Bubarkan Upacara Tanpa Arahan Resmi

Bubarkan Upacara Tanpa Arahan Resmi

Read Time:1 Minute, 44 Second
Bubarkan Upacara Tanpa Arahan Resmi

Upacara pembukaan PBAK UIN Jakarta 2025 meninggalkan catatan kurang sempurna. Pasukan berdiri lama tanpa aba-aba pembubaran. 


Pada Selasa (26/08), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan acara pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025 di Lapangan Utama UIN Jakarta. Zulfikar Ali Musa, perwakilan Resimen Mahasiswa (Menwa) mengomandani upacara bendera yang dipimpin oleh Asep Saepudin Jahar selaku Rektor UIN Jakarta.

Namun, jalannya upacara meninggalkan catatan kurang sempurna. Upacara yang semestinya ditutup dengan pembubaran pasukan oleh komandan upacara Menwa justru berakhir tanpa aba-aba resmi dari pembawa acara PBAK. Akibatnya, pasukan tetap berdiri di lapangan meski rangkaian acara telah selesai.

Menurut kesaksian komandan upacara, Zulfikar menjelaskan, tidak ada instruksi dari pembawa acara untuk melaporkan selesainya upacara. “Seharusnya upacara diselesaikan terlebih dahulu baru dilanjutkan acara selanjutnya,” kata Zulfikar, Selasa (26/08).

Zulfikar menambahkan, dirinya bersama pasukan sudah cukup lama menunggu instruksi pembubaran. “Kami langsung memutuskan untuk menarik pasukan. Selesaikan itu secara spontan saja dan langsung komplain kepada panitia kok tidak ada penutupan upacara,” lanjutnya. 

Ketua Pelaksana PBAK UIN Jakarta, Adinda Salsabilla menjelaskan, tidak adanya instruksi pembubaran upacara disebabkan oleh rektor yang langsung meninggalkan lapangan upacara. “Perlu melihat juga kondisional pada lapangan meski melanggar apa yang sudah ada,” ungkap Dinda, Selasa (26/08).

Dinda juga mengakui adanya kelalaian dari panitia PBAK. Ia menambahkan, kurangnya komunikasi antara panitia dengan komandan upacara menjadi penyebab utama pasukan tidak segera dibubarkan sesuai prosedur. “Jujur saya mengakui adanya kesalahan tersebut karena tidak adanya komunikasi secara langsung karena komunikasi nya dibuka oleh tendik.” tambahnya. 

Menanggapi hal ini, Abel Zahran Rizqullah, Komandan Resimen Mahasiswa (Menwa), menegaskan bahwa upacara merupakan kegiatan formal dan sakral yang tidak boleh dianggap remeh. “Jika pemimpin upacara meninggalkan lapangan sebelum menutupnya, maka bisa digantikan dengan perwakilannya. Karena sekali lagi, upacara itu kegiatan formal dan sakral di hadapan bendera merah putih,” ungkap Abel, Selasa (26/08).

Abel juga menyarankan agar panitia lebih terbuka dalam berkomunikasi ketika menghadapi kondisi tak terduga. Menurutnya, koordinasi yang baik menjadi kunci agar jalannya acara tetap tertib dan sesuai prosedur meskipun menghadapi kendala di lapangan.

Reporter: Siti Fadhila Widya Arianti
Editor: Rizka Id’ha Nuraini

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Forum UKM Kritik SEMA–DEMA Previous post Forum UKM Kritik SEMA–DEMA
Penjualan Atribut PBAK Bikin Semrawut Next post Penjualan Atribut PBAK Bikin Semrawut