Save Street Child: Berbagi Kasih dengan Anak Marjinal

Read Time:2 Minute, 30 Second
(Dok. Pribadi)

Di Indonesia, tak semua anak dapat mengenyam pendidikan dengan layak. Berdasarkan data The United Children Fund (UNICEF) Indonesia sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak menikmati pendidikan yakni 600.000 anak usia sekolah dasar dan 1,9 juta anak usia sekolah menengah pertama.

Dari data tersebut, Save Street Child (SSC) ingin membuka mata masyarakat jika masih banyak anak marjinal yang kurang mendapatkan akses pendidikan. Kegiatan belajar serta kegiatan lain yang dilaksanakan SSC bertujuan membantu anak-anak marjinal agar mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya,” ucap Anniesa Fithriana, Ketua Divisi Humas SSC (23/6).

Awalnya, pendiri SSC, Shei Latiefah membentuk komunitas yang memiliki slogan “Mari Bergerak dan Menggerakkan” lantaran ia peduli  terhadap masa depan pendidikan anak-anak marjinal. Maka dari itu, wanita lulusan Universitas Paramadina ini mendirikan SSC pada 23 Mei 2011 silam dengan membetuk akun @savestreetchild di twitter.

Gerakan melalui akun twitter menjadi awal langkah SSC untuk membantu anak-anak marjinal. “Lewat akun twitter, kami mengajak orang-orang yang memiliki kepedulian sosial terhadap anak-anak marjinal untuk bergabung. Untuk itu, SSC lahir dan jadi wadah bagi kaum muda untuk berbagi,” ujar Septiana selaku Ketua SSC (23/6).

Septiana menambahkan, tiap-tiap kelas belajar di SSC dikelola tim pengajar yang berdomisili tak jauh dari kelas belajar tersebut. Jadi, lanjut Septiana, tidak memberatkan tim pengajar untuk menyesuaikan jam mengajar.“Setiap ada pengajar baru, akan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu dari SSC. Saat ini, total jumlah pengajar di SSC berjumlah kurang lebih 20 hingga 30 orang yang terdiri mahasiswa dan karyawan,” tambah Septiana (23/6)

Jika ingin bergabung dengan SSC, komunitas ini membuka lowongan menjadi pengajar relawan, donatur, atau supporter. Kehadiran supporter SSC berfungsi menyebarkan semangat berbagi kepada anak-anak marjinal di akun-akun media sosial mereka masing-masing.

Sementara itu, Anniesa menerangkan, di dalam kelas anak-anak marjinal belajar membaca, menulis dan menghitung. Tak hanya itu, mereka juga belajar keterampilan dan keahlian khusus seperti membuat pita, bando yang kemudian dijual untuk menambah penghasilan keluarga atau diri mereka sendiri.

Intensitas pertemuan dalam kelas belajar SSC dilaksanakan setiap satu minggu sekali. “Biasanya setiap kelas belajar berdurasi dua jam, namun bisa menyesuaikan antusias adik-adik SSC,”ujar Anniesa (23/6).

Anniesa menambahkan, SSC secara reguler juga mengajak anak-anak marjinal ikut serta dalam edutrip yang terselenggara secara serentak setiap empat bulan sekali secara gratis. Dalam kegiatan edutrip, anak-anak marjinal dapat belajar dengan suasana yang berbeda. Selain edutrip, SSC juga mengadakan, pentas seni, buka puasa bersama anak-anak marjinal, dan  menggalang dana untuk kegiatan belajar mengajar.

Saat ini SSC telah memiliki cabang yang tersebar di 17 kota di Indonesia di antaranya Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Jogjakarta, Medan, Makassar, Palembang, Padang, Batam, dan di beberapa kota lainnya. “Karena tersebar di 17 kota, SSC di tiap kota memiliki perbedaan karena manajemennya pun berbeda,” terang Anniesa (26/6).

Meski begitu, SSC di seluruh regional memiliki visi yang sama, yakni membantu anak-anak marginal untuk memiliki akses pendidikan. Lewat SSC, Anniesa berharap dapat memajukan pendidikan di Indonesia serta mempersiapkan anak-anak marginal agar menjadi generasi penerus yang baik.
KA

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Maraknya Baksos Saat Ramadhan
Next post Berantas Pelecehan Seksual di Indonesia