunan masjid. “Saldo terakhir dari rekening pembangunan masjid tersebut hanya senilai Rp1.3 miliar dan tidak cukup untuk melanjutkannya,” ujar Arif.

Arif menyebutkan, kendala lain adalah tidak adanya proses lanjutan dalam pembangunan masjid dari jajaran Dekanat FITK saat ini. Ia menegaskan, panitia pembangunan masjid sudah menyerahkan laporan dan kewenangan panitia di akhir masa jabatan Sururin kepada jajaran dekanat baru. Tujuannya memberi kesempatan kepada Dekan FITK Periode 2023–2027, Siti Nurul Azkiyah untuk membentuk panitia pembangunan masjid yang baru.

Terkait anggaran biaya pembangunan, Sururin mengatakan, pihak kampus tidak memberikan itu  karena rencana pembangunan masjid bukan termasuk program utama fakultas. Program pembangunan tersebut juga berada di luar Indeks Kinerja Utama (IKU) yang berbasis anggaran. “Rencana ini tidak masuk ke dalam pembahasan rapat kerja, karena sudah dibuat kepanitiaan yang sifatnya independen,” ujarnya, Senin (6/11).

Berbeda dengan Arif, Sururin mengatakan bahwa jajaran panitia tidak berubah meskipun ada perubahan jajaran dekanat. Mengetahui hal tersebut, ia menduga terdapat miskomunikasi antara pihak dekanat dengan panitia terkait serah terima kewenangan pembangunan masjid. “Pemahaman saya, secara tidak langsung akan beralih ke pimpinan yang baru,” ucapnya.

Sururin juga beranggapan, Dekan FITK periode sekarang harus segera melanjutkan pembangunan masjid mengingat adanya tanggung jawab yang melekat pada jabatan dekan. Menurutnya, perlu ada komunikasi berkelanjutan antara struktur dekanat sekarang, dekanat sebelumnya, pihak kampus dan panitia pembangunan masjid sebelumnya. “Perlu duduk bersama untuk membahas agar pembangunan masjid ini berlanjut kembali,” ucapnya.

Institut telah berupaya menghubungi Dekan FITK Siti Nurul Azkiyah sejak Minggu, (29/10). Namun, ia melempar wawancara kepada Wakil Dekan FITK Bidang Administrasi Umum karena dirinya sedang sibuk mengurus akreditasi. “Saya masih riweuh dengan akreditasi,” ucapnya melalui WhatsApp, Jumat (10/11).

Lalu, Wakil Dekan Administrasi Umum FITK, Yudhi Munadi dihubungi sejak Kamis, (9/11) dan tidak dapat diwawancarai karena sedang dalam kondisi yang tidak sehat. “Mohon maaf saya belum bisa menemui anda,” jawabnya, Sabtu (11/11).

Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS), Rifqi mengingat adanya rencana pembangunan masjid di Kampus PPG tahun 2020. Rifqi mengatakan, saat itu mahasiswa diberi pengumuman untuk melakukan donasi dalam rangka pembangunan masjid di kampus tersebut. Tidak hanya itu, Rifqi juga mengaku mengetahui adanya peristiwa peletakan batu pertama sebagai peresmian pembangunan masjid. “Cuman sampai sekarang belum ada kabar lagi tentang masjidnya,” ungkapnya, (30/10).

Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Muhammad Fatahillah mengeluh kesulitan dalam mencari masjid di luar kampus ketika hendak Salat Jumat, apalagi cuacanya panas. Fatahillah juga mendukung adanya ruang serbaguna sebagai penunjang kegiatan mahasiswa yang membutuhkan ruang tambahan. “Karena di PPG itu cuma ada satu ruangan di Aula Lantai 2, dan itu dipakai sama empat jurusan sekaligus,” ujarnya, Rabu (1/11).

Tidak hanya Fatahillah, Mahasiswa Prodi PGMI, Chandra Puspita juga mengaku, sebagai perempuan juga sangat membutuhkan masjid di lingkungan kampusnya. “Perlu banget, walaupun dibilangnya lebih dibutuhin buat cowok, tapi saya yang mahasiswi juga butuh,” ujarnya, (30/10).

Sama halnya dengan salah satu Dosen Prodi PGMI Siti Masyithoh yang mengharapkan adanya masjid di Kampus PPG sebagai tempat yang juga mendukung kegiatan civitas academica. Ia juga mendukung keberadaan ruang serbaguna untuk dijadikan salah satu sumber pemasukan UIN Jakarta. “Aula juga bisa untuk disewakan, kemudian jadi pemasukan untuk UIN,” tuturnya, (30/10).

Reporter: IB

Editor: Shaumi Diah Chairani

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Suara Kebenaran dari Hak yang Terampas
Next post Lawan Disinformasi dengan Berpikir Kritis