Wacana Kenaikan Tarif Tj Bagi Mahasiswa 

Wacana Kenaikan Tarif Tj Bagi Mahasiswa 

Read Time:2 Minute, 21 Second
Wacana Kenaikan Tarif Tj Bagi Mahasiswa 

Rencana kenaikan tarif Transjakarta menuai respons beragam dari mahasiswa UIN Jakarta. Ada yang merasa keberatan karena menilai akan membebani masyarakat, sementara yang lain menganggap penyesuaian tarif wajar dilakukan setelah hampir dua dekade tidak berubah.


Sudah hampir dua puluh tahun Transjakarta mempertahankan tarif dengan nominal Rp3,5 ribu. Kini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta sedang mempertimbangkan kenaikan tarif transportasi umum itu. Kenaikan tarif berkisar antara Rp5 ribu sampai Rp7 ribu untuk setiap orangnya.

Pemicu kenaikan tarif Transjakarta karena berkurangnya dana bagi hasil (DBH) dari pemerintah pusat untuk Jakarta pada tahun depan. Selain itu, Gubernur Jakarta, Pramono Anung mengatakan beban subsidi yang ditanggung oleh Pemprov Jakarta cukup besar. Kamis (30/10) dilansir dari CNN Indonesia

Wacana tersebut memicu berbagai reaksi dari masyarakat, salah satunya datang dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta selaku pengguna Transjakarta. Terlebih, mereka yang mengandalkan Transjakarta sebagai kendaraan utama untuk pulang dan pergi ke kampus. 

“Sejujurnya aku kurang setuju, ya, karena pelayanan Transjakarta untuk saat ini masih kurang memuaskan untuk aku. Contohnya semisal aku pagi mau berangkat, Transjakarta tuh datangnya lumayan lama, sekalinya ada pun padat sekali di dalam Transjakarta,” ujar Nabila Zahra, mahasiswi semester tiga Program Studi (Prodi) Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Selasa (4/11).

Nabila juga merasa keberatan dengan kebijakan tersebut, melihat kondisi ekonomi masyarakat Indonesia sekarang ini, terutama warga Jakarta yang akan merasakan dampak langsung kenaikan tarif bus Transjakarta. Nabila berpendapat, ketimbang menaikan, sebaiknya pemerintah membuat kebijakan untuk menurunkan tarif tiket bus Transjakarta.

Sementara itu, Fatih Yusuf Anoraga, mahasiswa Prodi Jurnalistik semester satu menganggap akan banyak pihak yang mempermasalahkan wacana kenaikan tarif itu. Terutama warga Jakarta yang sudah menjadikan tarif lama sebagai patokan. Namun demikian, ia sendiri tidak terlalu keberatan karena merasa kualitas pelayanan dan fasilitas Transjakarta sudah cukup memuaskan.  

Fatih memilih Transjakarta sebagai transportasi ke kampus karena letak halte yang cukup dekat dengan kampus UIN Jakarta. Biasanya, dalam sehari ia menghabiskan ongkos sekitar Rp7 ribu untuk pulang dan pergi. “Karena kalau dari rumah saya, Transjakarta S22 satu rute dengan tol Pondok Pinang, jadi tidak perlu transit lagi dan tidak ribet kalau ke UIN,” tutur Fatih, Selasa (4/11).

Melihat fenomena itu, Yoghi Citra Pratama, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Jakarta menyebut wacana kenaikan tarif Transjakarta sebagai upaya memperbaiki layanan. Selain itu, ia juga melihat adanya penyesuaian tarif dengan beban operasional. “Ya, saya sudah mendengar adanya wacana untuk menaikkan tarif Transjakarta. Hal itu dilakukan untuk menjaga kesinambungan, karena memang selama 20 tahun tarifnya tidak naik,” ujarnya, Selasa (4/11).

Meski demikian, katanya, pemerintah juga harus memperhatikan daya beli masyarakat, dan jangan sampai masyarakat terbebani.

Yogi juga menyebut, akan ada pengaruh kenaikan tarif Transjakarta terhadap mahasiswa, meski tidak terlalu signifikan. Misalnya, mahasiswa akan beralih menggunakan kendaraan pribadi atau lain sebagainya. “Solusinya, pemerintah bisa menyediakan kartu kompensasi khusus untuk mahasiswa,” tuturnya.

Reporter: OS
Editor: Muhammad Arifin Ilham

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Kampus Tanpa Rokok Masih Menjadi Angan Previous post Kampus Tanpa Rokok Masih Menjadi Angan
Sepeda Listrik Memakan Korban Next post Sepeda Listrik Memakan Korban