Bingo Prabowo: Kritik dalam Balutan Permainan

Bingo Prabowo: Kritik dalam Balutan Permainan

Read Time:2 Minute, 12 Second
Bingo Prabowo: Kritik dalam Balutan Permainan

 Melalui pertunjukan teater Bingo Prabowo, Komunitas Bosan Berbicara bersama UKM LDK Syahid FISIP UIN Jakarta menghadirkan pementasan interaktif yang mengajak penonton ikut terlibat sekaligus berpikir kritis. Teater tersebut dikemas dalam bentuk kritik yang disampaikan melalui sebuah permainan.


Komunitas Bosan Berbicara berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar pertunjukan teater bertajuk “Bingo Prabowo”. Pementasan yang disutradarai oleh Mus’ab Fathoni berlangsung di Teater Merah FISIP UIN Jakarta, Rabu (8/7).

Sutradara sekaligus penulis naskah, Mus’ab Fathoni menjelaskan, pertunjukan tersebut dibuat untuk menggambarkan berbagai peristiwa yang terjadi selama masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. “Kita melihat sebagai masyarakat, banyak sekali ketidakadilan yang terjadi dalam ranah hukum dan kebijakan. Maka dari itu, kita membuat rangkaian kecil dengan bentuk simbolis yang nyata, di mana kita menyuarakan suara-suara rakyat yang sampai saat ini belum didengar,” ujarnya, Rabu (8/7).

Mus’ab melanjutkan, tema Bingo Prabowo sendiri dipilih karena konsep pertunjukan dibuat interaktif, sehingga penonton dapat ikut terlibat selama pertunjukan. Penonton diberikan lembar permainan bingo yang diisi sesuai adegan yang ditampilkan. “Kita ingin menggunakan sesuatu yang unik. Maka dari itu, kita menggunakan kata ‘Bingo’ sebagai latar belakang,” jelasnya.

Melalui pementasan tersebut, Mus’ab berharap, penonton dapat sadar dan kritis terhadap berbagai persoalan yang saat ini terjadi di Indonesia. Mengingat masih banyak sejarah kelam maupun kebijakan yang dinilai belum tertata dengan baik. “Saya harap penonton yang hadir dalam teater hari ini dapat melihat dan juga menanggapi apa yang seharusnya mereka perbuat,” pungkasnya.

Selain pertunjukan teater, LDK Syahid FISIP juga menggelar pameran yang mengusung tema Aceh. Salah satu anggota LDK Syahid FISIP, Salsabila Anfang menjelaskan, pameran tersebut mengangkat empat tema besar, yaitu ketimpangan, kekerasan, ketidakadilan, dan pembungkaman. Menurutnya, pameran ini sangat berkaitan dengan respons pemerintah saat bencana terjadi di Aceh, yang saat itu tidak menetapkan peristiwa tersebut sebagai bencana nasional. “Jadi kita ingin membagikan lagi bahwa Aceh itu belum sembuh. Mereka itu masih tergopoh-gopoh, masih berusaha keras untuk memulihkan latar rumah mereka,” jelasnya, Rabu (8/7).

Shofiyah, mahasiswa Program Studi Sosiologi mengaku tertarik menonton pertunjukan teater tersebut karena sebagai bentuk kepeduliannya terhadap negara. “Mungkin tidak untuk turun ke lapangan, tapi dengan adanya aspirasi ekspresi dari mahasiswa seperti pementasan teater ini, aku anggap seperti suatu aksi aku secara tidak langsung,” ujar Shofiyah, Rabu (8/7).

Lebih lanjut, Shofiyah mengapresiasi pementasan tersebut karena dikemas dengan permainan yang membuat penonton lebih terlibat. Ia pun berharap, penonton bisa lebih peduli terhadap apa yang terjadi pada pemerintahan dan negara saat ini. “Jadi, untuk para mahasiswa jangan takut untuk protes walaupun tidak didengar, setidaknya kita sudah menyampaikan aspirasi kita,” pungkasnya.

Reporter: SJF
Editor: Naufal Fauzan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bela Kepentingan Rakyat Lewat Advokasi Previous post Bela Kepentingan Rakyat Lewat Advokasi