Strategi Milenial Melawan Isu Media Sosial

Read Time:2 Minute, 11 Second
Setiap ajang Pemilihan Umum (Pemilu) peran media turut berkontribusi dalam meramaikan momentum pemilu. Masih segar ingatan masyarakat Indonesia ketika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 yang lalu, di mana pelbagai media kerap kali menyebarkan berita hoax. Tak hanya itu, isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) sudah menadi bahan pembicaraan, baik media cetak mapun daring.
Hal ini diungkapkan Andy Budiman selaku founder Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK) dalam kegiatan Diskusi Publik Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut bertema Genarasi Milenial Kawal Pilkada Lewat Literasi Media. Acara ini diselenggarakan di Aula Student Center (SC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (7/11).
Menurut Andy, informasi di atas haruslah dipilah. Terlebih saat ini merupakan era generasi milenial yang akrab dengan teknologi. Mereka pun dituntut untuk menguasai isu-isu yang berkembang dengan pemahaman literasi media. “Dengan begitu berita hoax yang berkembang di masyarakat dapat diminimalisir penyebarannya,” ungkapnya, Selasa (7/11).
Tak hanya itu, Andy pun menyarankan agar generasi milenial, terutama mahasiswa, harus ikut berpartisipasi dalam dunia politik. Kasus yang terjadi di Amerika Serikat dan Inggris menjadi contoh Andy dalam menyadarkan peserta diskusi. “Minimal kalian harus ikut mencoblos para wakil rakyat dibanding tidak sama sekali,” tegasnya, Selasa (7/11).
Hal sama diungkapkan Editor Geotimes.co.id Cania Citta Irlanie. Ia menjelaskan, perjuangan anak-anak muda dapat dimulai dari kemunculan berpolitik, terutama di era digital. Generasi milenial harus menguasai media sosial sebagai wadah pertama dalam berpolitik. “Apapun bisa kalian lakukan di media sosial, mulai dari membuat status hingga terjun menjadi buzzer politik,” jelasnya, Selasa (7/11).
Walaupun demikian, isu SARA tetap menjadi konsumsi generasi milenial, terutama untuk mereka yang tinggal di perkotaan. Hal ini diungkapkan oleh Peneliti Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad. Ia memaparkan, mudahnya akses internet di perkotaan menjadi faktor berkembangnya isu SARA. “Kita bisa melihatnya pada kasus Pilkada DKI Jakarta 2017 yang menjadi demokrasi terburuk sepanjang sejarah Indonesia,” ujarnya, Selasa (7/11).
Ketua Pelaksana Muhammad Rifqi Ibnu Masy menghadirkan acara ini dengan tujuan menyadarkan generasi milenial untuk lebih peduli dengan isu yang beredar di media. Ia berharap, para peserta bisa memilah berita-berita yang beredar, terutama dalam bidang politik. “Isu politik, terutama SARA, akan banyak diberitakan media. Sebab 2018 dan 2019 Indonesia akan mengalami momentum politik besar-besaran,” katanya, Selasa (7/11).
Salah seorang peserta Mawar Fatmala turut mengapresiasi diskusi publik yang dihadirkan oleh LPM Institut. Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta ini mengatakan bahwa pemberitaan pilkada ataupun pilpres menjadi permasalahan utama di era media sosial. “Satelah acara ini, saya berharap generasi milenial lebih sadar dengan isu-isu politik tersebut,” ujarnya, Selasa (7/11).


HS

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Memar Gedung Baru
Next post Beda Haluan Tak Mengubur Impian