
Merespons pelbagai masalah seperti, rupiah anjlok, kenaikan harga BBM, dan alokasi pemborosan APBN atas program KOPDES dan MBG, sejumlah kelompok mahasiswa UIN Jakarta menggelar diskusi dan konsolidasi guna membahas masalah itu.
Menanggapi isu persoalan melemahnya nilai tukar rupiah dengan dolar, kenaikan bahan bakar minyak (BBM), dan urgensi program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (KOPDES) di tengah keterbatasan fiskal Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), sejumlah komunitas mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan diskusi publik dan konsolidasi pada Kamis (11/6). Diskusi dan konsolidasi itu berlangsung di Lapangan Student Center UIN Jakarta dengan tema “Bola Liar Kebijakan Prabowo: Saat Rupiah Tertekan, BBM naik, dan Program Prioritas Dipertanyakan”.
Diskusi dan Konsolidasi itu menghadirkan pemantik dari komunitas Koneksi UIN Jakarta, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Jakarta, Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN Jakarta, Dewan Marjinal, dan Lingkar Studi Feminis (LSF).
Setelah diskusi publik, acara dilanjutkan dengan membahas tuntutan dari mahasiswa Universitas Indonesia (UI) untuk persiapan aksi pada Jumat (12/6). Adapun isi tuntutannya yaitu, stop pemborosan APBN, turunkan harga BBM dan kebutuhan pokok, hentikan program MBG dan pembangunan KOPDES, hentikan militerisme di ranah sipil, serta menuntut Prabowo berhenti mengelak dan akui kesalahan pemerintah.
Raffi, salah satu pemantik diskusi dari KBM UIN Jakarta, menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak terhadap harga bahan pokok sehingga dinilai akan menyulitkan masyarakat. “BBM dan harga bahan pokok itu dua variabel yang saling berkaitan, ketika harga BBM naik, maka harga bahan pokok secara tidak langsung akan mengalami kenaikan,” ujar Raffi.
Raffi menjelaskan diskusi publik dan konsolidasi bertujuan untuk memantik kesadaran mahasiswa UIN Jakarta agar memiliki kepekaan terhadap isu-isu negara. enurutnya perguruan tinggi masih bersifat eksklusif sehingga ia berharap mahasiswa dapat menjadi pergerakan dan dapat berkontribusi terhadap masyarakat.
“Tujuannya itu supaya kita bisa memantik kesadaran dulu. Kita lihat mahasiswa di UIN banyak, cuma yang concern terhadap isu-isu negara ini amat sedikit. Oleh karena itu, besar harapan kami orang-orang yang datang pada malam ini bisa menjadi suluh pergerakan kepada yang lainnya supaya bisa tercerahkan,” ujarnya.
Thora—bukan nama sebenarnya—mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyyah (FDI) yang menghadiri diskusi dan Konsolidasi menjelaskan ia merasa memiliki tanggung jawab sosial sebagai penyambung lidah masyarakat. Selain itu, Thora berharap konsolidasi ini membuahkan hasil, sekalipun manifestasi dari kebijakan tersebut harus berproses secara bertahap serta dapat menyadarkan rakyat dan mahasiswa terhadap isu-isu negara.
Reporter: AA
Editor: Rifki Kurniawan
