
Berangkat dari rendahnya tingkat literasi di Indonesia, Forum UKM UIN Jakarta menginisiasi talkshow membahas literasi sebagai bagian dari UIN Literacy Expo.
Forum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bersama berbagai komunitas dan penerbit menggelar UIN Literacy Expo dengan tema “Nalar dan Kata: Peran Literasi dalam Membangun Peradaban“. Kegiatan Tersebut berlangsung pada Senin (22/6) hingga Selasa (23/6) di Aula Student Center (SC) UIN Jakarta.
Pada hari pertama, kreator konten, Rian Fahardhi, menjadi salah satu pembicara utama dalam talkshow literasi bertajuk “Membangun Nalar Kritis sebagai Bentuk Tanggung Jawab Intelektual,’’. Rian dalam pemaparannya menyampaikan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan mengolah informasi menjadi pemahaman dan tindakan.
Selanjutnya, Rian menerangkan proses literasi perlu disertai rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengeksplorasi berbagai pengetahuan agar dapat membentuk kemampuan yang lebih luas. Ia menilai generasi muda tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga perlu mengubah pengetahuan tersebut menjadi keterampilan melalui praktik, seperti menulis, berbicara, dan memanfaatkan berbagai platform untuk menyampaikan gagasan.
“Knowledge itu bagus, karena membaca, memahami itu bagus. Tapi fase berikutnya adalah bagaimana pengetahuan itu menjadi sebuah skill,” ujarnya, Senin (22/6).
Lebih lanjut, Rian menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi seseorang dalam mengambil keputusan. Baginya, literasi membantu manusia memahami informasi, mengenali kondisi sekitar, serta menentukan langkah yang tepat. Ia berharap mahasiswa dapat terus memperluas wawasan, membangun kemampuan komunikasi, dan berani mendistribusikan gagasan agar dapat memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat.
Ketua Pelaksana UIN Literacy Expo, Albhi Sahdilah menjelaskan bahwa kegiatan itu dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Ia merujuk pada data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang menunjukkan minat baca dan tingkat literasi masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara lain.
“Kalau bisa dilihat dari data UNESCO, perbandingannya dari seribu orang Indonesia mungkin hanya satu orang yang memiliki tingkat literasi yang baik, jadi, perlu ada wadah kegiatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi,” ujarnya, Senin (22/6).
Lebih lanjut, Albhi menambahkan bahwa kegiatan tersebut menyasar generasi muda karena literasi merupakan fondasi penting dalam membentuk masyarakat yang berpengetahuan dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Albhi berharap materi yang disajikan dapat mendorong minat generasi muda untuk lebih aktif belajar dan mengembangkan wawasan.
“Dengan materi yang menarik, teman-teman juga jadi tertarik dan tergugah untuk sadar akan pentingnya literasi. Dari literasi itu, nalar generasi muda yang nantinya menopang Indonesia akan menjadi lebih baik dan lebih kritis,” katanya.
Salah satu peserta, Pooja Shabrina Zhafarin, mahasiswi Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST),merasa materi talkshow sangat relevan dengan peran yang sedang dijalaninya sebagai pemimpin organisasi. Pooja menyinggung untuk menjadi pemimpin yang baik, yaitu dengan sering membaca karena informasi yang diperoleh perlu diproses menjadi sebuah narasi, tindakan, dan keputusan yang baik.
“Karena ini merupakan suatu kegiatan yang bagus, apalagi bagi kalangan mahasiswa yang memerlukan banyak insight, terutama tentang literasi. Ini juga salah satu inisiasi program dari teman saya yang tergabung di Forum UKM, jadi sebagai teman tentu saya ingin mendukung dan meramaikan acaranya,” ujar Pooja, Selasa (22/6).
Reporter: Muhammad Firda Hasan, Naila Asyifa
Editor: Anggita Rahma Dinasih
